• MATA KULIAH
    • SEMESTER 1
      • Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan Islam
      • Dasar-Dasar Pendidikan Islam
      • Ilmu Alamiah Dasar
      • Pancasila dan Kewarganegaraan
      • Perilaku dan Budaya Organisasi
      • Psikologi Perkembangan
      • Sejarah Peradaban Islam
    • SEMESTER 2
      • Bahasa Indonesia
      • Inovasi Pendidikan Islam
      • Kepemimpinan Pendidikan Islam
      • Manajemen Pendidikan Islam
      • Manajemen SDM Pendidikan Islam
      • Teori Belajar dan Pembelajaran
    • SEMESTER 3
      • Administrasi Keuangan
      • Bahasa Inggris I
      • Filsafat Ilmu
      • Magang I
      • Manajemen Diklat
      • Manajemen Strategik
      • Statistika Pendidikan
      • Strategi Pembelajaran
      • Studi Fiqih
      • Supervisi Pendidikan Islam
    • SEMESTER 4
      • Aplikasi ICT
      • Bahasa Inggris II
      • Bimbingan Konseling
      • Manajemen HUMAS
      • Metodologi Penelitian Kependidikan
      • Pengembangan Kurikulum
      • Pengembangan Sumber dan Media Pembelajaran
      • Perencanaan Pembelajaran
      • Studi Al-Quran dan Hadits
      • Teosofi
    • SEMESTER 5
      • Akuntansi Sektor Pendidikan
      • Desain Komunikasi Visual
      • Evaluasi Pembelajaran
      • Magang II
      • Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran
      • Penelitian Tindakan Kelas
      • Perencanaan Pendidikan
      • Sistem Informasi Manajemen
      • Studi Kebijakan Pendidikan
  • DOWNLOAD
    • EBOOKS
      • SMP/MTs
      • SMA/MA
      • PT
    • MAKALAH
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
      • Semester 5
    • NOVEL
    • PPT
  • TEKNOLOGI
  • LAINNYA
    • SEMINAR
    • WORKSHOP
    • KULIAH TAMU
    • PENELITIAN

POHON ILMU

TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Monday, October 9, 2017 0 Fitri Handayani


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Landasan teori merupakan sebuah dasar teori yang digunakan untuk meneliti sebuah objek penelitian. Perbincangan tentang teori telah lama berlangsung, terutama setelah filosof Perancis Rene Descartes (abad ke-16) menyatakan bahwa teori dibangun dari keragu-raguan. Ia terkenal dengan motonya”cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Ragukan segala sesuatu, pikirkan, coba pahami, bandingkan, dan berakhir dengan teori. Terlihat sekali bahwa paham rasionalisme  yang diawali dengan skeptisisme, seperti yang dikembangkan filosof Yunani, Aristoteles. masih mewarnai pemikiran Rene Descartes. Pandangan ini telah memperkuat metode deduktif.
Kemudian  Prancis Bacon di Inggris melahirkan metode induktif yang berlawanan arah dengan dedukdik. Ragukan segala sesuatu, tetapi jangan hanya dipikirkan, lakukan percobaan, eksperimen, buktikan kebenarannya, jika salah maka ulangi sampai mendapatkan hasil yang benar, cek kebenarannya, buat suatu simpulan umum tentang hal itu, lalu bangun teori.
Metode deduktif sekaligus induktif kemudian berevolusi menjadi metode ilmiah yang landasannya pemikiran reflektif, penerapan deduktif dan induktif secara bergiliran untuk menemukan kebenaran ilmiah. Setelah melalui berabad-abad evaluasi pemikiran hal ini di Amerika Serikat melahirkan filsafat pragmatisme yang di pelopori oleh Charles S. Prierce, Wiliam James dan diterapkan secara nyata oleh ahli pendidikan John Dewey pada awal abad ke-XX. Sesuai pendapat Dewey, dengan landasan eksperimentasi, teori yang awalnya dari keraguan harus dibuktikan kebenarannya, jika benar dan sudah layak menjadi teori, maka jangan diragukan lagi kebenarannya. Perkembangan filsafah dalam dunia iIlam, nampak nyata setelah umat Islam-bangsa arab muslim pada masa itu berkomunikasi dengan dunia sekitarnya, berhubungan dengan peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa yang didudukinya serta menerima pengaruh dari padanya. Perkembangan filsafat kemudian dipercepat oleh kaum muslimin dengan adanya usaha penerjemahan berbagai macam buku ilmu pengetahuan, terutama filsafah Yunani ke dalam bahasa Arab.

