• MATA KULIAH
    • SEMESTER 1
      • Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan Islam
      • Dasar-Dasar Pendidikan Islam
      • Ilmu Alamiah Dasar
      • Pancasila dan Kewarganegaraan
      • Perilaku dan Budaya Organisasi
      • Psikologi Perkembangan
      • Sejarah Peradaban Islam
    • SEMESTER 2
      • Bahasa Indonesia
      • Inovasi Pendidikan Islam
      • Kepemimpinan Pendidikan Islam
      • Manajemen Pendidikan Islam
      • Manajemen SDM Pendidikan Islam
      • Teori Belajar dan Pembelajaran
    • SEMESTER 3
      • Administrasi Keuangan
      • Bahasa Inggris I
      • Filsafat Ilmu
      • Magang I
      • Manajemen Diklat
      • Manajemen Strategik
      • Statistika Pendidikan
      • Strategi Pembelajaran
      • Studi Fiqih
      • Supervisi Pendidikan Islam
    • SEMESTER 4
      • Aplikasi ICT
      • Bahasa Inggris II
      • Bimbingan Konseling
      • Manajemen HUMAS
      • Metodologi Penelitian Kependidikan
      • Pengembangan Kurikulum
      • Pengembangan Sumber dan Media Pembelajaran
      • Perencanaan Pembelajaran
      • Studi Al-Quran dan Hadits
      • Teosofi
    • SEMESTER 5
      • Akuntansi Sektor Pendidikan
      • Desain Komunikasi Visual
      • Evaluasi Pembelajaran
      • Magang II
      • Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran
      • Penelitian Tindakan Kelas
      • Perencanaan Pendidikan
      • Sistem Informasi Manajemen
      • Studi Kebijakan Pendidikan
  • DOWNLOAD
    • EBOOKS
      • SMP/MTs
      • SMA/MA
      • PT
    • MAKALAH
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
      • Semester 5
    • NOVEL
    • PPT
  • TEKNOLOGI
  • LAINNYA
    • SEMINAR
    • WORKSHOP
    • KULIAH TAMU
    • PENELITIAN