B.  Rumusan Masalah
1.       Apa makna dari teori?
2.       Bagaimana hakikat universal dari belajar?
3.       Apa peran filsafat pendidikan dalam teori pengembangan teori belajar?
4.       Bagaimana Filsafat dalam Islam?

C.  Tujuan
1.      Mengetahui makna dari teori
2.      Mengetahui hakikat universal dari belajar
3.      Mengetahui peran filsafat pendidikan dalam teori pengembangan teori belajar
4.      Mengetahui Filsafat dalam Islam


BAB II

PEMBAHASAN

1.        Makna Teori
Secara ringkas Dorin, Demmin and Gabel dan juga Smith menyatakan bahwa karakteristik teori adalah sebagai berikut (i) teori adalah sebuah penjelasan umum tentang berbagai pengamatan yang dibuat seiring dengan berjalannya waktu, (ii) teori menjelaskan dan meramalkan timbulnya perilaku, (iii), suatu teori tidak dapat dibangun di atas keragu-raguan, (iv) suatu teori dapat diubah, dimodifikasi. Kerlinger menyatakan bahwa teori adalah suatu himpunan dari konstruk-konstruk (konsep-konsep), definisi-definisi dan proposisi-proposisi yang saling berkaitan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis tentang suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antara variabel, dengan tujuan menjelaskan fenomena tensebut. Oxford Advanced Leamer’s Dictionanry mengungkap beberapa makna teori, antara lain: suatu teori adalah suatu himpunan gagasan yang masuk akal dan bertujuan untuk menjelaskan fakta-fakta atau kejadian-kejadian, juga dinyatakan bahwa; suatu teori adalah pernyataan tentang prinsip-prinsip yang berlaku bagi subjek bahasan tertentu (Suyono dan Hariyanto, 2014: 27).
Teori adalah suatu penjelasan tentang hubungan antara dua atau lebih konsep, atau variabel, yang berupa sekumpulan hukum, gagasan, prinsip dan teknik-teknik tentang subjek tertentu. Teori tidak bersifat kekal, karena dapat diubah jika ada bukti baru yang bersifat menyangkal teori itu. Dalam konsep pembelajaran, Bruner membedakan antara teori pembelajaran, (instructional theory) dan teori belajar, (learning theory). Dalam hal ini pembelajaran semakna dengan pengajaran. Menurut Bruner teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Dikatakan preskriptif, karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan dikatakan sebagai deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar. Teori pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana seseorang (guru) memengaruhi orang lain agar terjadi poses belajar. Teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variabel-variabel yang dispesifikasi dalam teori belajar agar memudahkan belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel yang menentukan hasil belajar. Teori ini menekankan kepada bagaimana seharusnya seseorang belajar. Reigeluth mengembangkan teori Bruner ini dengan menyatakan bahwa sifat perskiptif dan deskriptif ini dimiliki baik oleh teori pembelajaran maupun teori belajar bergantung kepada tujuan atau proposisi yang dipergunakan (Suyono dan Hariyanto, 2014: 28).