POHON ILMU

SEJARAH PERADABAN ISLAM

MANAJEMEN UMAR BIN KHATHAB

Tuesday, September 26, 2017 0 Fitri Handayani
UMAR BIN KHATHAB
KEHIDUPAN MASA KECIL DAN REMAJA
Umar bin Khathab adalah putra dari Nufail al-Quraisy dari Suku Bani Adi, salah satu suku kabilah Suku Quraisy. Ibunya adalah Hantamah binti Hasyim bin Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makzum. Umar bin Khathab nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail keturunan Abdul Uzza Al Quraisy dari suku Adi (salah satu suku yang terpandang mulia). Umar dilahirkan di Makkah empat tahun sebelum kelahiran Nabi. Di masa kecilnya, Umar bin Khathab biasa main-main dengan Khalid bin Walid. Kedua orang ini adalah saudara sepupu.
Sesudah Umar beranjak remaja ia bekerja sebagai gembala unta ayahnya di Dajnan atau di tempat lain di pinggiran kota Mekah. Menggembalakan unta sudah merupakan kebiasaan di kalangan anak-anak Quraisy betapapun tingkat kedudukan mereka.
Beranjak dari masa remaja ke masa pemuda sosok tubuh Umar tampak berkembang lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya, lebih tinggi dan lebih besar. Ketika Auf bin Malik melihat orang banyak berdiri sama tinggi, hanya ada seorang yang tingginya jauh melebihi yang lain sehingga sangat mencolok. Bilamana ia menanyakan siapa orang itu, dijawab: “Dia Umar bin Khattab.”[1]
Wajahnya putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki yang lebar sehingga jalannya cepat sekali. Sejak mudanya ia memang sudah mahir dalam berbagai olahraga: olahraga gulat dan menunggang kuda. Diantara berbagai macam olahraga, naik kuda itulah yang paling disukainya sepanjang hidupnya.
Di samping kemahirannya dalam olahraga berkuda, adu gulat dan berbagai olahraga lain, apresiasinya terhadap puisi juga tinggi dan suka mengutipnya. la suka mendengarkan para penyair membaca puisi di Ukaz dan di tempat-tempat lain.
Umar adalah seorang yang berbudi luhur, cerdas, tegas, fasih, adil dan pemberani. Bekal keberanian dan latihan sejak kecil, maka di usia remaja Umar bin Khathab telah disegani oleh teman sebaya, khususnya dalam memutar lidah. Dengan melihat keberanian, ketabahan, dan semangat yang ada pada diri Umar, maka oleh ayahnya Umar dimasukkan ke pendidikan kemiliteran. Disinilah Umar bin Khathab rajin mempelajari taktik tempur dan siasat-siasatnya. Di kalangan bangsa Arab, semenjak remaja telah dikenal seorang yang berjiwa pahlawan, jago siasat, taktik perang, pemberani, tegas, dan jago diplomasi.
UMAR MASUK ISLAM
Pada masa jahiliah, Umar bin Khathab gemar sekali minuman keras dan perempuan. Selain itu, Umar gigih dalam membela agama nenek moyangnya. Ia dan Abu Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) merupakan tokoh Quraisy yang sangat ditakuti oleh kaum muslimin, karena kekejaman dan permusuhannya terhadap agama Islam.
Begitu bahayanya Umar bin Khathab dan Abu Jahal, sehingga Rasulullah pernah berdoa kepada Allah agar salah satu dari keduanya masuk Islam. “Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abu Hakam bin Hisyam atau Umar bin Khathab.”[2], demikian doa Nabi. Doa Nabi terkabul dengan masuknya Umar bin Khathab ke dalam agama Islam.
Umar masuk Islam setelah mendengar adiknya Fathimah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran yang membuat dia merasa gentar dan tak berdaya. “Sungguh ayat-ayat yang dibaca Fathimah suatu kalam Ilahi yang tak bisa aku pungkiri lagi. Aku bersaksi dengan sepenuh hati, bahwa tidak ada Tuhan yang pentas disembah melainkan Allah; dan sesungguhnya Muhammad adalah utusany-Nya.”[3] Itulah bisikan hati Umar bin Khathab semenjak mendengar kalamullah, ayat-ayat Al Quran.
Setelah mendengar ayat-ayat suci Al Quran Umar Bin Khathab menghadap Rosulullah saw untuk menyatakan ke-Islamannya ditemani adik iparnya yang bernama Sa’ad bin Zabid.
Umar masuk Islam pada tahun kelima setelah kenabian, dan menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi serta dijadikan sebagai tempat rujukan oleh Nabi mengenai hal-hal yang penting. Ia dapat memecahkan masalah yang rumit tentang siapa yang berhak mengganti Rasulullah dalam memimpin umat setelah wafatnya Rasulullah dengan memilih dan membaiat Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah sehingga ia mendapat penghormatan yang tinggi dan dimintai nasihatnya serta menjadi tangan kanan khalifah yang baru itu.
Sejak ke-Islaman Umar, Rasulullah saw. dan kaum muslimin tidak perlu beribadah dan berdakwah secara sembunyi-sembunyi lagi. Bahkan, di saat kaum muslimin melakukan hijrah secara diam-diam, Umar bin Khathab melakukannya secara terbuka. Ketika ada orang kafir Qurais yang berusaha menghalanginya, ia mengucapkan kata-kata yang sangat terkenal, “Ketahuilah, besok saya akan hijrah meninggalkan Kota Mekah. Barang siapa yang anaknya ingin menjadi yatim atau istrinya ingin menjadi janda, silakan menghalangi saya.”[4]
PROSES PENGANGKATAN DAN GAYA KEPEMIMPINAN UMAR BIN KHATHAB
Pada tahun 634 M, ketika rombongan kaum Muslimin sedang berdakwah menuju Syam, Abu Bakar jatuh sakit. Pada saat Khalifah Abu Bakar merasa dekat dengan ajalnya, ia menunjuk Umar untuk menggantikannya. Rupanya masa dua tahun bagi khalifah Abu Bakar belumlah cukup menjamin stabilitas keamanan terkendali, maka penunjukkan ini dimaksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam. Ketika Umar telah menjadi khalifah, ia berkata kepada umatnya: “Orang-orang Arab seperti halnya seekor unta yang keras kepala dan ini akan bertalian dengan pengendara di mana jalan yang akan dilalui, dengan nama Allah, begitulah aku akan menunjukkan kepada kamu ke jalan yang harus engkau lalui.”[5]
Meskipun peristiwa diangkatnya Umar sebagai khalifah itu merupakan fenomena yang baru, tetapi haruslah dicatat bahwa proses peralihan kepemimpinan tetap dalam bentuk musyawarah, yaitu berupa usulan atau rekomendasi dari Abu Bakar yang diserahkan kepada persetujuan umat Islam. Untuk menjajagi pendapat umum, khalifah Abu Bakar melakukan serangkaian konsultasi terlebih dahulu dengan beberapa orang sahabat, antara lain Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Asid bin Hudhair al-Ansari, Said bin Zaid, dan sahabat lain dari golongan Muhajirin dan Ansar untuk diminta penilaian dan pertimbangan. Para sahabat tersebut akhirnya menyetujui. Pada awalnya terdapat berbagai keberatan mengenai rencana pengangkatan Umar, sahabat Thalhah misalnya, segera menemui Abu Bakar untuk menyampaikan rasa kecewanya. Namun, karena Umar adalah orang yang paling tepat untuk menduduki kursi kekhalifahan, maka pengangkatan Umar mendapat persetujuan dan baiat dari semua anggota masyarakat Islam.
Pada tahun 634 M (13 H) kaum Muslimin membaiat Umar bin Khathab sebagai khalifah. Umar bin Khathab dibaiat setelah jenazah Abu Bakar dikebumikan. Setelah dibaiat Umar naik ke mimbar dan berpidato:
“Wahai manusia, aku telah ditetapkan berkuasa atas kamu. Namun penting dalam menangani urusanmu, aku tidak akan menerima amanat darimu. Cukuplah suka dan duka bagi Umar menunggu perhitungan untuk memberikan pertanggungjawaban mengenai zakatmu, bagaimana aku menariknya darimu dan bagaimana aku menyalurkannya dan caraku memerintah kamu, bagaimana aku harus memerintah. Hanya Tuhanku yang menjadi penolongku, karena Umar tidak akan dapat menyandarkan pada kekuasaan ataupun strategi yangcerdas, kecuali jika Tuhan mempercepat rahmat, pertolongan, dan dukungan kepada orang yang didukung-Nya.[6]
Umar menyebut dirinya khalifah Khalifati Rosulillah (Pengganti dari Pengganti Rosulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-mu;minin (Komandan orang-orang yang beriman).[7] Ia memerintah selama 10 tahun 6 bukan, yaitu dari 13 H/634 M – 23 H/644 M.
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMERINTAHAN UMAR BIN KHATHAB
Perluasan Wilayah
Meskipun pengembangan dakwah Islam dan perluasan wilayah sudah dilakukan sejak masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq, para ahli sejarah menyatakan bahwa imperium Islam sesungguhnya berdiri pada masa Khalifah umar bin Khathab. Pada masa itu, perluasan Islam terjadi secara besar-besaran dan dikenal sebagai periode Futuhat al-Islamiyyah. Secara berturut-turut, pasukan Islam berhasil menguasai Suriah, Persia, dan Mesir. Pada waktu ini, Suriah merupakan pusat perdagangan yang penting, oleh karena itu, Umar bin Khathab berusaha merebutnya mati-matian. wilayah Suriah memiliki beberapa kota yang menjadi pusat kekuatan Romawi Timur (Bizantium) yang beragama Kristen. Beberapa kota tersebut adalah Damaskus, Yordania, Yerussalem, Hims, dan Antiokia.
Pengepungan Damaskus telah dimulai sejak zaman Khalifah Abu Bakar as-Siddiq. Pasukan Islam dipimpin oleh Khalid bin walid. Penduduk Damaskus bertahan di dalam benteng. Mereka sangat mengharapkan bantuan Heraklius dari Hims. Akan tetapi, bantuan yang diharapkan tidak pernah datang. Dengan memanfaatkan kesempatan itu, Khalid bin walid disertai beberapa perwira yang gagah berani menaiki benteng dan turun membuka pintu gerbang. Pasukan Islam segera masuk. Kota Damaskus dengan mudah ditakiukkan. Akan tetapi, perampasan tidak diperbolehkan. Selanjutnya, kota-kota lain di Suriah juga dapat dikuasai kaum muslimin.