2.        Hakikat Universal dari Belajar
Dalam kaitan ini UNESCO sesuai laporannya yang diberi judul Learning: The Treasure Within (1996) menyampaikan adanya sejumlah tantangan kontroversial yang harus dihadapi dengan cara menyeimbangkan berbagai tekanan (tension), yaitu tekanan antara tuntutan: global dengan lokal, universal dengan individual, pertimbangan jangka panjang dan jangka pendek, tradisional dengan modem, antara tuntutan spiritual dengan kebutuhan material, dan sebagainya. Tantangan yang bersifat universal ini juga harus dihadapi secara universal pula. Dalam dunia pembelajaran, untuk menghadapi dan beradaptasi dengan berbagai tantangan itu, UNESCO memberikan resep berupa apa yang disebut empat pilar belajar, (four pillars of education/learning), yaitu: belajar untuk mengetahui learning to know, belajar untuk bekerja, (learning to do), belajar untuk hidup berdampingan dan berkembang bersama, (learning to live together), dan belajar untuk menjadi manusia seutuhnya, learning to be. Learning to be ini yang diharapkan menjadi sasaran akhir proses pembelajaran. Secara ringkas kita bahas empat pilar itu di bawah ini (Suyono dan Hariyanto, 2014: 28-29).
1)            Learning to Know
Belajar untuk mengetahui, (learning to know), berkaitan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan pengetahuan. Belajar untuk mengetahui oleh UNESCO dipahami sebagai cara dan tujuan dari eksistensi manusia. Hal ini sesuai dengan penegasan Jacques Delors (1966) sebagai ketua komisi penyusun laporan Learning: the Treasure Within, yang menyatakan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai cara, (means) dan pengetahuan sebagai hasil atau tujuan, (end). Sebagai cara hidup, terkait keniscayaan bahwa manusia memang wajib memahami dunia di sekelilingnya, minimal sesuai dengan pemenuhan kebutuhannya untuk menjadi makhluk yang berkehormatan dan memiliki percaya diri, mengembangkan keterampilan okupasionalnya, serta berkomunikasi dengan yang lain. Dari segi tujuan, belajar untuk mengetahui bertujuan untuk memberikan kepuasan karena perolehan pemahaman, pengetahuan, dan kepuasan melalui penemuan-penemuan secara mandiri (Suyono dan Hariyanto, 2014: 29-30).
2)            Learning to Do
Konsep learning to do ini terkait dengan pertanyaan pokok, bagaimana kita mengadaptasikan pendidikan sehingga mampu membekali siswa bekerja untuk mengisi berbagai jenis lowongan pekerjaan di masa depan? Dalam hal ini pendidikan diharapkan mampu menyiapkan siswa berkaitan dengan dua hal. Pertama berhubungan dengan ekonomi industri, di mana para pekerja memperoleh upah dari pekerjaannya. Kedua, yaitu suatu usaha yang kita kenal sebagai wira usaha, para lulusan  sekolah menyiapkan jenis pekerjaannya sendiri dan menggaji dirinya sendiri (self employment), dalam semangat entrepreneurship.  Suatu hal yang patut dicatat dan diimplikasikan dengan baik dalam kurikulum pembelajaran di sekolah, sejak paruh kedua abad ke-20 yang lalu telah ada pergeseran besar dalam dunia industri. Jika dulu lebih berfokus kepada pekerjaan fisik di lingkungan manufaktur, maka saat justru yang banyak berkembang yaitu layanan jasa. Pekerjaan ini semakin dibutuhkan dengan berkembang pesatnya teknologi komunikasi dan informasi, terutama dengan makin pesatnya Automatisasi sehingga kebutuhan pekerjaan yang "tidak tampak" (intangible) makin menjamur. Belajar untuk bekerja learning to do adalah belajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja (Suyono dan Hariyanto, 2014: 31).
3)            Learning to Live Together
Belajar untuk hidup bersama, (learning to live together), mengisyaratkan keniscayaan interaksi berbagai kelompok dan golongan dalam kehidupan global yang dirasakan semakin menyempit akibat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Komunikasi antar manusia di antara kedua belahan dunia kini sudah dalam hitungan detik. Agar dapat berinteraksi, berkomunikasi, saling berbagi, bekerja sama dan hidup bersama, saling menghargai dalam kesetaraan, sejak kecil anak-anak sudah harus dilatih, dibiasakan hidup berdampingan bersama. Anak-anak harus banyak belajar dari hidup bersama secara damai, apalagi di alam Indonesia yang multikultur, dan multi kini sehingga mereka biasa bersosialisasi sejak awal {being sociable) (Suyono dan Hariyanto, 2014: 32).