Selama kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq telah terjadi peperang antara kaum muslimin dan tentara persia. Ketika itu, Kekaisaran Persia merupakan kekuatan besar cli dunia selain Kekaisaran Bizanriun. Mereka juga dikenal sebagai Dinasti Sasania. Kekaisaran ini merniliki beberapa kerajaan bawahan. Di antaranya adalah Kerajaan Gassan dan Kerajaan Hirah di wilayah Irak. Pada masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq terjadi Perang Hafir yang menyebabkan Kerajaan Gassan dan Kerajaan Hirah jatuh ketangan kaum muslimin. Ketika itu, pasukan muslim dipimpin oleh Khalid bin Walid. Karena adanya sesuatu yang mendesak, Khalid bin Walid diperintahkan berangkat menuju Suriah oleh Abu Bakar as-Siddiq. Kepemimpinan di Irak kemudian dipegang oleh Musanria bin Harisah.
Kepergian Khalid bin Walid dimanfaatkan oleh orang-orang Persia. Mereka menyerang pasukan Musanna bin Harisah. Terjadilah Perang Jembatan pada tanggal 26 November 634 M. Dari 9.000 orang, pasukan muslim hanya tersisa 3.000 orang. Keadaan ini sangat menggusarkan Khalifah Umar bin Khathab. Beliau memerintahkan serangan balasan dan mengoordinasikan pasukan muslim. Bala bantuan didatangkan untuk membantu Musanna bin Harisah. Pasukan Persia dipimpin oleh Mehran. Musanna bin Harisah gugur, tetapi kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran ini. Perluasan wilayah ke Mesirdilakukan kaummuslimin di bawah pimpinan Amru bin As. Sebelum masuk Islam, Amru bin As telah berulang kali mengikuti kafllah dagang ke Mesir. Oleh karena itu, ia mengetahui betul seluk beluk dan kondisi Mesir. Atas perintah Khalifah Umar bin Khathab berangkatlah 4.000 pasukan Islam ke Mesir. Sebelum berangkat, Khalifah Umar bin Khathab menyampaikan pesan, “Berangkatlah dan mudah-mudahan keberhasilan menyer-taimu. Apabila kamu menerima surat dariku sebelum sampai di Mesir, kembalilah.”[8] Amru bin As mencapai perbatasan Mesir pada bulan Desember 639 M. Mula-mula, ia merebut Kota al-Farama di Mesir Timur. Ia kemudian sampai ke benteng Babilon yang termasyhur. Tempat ini merupakan pusat kekuatan Kekaisaran Bizantium yang besar. Setelah bertempur beberapa lamanya,  kaum muslimin berhasil menguasai benteng ini serta wilayah-wilayah Mesir lainnya. Kemenangan-kemenangan umat Islam menjadikan wilayah Islam pada masa Khalifah Umar bin Khathab meluas hingga Afrika Utara, Armenia, dan sebagian wilayah Eropa Timur. Untuk memudahkan jalannya pemerintahan, Khalifah Umar bin Khathab membagi wilayah Islam menjadi beberapa provinsi serta menunjuk seorang gubernur untuk memerintah wilayah tersebut. Misalnya, Sa'ad bin Abi Waqqas memerintah di Kufah, Amru bin As di Mesir, dan Mu'awiyah bin Abu Sufyan di Damaskus.
Menata Administrasi dan Keuangan Pemerintahan
Pada masa pemerintahannya, Khalifah Umar bin Khathab membentuk Baitul Mal dan Dewan Perang. Baitul Mal bertugas mengurusi keuangan negara. Keluar masuknya keuangan, baik di pusat maupun di provinsi-provinsi diawasi dengan ketat. Adapun Dewan Perang bertugas mencatat administrasi ketentaraan.
Khalifah Umar bin Khathab memilih orang jujur untuk bertugas di Baitul Mal. Para pegawai pemerintahan dan tentara digaji dari Baitul Mal dengan disesuaikan kedudukannya. Boleh dikatakan, Khalifah Umar bin Khathab adalah khalifah yang pertama kali memperkenalkan sistem penggajian bagi pegawai pemerintah.
Selain itu, Khalifah Umar bin Khathab juga memberikan santunan dari Baitul Mal kepada seluruh rakyatnya. Besarnya santunan disesuaikan lamanya mereka memeluk Islam. Pada masa Khalifah Umar bin Khathab, kemakmuran dapat dinikmati rakyat dari seluruh pelosok negeri.
Mengeluarkan undang-undang
Di antara jasa dan peninggalan Umar bin Khattab adalah menertibkan pemerintahan dengan mengeluarkan undang-undang. Beliau mengeluarkan kebijakan-kebijakan peraturan perundangan mengenai ketertiban pasar, ukuran dalam jual beli, mengatur kebersihan jalan, dan lain-lain.
Membagi wilayah pemerintahan.
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dilakukan pembagian wilayah pemerintahan, yaitu pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah. Khalifah bertindak sebagai pemimpin pemerintahan pusat. Sedangkan di daerah dipegang oleh para gubernur yang membantu tugas pemerintahan khalifah.
Membentuk dewan
Khalifah Umar bin Khattab juga membentuk beberapa dewan, diantaranya dewan perbendaharaan negara dan dewan militer.
Khalifah juga membentuk utusan kehakiman, di mana hakim yang terkenal pada waktu itu adalah Ali bin Abi Thalib dan Minadz bin Jabal.
Penetapan Kalender Hijriah