4)            Learning to be
Belajar untuk menjadi manusia yang utuh (learning to be), mengharuskan tujuan belajar dirancang dan diimplementasikan sedemikian rupa, sehingga pembelajar menjadi manusia yang utuh, paripurna. Manusia yang utuh adalah manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek ketakwaan terhadap Tuhan, intelektual, emosi, sosial fisik maupun moral. Seimbang dalam kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritualnya. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan individu-individu yang banyak belajar dalam mengembangkan sejumlah aspek kepribadiannya. Dalam kaitan itu mereka harus berusaha banyak meraih keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dan ditunjang oleh moral yang kuat (being morality). Moral yang kuat yang wajib ditunjang oleh keimanan inilah yang diharapkan mampu memandu pembelajar untuk belajar menghargai orang lain, toleran terhadap hak-hak orang lain dan memahami bahwa hidup bersama dengan berbagai jenis ras, suku, warna kulit, bahasa, tradisi dan budaya merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Pembelajar secara ringkasnya harus mampu menemukan orang lain (to discover other people), sebagai bagian dari dirinya sendiri. Ikatan antar manusia semacam ini akan lebih diperkuat jika sejak kecil anak sudah dibiasakan, dilatih, dihadapkan kepada situasi, bahwa manusia di seluruh dunia ini harusnya memang menuju ke tujuan umum bersama (toward the common goals), yaitu tercapainya kondisi dunia yang sejahtera, aman, adil, makmur dalam kesetaraan dan saling menghormati (Suyono dan Hariyanto, 2014: 33).
3.        Peran Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Teori Belajar
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philos dan sophia yang berarti cinta kebijaksanaan atau belajar. Lebih dari itu, dapat diartikan cinta belajar pada umumnya hanya ada dalam filsafat. Untuk alasan tersebut, maka sering dikatakan filsafat merupakan induk atau ratu ilmu pengetahuan (Djumransjah, 2016: 4).
Filsafat ialah upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami, dan menyelami secara radikal, integral, dan sistematik mengenai ketuhanan, alam manusia, dan manusia. Sehingga, dapat menghasilkan pengetahuan tentang hakikatnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan yang diinginkan (Djumransjah, 2016: 9).
Filsafat pendidikan merupakan cabang dari ilmu filsafat, filsafat pendidikan adalah ilmu yang membahas teori, praktik, dan masalah-masalah pendidikan dari sudut pandangan filosofis. pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan (Hasanah S.N, Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Ilmu Pendidikan, http://hasanahsn.blogspot.co.id/ 2015/01/peranan-filsafat-pendidikan-dalam.html, diakses Selasa, 27 Januari 2015).
Filsafat pendidikan adalah terapan dari filsafat umum yang dilaksanakan dalam pandangan dan kaidah bidang pendidikan yang berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, masyarakat, dan dunia, menentukan tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam lapangan pendidikan (Elce Pulwandari, Aliran-aliran Filsafat Pendidikan, http://purwandarielce.blogspot.co.id/2014/02/aliran-aliran-filsafat-pendidikan.html, diakses Rabu, 05 Februari 2014).
Filsafat pendidikan berkembang sejak keperluan atas pendidikan sendiri berkembang, kebutuhan semacam ini dirasakan menguat sejak zaman Yunani kuno. Tidak heran jika kita bicara tentang filsafat pendidikan muncul nama-nama seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Banyak sekali mazhab atau aliran tentang filsafat pendidikan yang berkembang, tetapi dari sekian banyak aliran itu hanya aliran behaviorisme yang secara utuh menyajikan sekaligus teori belajar, teori behaviorisme. Sementara itu, kebanyakan teori belajar yang lain muncul karena menerapkan gagasan dasar, basic ideas, dari beberapa atau sejumlah filsafat pendidikan. Misalnya teori belajar konstruksivisme berkembang sebagai implementasi gagasan dasar dari filsafat pragmatisme rekonstruksionisme sosial. Filsafat pragmatisme kemudian berkembang menjadi filsafat fiogresivisme (Suyono dan Hariyanto, 2014: 36).
Dalam konteks bagaimana pembelajaran dilakukan, secara historis filsafat pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu filsafat pendidikan yang berasumsi guru sebagai pusat pembelajaran (teacher-centered philosophies) dan filsafat pendidikan yang berasumsi siswa sebagai pusat pembelajaran (student-centered philosophies). Teacher-centered philosophies dikatakan cenderung lebih otoriter dan konservatif, dan menekankan pengembangan nilai-nilai dan pengetahuan yang telah hadir sejak dulu sampai sekarang. Aliran pokok dari filsafat yang berpusat kepada guru, yaitu esensialisme dan perenialisme. Student-centered philosophies lebih berfokus kepada kebutuhan pembelajar, kontemporer dan relevan, serta menyiapkan siswa untuk perubahan di masa depan. Sekolah dipandang sebagai suatu lembaga yang bekerja dengan kaum muda untuk membangun dan memperbaiki masyarakat atau membantu para siswa menyadari tanggung jawab individual mereka di masyarakat. Aliran pokok dari paham ini adalah progresivisme, rekonstruksionisme sosial, dan eksistensialisme. Dalam paham ini siswa dan guru bekerja sama untuk menentukan apa saja yang harus dipelajari dan bagaimana cara terbaik untuk mempelajarinya (Suyono dan Hariyanto, 2014: 37-38).
Selanjutnya secara ringkas akan kita bicarakan aliran-aliran pokok tersebut serta keterkaitannya dengan pendidikan maupun pembelajaran, sebagai berikut.
a.       Pragmatisme
Istilah pragmatisme berasal dari perkataan "pragma" artinya praktik atau aku berbuat. Maksudnya bahwa makna segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dilakukan.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce dalam bukunya How to Make Our Idea Clear (1878). Tokoh-tokoh lain dalam aliran ini adalah William James, John Dewey elan George Herbert Meat, tetapi yang dikenal sebagai bapak pragmatisme justru John Dewey, karena publikasi-publikasinya yang luas. Pragmatisme sesungguhnya berupaya menjadi penengah antara aliran idealisme yang dikembangkan oleh Plato dengan aliran realisme yang dikembangkan oleh Aristoteles dengan cara menggabungkan hal-hal yang bermanfaat dari kedua aliran tersebut. Model memilah dan memilih hal-hal yang bermanfaat dari setiap aliran filsafat pendidikan semacam ini kemudian menjadi model yang dipilih oleh banyak negara di dalam prakrik pendidikan. Pragmatisme berkeyakinan bahwa pengetahuan yang diperoleh siswa hendaknya dimanfaatkan untuk memahami persoalan yang berkembang di masyarakat. Hasil pembelajaran digunakan dalam menetapkan tindakan apa yang dapat dilahirkan untuk kebaikan, kemajuan dan perkembangan masyarakat dunia. Dalam menilai gagasan, ide-ide dan teori, yang penting adalah dapat atau tidaknya gagasan itu dilaksanakan sehingga membuahkan hasil yang positif. Inilah esensi pragmatisme. Oleh sebab itu, dalam kaitan ini, pembelajaran harus dilaksanakan dalam konteks kebutuhan masyarakat dengan memilih isu-isu di masyarakat yang berkaitan dengan pokok bahasan di dalam kelas (kontekstual) (Suyono dan Hariyanto, 2014: 39-40).
Power (dalam Uyoh, 2011: 133) mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Pragmatisme sebagai berikut:
1)      Tujuan pendidikan
Memberi pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi.
2)      Kedudukan siswa
Suatu organisme yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh.
3)      Peranan guru
Mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa, tanpa mengganggu minat dan kebutuhannya.
4)      Kurikulum
Berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. Minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum.Menghilangkan perbedaan antara pendidikan liberal dengan pendidikan praktis atau pendidikan jabatan.
5)      Metode
Metode aktif, yaitu Learning by doing (belajar sambil bekerja)
b.      Progresivisme
Aliran Progresivisme ini merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang berkembang pesat pada permulaan abad ke XX dan sangat berpengaruh dalam pembaruan pendidikan (Djumransjah, 2006: 175).