Tahukah kamu bahwa sistem kalender Hijriah saat ini diceruskan oleh Khalifah Umar bin Khathab? Sebelum sistem kalender Hijriah ditetapkan, orang-orang menggunakan sistem kalender Masehi. Sistem itu banyak digunakan orang-orang Nasrani. Agar berbeda dengan orang Nasrani, kaum muslimin juga berkeinginan untuk mem-punyai sistem kalender sendiri. Sebagian kaum muslimin mengusul-kan agar kalender tahunan Islam dimulai sejak Nabi Muhammad saw. diangkat menjadi rasul. Sebagian lainnya mengusulkan agat tahun Islam dimulai pada saat Nabi Muhammad saw lahir.
Khalifah Umar bin Khathab menetapkan permulaan tahun Islam adalah pada saat Nabi Muhammad saw hijrah dari Mekah ke Madinah. Hal itu disebabkan hijrah merupakan titik balik kemenangan Islam. Hijrah juga menandai dua periode dakwah Islam. periode dakwah sebelum Nabi Muhammad saw. hijrah disebut periode Mekah, sedangkan periode dakwah setelah beliau hijrah dikenal sebabagai periode Madinah. Demikian pula pembagian surah-surah Al-Quran. Surah-surah Al-Qur'an yang turun sebelum hijrah disebut surah-surah Makkiyah, sedangkan surah-surah Al-Qur'an yang turun setelah hijrah disebut surah Madaniyah.
Menetapkan Prinsip Keadilan
            Demi mencari keadilan yang hakiki, keadilan yang harus ditegakkan dan  dirasakan oleh stiap rakyat, maka Umar bin Khathab memberi kebebasan kepada seluruh rakyat untuk menghadap kepadanya, kapan saja dan dalam keadaan yang seperti apa. Boleh jadi rakyat kecil menyetopnya di tengah jalan. Inipun tidak menyebabkan Umar marah atau tersinggung, malah diterimanya dengan segala senang hati. Umar  bin Khathab menyadari dan sadar, bahwa dirinya adalah milik rakyat, yang setiap waktu dibutuhkan harus melayaninya dengan baik. Di samping itu, rakyat kecil diberi pula kesempatan dan kebebasan menanyakan langsung kepada khalifah tentang sesuatu hal ataupun masalah. Apabila di antara mereka menyampaikan kritik kepada pemerintah ataupun kepada pribadi Umar, senantiasa diterima dengan baik dan dihargai. Dalam anggapan Umar bin Khathab, khalifah adalah manusia biasa yang tak lepas dari segala noda salah dan dosa, sehingga dirinya selalu menerima kritikan, apalagi kritik itu menunjuk langsung kesalahannya, demi meningkatkan pengabdian kepada mereka.
            Pendirian Umar bin Khathab senantiasa menjunjung tinggi dan menghormati hak orang lain serta pendapat-pendapat dari luar, sekalipun pendapat itu bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Oleh karena sifat-sifat diataslah, maka kesuksesan dicapai oleh Umar bin Khathab di dalam mengemudikan kepemerintahan, sehingga seluruh rakyat merasa dilindungi oleh pemerintah serta keadilan yang menjamin keselamatan mereka. Oleh karena menguasai daerah kekuasaan yang luas, maka khaiifah selalu berusaha untuk bekerja melebihi jam-jam kantor yang resmi. Tugas-tugas zuci, seperti mengatur pertempuran dan lain  sebagainya, dilakukannya dengan baik, penuh keadilan, kejujuran dan penuh ketelitian, sehingga kesemuanya dapat berjalan dengan baik.
DETIK-DETIK TERAKHIR KEHIDUPAN UMAR BIN KHATHAB
            Khalifah Umar bin Khathab meninggal dunia karena ditikam oleh Abu Lu’luah saat menjadi imam salat Subuh. Abu Lu’luah adalah seorang budak dari Persia yang tidak rela dikalahkan oleh Islam. Dia mempunyai dendam pribadi kepada Khalifah Umar bin Khathab. Menjelang wafatnya khalifah Umar bin Khathab membentuk dewan yang akan mencari penggatinya. Dewan tersebut beranggotakan enam orang sahabat yang saat ini dianggap paling tinggi tingkatannya. Keenam anggota dewan itu adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqas. Sebenarnya, saat itu ada tujuh orang yang pantas diajukan sebagai calon pengganti. Orang yang ketujuh itu adalah Abdullah bin Umar, yaitu putra Khalifah Umar bin Khathab. Akan tetapi Umar tidak menginginkan Abdullah bin Umar terpilih menjadi khalifah karena hal itu dapat menimbulkan anggapan bahwa ia mewariskan kekhalifahan kepada putranya.
Dewan tersebut diberi tugas memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi khalifah. Ketua dewan di pegang oleh Abdurrahman bin Auf. Pemilihan dilakukan dengan cara musyawarah untuk mufakat dan mencari suara terbanyak. Jika terjadi suara yang seimangan, keputusan diserahkan kepada Abdullah bin Umar sebagai hakimnya.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. AMZAH : Jakarta
Darsono, Ibrahim. 2009. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 1. PT Tiga Serangkai Tiga Pustaka Mandiri : Solo
Hadi, Nur. 2012. Sejarah Kebudayaan Islam. Erlangga : Jakarta
Haekal, Muhammad Husain. 2002. Umar bin Khatab. PT. Pustaka Litera AntarNusa : Bogor
Mahali, Mudjab. 1984. Biografi Sahabat Nabi saw. BPFE : Yogyakarta
Yatim, Badri. 2013. Sejarah Peradaban Islam. PT RAJAGRAFINDO PERSANA: Jakarta