Aliran progresivisme berkembang dari pragmatisme, kata kunci dari aliran ini yaitu progresif, yang maknanya maju. Aliran progresivisme dinamai juga instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intergensi manusia adalah alat untuk hidup, untuk mencapai kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Aliran ini dinamakan eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen yang merupakan cara untuk menguji kebenaran suatu teori. Selanjutnya juga dinamakan enviromentalisme karena aliran ini berkeyakinan bahwa lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian. Progesivisme berpendapat bahwa selalu berubah sesuai mengajar siswa tentang kebenaran bersifat relatif. Karena pengetahuan selalu berubah sesuai dengan pengembangan IPTEKS maka kita harus mengajar siswa tentang bagaimana cara berfikir, how we think, dari pada apa yang harus dipikirkan (what we think). Progresuvusme terutama sekali dibangun oleh kepercayaan bahwa bahan ajar harus relevan dengan kebutuhan siswa agar mereka mau belajar. Kurikulum, menurut aliran ini, harus dibangun dari pengamatan pribadi, minat, dan kebutuhan para siswa. Aliran ini amat popular di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Amerika Serikat (Suyono dan Hariyanto, 2014: 42-43).
c.       Eksistensialisme
Filsafat ini dibangun oleh kepercayaan yang kuat terhadap kemauan bebas (free will) manusia, dan kebutuhan setiap individu untuk membentuk masa depannya sendiri. Aliran ini mencoba membebaskan manusia dari tradisi masa lalu. Perhatian pokoknya adalah tentang apa yang harus dilakukan terkait eksistensi sebagai makhluk manusia di dunia. Isu tentang kebebasan dan pilihan merupakan hal yang krusial dan penting dalam eksistensialisme. Menurut aliran ini, sifat realitas yaitu subjektif dan bergantung kepada individu-individu. Di luar eksistensi manusia, dunia fisik tidak memiliki makna yang inheren. Pilihan individu dan standar individual bersifat sentral. Eksistensi datang lebih dulu ketimbang berbagai definisi tentang siapa sebenarnya kita, makhluk manusia itu. Kita akan mendefinisikan siapa diri kita dalam hubungan dengan eksistensi kita melalui pilihan-pilihan yang dibuat (Suyono dan Hariyanto. 2014: 44-45).
Eksistensialisme itu unik yakni memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subyektivitas pengalaman manusia, dan tindakan kongkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas.
Power (dalam Uyoh, 2011: 140) mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Eksistensialisme sebagai berikut:
1)     Tujuan pendidikan
Memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan
2)     Status siswa
Makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas pilihannya. Suatu komitmen terhadap pemenuhan tujuan pribadi.
3)     Peranan guru
Melindungi dan memelihara kebebasan akademik, di mana mungkin guru pada hari ini, besok lusa mungkin menjadi murid.
4)     Kurikulum
Yang diutamakan adalah kurikulum liberal. Kurikulum liberal merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Kebebasan memiliki aturan-aturan. Oleh karena itu, di sekolah diajarkan pendidikan sosial, untuk mengajar "respek" (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua. Respek terhadap kebebasan bagi yang lain adalah esensial. Kebebasan dapat menimbulkan konflik.
5)   Metode
Belajar tergantung pada pengalaman, baik langsung atau tidak langsung. Metode penyampaian harus logis dan psikologis. Metode Conditioning (SR) merupakan metode utama bagi realisme sebagai pengikut behaviorisme.
d.      Perenialisme
Perenialisme berasal dari kata perennial diartikan sebagai lasting for a very long time abadi atau kekal dan dapat berarti pula tiada akhir. Dengan demikian, esensi kepercayaan filsafat Perennial ialah berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat abadi (Djumransjah, 2006: 185-186).