[1] Haekal, Muhammad Husain. Umar bin Khatab. (Bogor PT. Pustaka Litera AntarNusa, 2002). 12
[2] Hadi, Nur. Sejarah Kebudayaan Islam. (Jakarta : Erlangga, 2012), 41
[3] Mahali, Mudjab. Biografi Sahabat Nabi saw. (Yogyakarta : BPFE). 1984
[4] Darsono, Ibrahim. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 1. (Solo : PT Tiga Serangkai Tiga Pustaka Mandiri 2009). 48
[5] Amin, Samsul Munir. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta : AMZAH). 2009
[6] Hadi, Nur. Sejarah Kebudayaan Islam. (Jakarta : Erlangga, 2012), 42
[7] Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. (Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSANA, 2013). 37
[8] Darsono, Ibrahim. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 1. (Solo : PT Tiga Serangkai Tiga Pustaka Mandiri 2009). 50
Tags: SEJARAH PERADABAN ISLAM
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook Share to Pinterest
Fitri Handayani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

Next
Newer Post
Previous
Older Post

You may also like

No comments :

Leave a Reply

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments ( Atom )
  • Popular
  • Comments

Popular Posts

  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
    STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN Kebijakan publik adalah segala peraturan dan tindakan pemerintah yang disusun serta dilaksanakan untuk ke...
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
    PENGEMBANGAN KURIKULUM Sebenarnya yang berkembang adalah diri yang menjadi sasaran kurikulum SDM adalah ruh Kurikulum = menu Definis...
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH)
    PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH) Perencanaan ( Planning ) -> ada persiapan Keinginan -           Tidak ada persiapan ...
  • STUDI FIQIH
    Studi Fiqih Fiqih -           Furu’ (cabang) -           Pendapat (berubah-ubah). Contoh: aneka ragam macam sholat. -           Agar...
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
    SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ·          Informasi lebih penting dari pada sistem. Jika sudah mendapat informasi tidak perlu sistem. Sist...
  • METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
    METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN Metodologi Metodologi berasal dari Bahasa Yunani “metodos” dan “logos” terdiri dari dua suku kata, ya...

About Me

Fitri Handayani
View my complete profile

Labels

ADMINISTRASI KEUANGAN ( 1 ) AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK ( 1 ) APLIKASI ICT ( 1 ) BAHASA INDONESIA ( 1 ) BAHASA INGGRIS I ( 1 ) BAHASA INGGRIS II ( 1 ) BIMBINGAN DAN KONSELING ( 1 ) DASAR-DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM ( 5 ) DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM ( 3 ) DESAIN KOMUNIKASI VISUAL ( 1 ) DONWLOAD NOVEL ( 3 ) DOWNLOAD ( 11 ) DOWNLOAD EBOOKS ( 3 ) DOWNLOAD MAKALAH ( 5 ) EVALUASI PEMBELAJARAN ( 1 ) FILSAFAT ILMU ( 1 ) ILMU ALAMIAH DASAR ( 1 ) INOVASI PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MAGANG I ( 1 ) MAGANG II ( 1 ) MANAJAJEMEN DIKLAT ( 1 ) MANAJEMEN HUMAS ( 1 ) MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN ( 1 ) MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MANAJEMEN SDM PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MANAJEMEN STRATEGIK ( 1 ) MATA KULIAH ( 5 ) METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN ( 1 ) PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN ( 6 ) PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( 2 ) PENGEMBANGAN KURIKULUM ( 1 ) PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN ( 1 ) PERENCANAAN PEMBELAJARAN ( 1 ) PERENCANAAN PENDIDIKAN ( 1 ) PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI ( 3 ) PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ( 1 ) SEJARAH PERADABAN ISLAM ( 3 ) SEMINAR NASIONAL ( 1 ) SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ( 1 ) STATISTIKA PENDIDIKAN ( 1 ) STRATEGI PEMBELAJARAN ( 1 ) STUDI FIQIH ( 1 ) STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN ( 1 ) STUDY AL-QURAN DAN HADITS ( 1 ) SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) TEKNOLOGI ( 1 ) TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ( 1 ) TEOSOFI ( 1 ) TIPS & TRIKS ( 1 )

Instagram

  • Home

Labels

  • ADMINISTRASI KEUANGAN
  • AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
  • APLIKASI ICT
  • BAHASA INDONESIA
  • BAHASA INGGRIS I
  • BAHASA INGGRIS II
  • BIMBINGAN DAN KONSELING
  • DASAR-DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
  • DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM
  • DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
  • DONWLOAD NOVEL
  • DOWNLOAD
  • DOWNLOAD EBOOKS
  • DOWNLOAD MAKALAH
  • EVALUASI PEMBELAJARAN
  • FILSAFAT ILMU
  • ILMU ALAMIAH DASAR
  • INOVASI PENDIDIKAN ISLAM
  • KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM
  • MAGANG I
  • MAGANG II
  • MANAJAJEMEN DIKLAT
  • MANAJEMEN HUMAS
  • MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
  • MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
  • MANAJEMEN SDM PENDIDIKAN ISLAM
  • MANAJEMEN STRATEGIK
  • MATA KULIAH
  • METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
  • PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
  • PENELITIAN TINDAKAN KELAS
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
  • PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
  • PERENCANAAN PEMBELAJARAN
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN
  • PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI
  • PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
  • SEJARAH PERADABAN ISLAM
  • SEMINAR NASIONAL
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
  • STATISTIKA PENDIDIKAN
  • STRATEGI PEMBELAJARAN
  • STUDI FIQIH
  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
  • STUDY AL-QURAN DAN HADITS
  • SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM
  • TEKNOLOGI
  • TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
  • TEOSOFI
  • TIPS & TRIKS

Popular Posts

  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
    STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN Kebijakan publik adalah segala peraturan dan tindakan pemerintah yang disusun serta dilaksanakan untuk ke...
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
    PENGEMBANGAN KURIKULUM Sebenarnya yang berkembang adalah diri yang menjadi sasaran kurikulum SDM adalah ruh Kurikulum = menu Definis...
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH)
    PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH) Perencanaan ( Planning ) -> ada persiapan Keinginan -           Tidak ada persiapan ...
  • STUDI FIQIH
    Studi Fiqih Fiqih -           Furu’ (cabang) -           Pendapat (berubah-ubah). Contoh: aneka ragam macam sholat. -           Agar...

Blog Archive

  • ►  2018 ( 9 )
    • ►  February ( 9 )
  • ▼  2017 ( 68 )
    • ►  November ( 12 )
    • ►  October ( 54 )
    • ▼  September ( 2 )
      • MANAJEMEN UMAR BIN KHATHAB
      • SEJARAH PERADABAN ISLAM

Copyright ©

Blogger Templates
POHON ILMU . All Rights Reserved.