Filsafat ini berfokus kepada adannya kebenaran universal yang telah teruji bersama berlalunya waktu, dari masa ke masa. Hal ini sesuai dengan arti pokoknya, perenial; hal-hal yang ada sepanjang rnasa. Dengan demikian tujuan pokok dari pendidikan adalah mengkaji nilai-nilai luhur kemanusiaan dan pengetahuan yang abadi. Para filosof aliran ini merekomendasikan agar para siswa belajar dari banyak membaca karya-karya agung dari para pemikir dan penulis besar sepanjang perjalanan sejarah manusia. Dengan cara ini mereka akan menghargai pembelajaran. Kelas para pereniailis berpusat kepada guru untuk dapat mencapai tujuan pendidikan (teacher-centered) (Suyono dan Hariyanto, 2014: 46).
e.       Esensialisme
Esensialisme berpandangan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk melaksanakan pewarisan dan revitalisasi budaya serta inti, esensi, pengetahuan kepada generasi muda. Filsafat ini berfokus kepada pembelajaran tentang esensi pokok atau dasar-dasar pengetahuan akademik, keterampilan-keterampilan, dan pengembangan karakter. para esensialis berpandangan bahwa guru harus mengajarkan nilai-nilai moral dan kebajikan tradisional seperti tradisi menghargai para penguasa (otoritas), para sesepuh (orang yang dituakan), belajar untuk mengembangkan ketangguhan dan keuletan, keterikatan kepada tugas-tugas mulia, menghargai orang lain, pengetahuan-pengetahuan praktis dan intelektual yang akan membekalinya sebagai warga negara yang baik Kurikulum dibangun atas disiplin-disiplin tradisional seperti matematika, ilmu alamiah, sejarah, bahasa asing, dan sastra. Aliran ini tidak setuju terhadap perlunya pengembangan keterampilan vokasional di sekolah. Dalam sekolah-sekolah berpaham esensialisme, pembelajaran diwajibkan menguasai informasi dan teknik-teknik dasar di kelas tertentu sebelum mereka naik kelas yang lebih tinggi. Konten kurikulum berkembang bertahap makin lama makin kompleks, makin sulit dipahami dan makin rinci. Esensialisrne berpaham teacher-oriented, tanggung jawab sepenuhnya kepada guru (Suyono dan Hariyanto, 2014: 47).
Power (dalam Uyoh, 2011: 165) mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Esensialisme sebagai berikut:
1)     Tujuan pendidikan
Transmisi kebudayaan untuk menentukan solidaritas social dan kesejahteraan umum
2)     Kedudukan siswa
Sekolah bertanggung jawab atas pemberian pengajaran yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa. Siswa belajar ke sekolah untuk belajar, bukan untuk mengatur pelajaran.
3)   Peranan guru
Guru harus terdidik. Secara moral ia merupakan orang yang dapat dipercaya, dan secara teknis harus memiliki kemahiran dalam mengarahkan proses belajar.
4)   Kurikulum
Di pendidikan dasar berupa membaca, menulis, berhitung. Keterampilan berkomunikasi adalah esensial untuk mencapai prestasi skolastik dan hidup sosial yang layak. Kurikulum sekolah berisikan apa yang harus diajarkan.
5)        Metode
Metode tradisional, menekankan pada inisiatif guru.
f.       Rekonstruksfronisme
Rekonstruksionalisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasari atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada pada saat sekarang ini.
Power (dalam Uyoh, 2011: 171) mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Rekonstruksionalisme sebagai berikut:
1)      Tema
Pendidikan merupakan usaha sosial. Misi sekolah adalah untuk meningkatkan rekonstruksi sosial.
2)      Tujuan pendidikan
Pendidikan bertanggung jawab dalam menciptakan aturan sosial yang ideal. Transmisi budaya adalah budaya esensial dalam masyarakat yang majemuk. Transmisi budaya harus mengenal fakta budaya yang majemuk tersebut.
3)      Kedudukan siswa
Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial ditingkatkan, manakala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya.
4)      Peranan guru
Guru harus menunjukkan rasa hormat yang sejati (ikhlas) terhadap semua budaya, baik dalam memberi pelajaran maupun dalam hal lainnya. Pelajaran sekolah harus mewakili budaya masyarakat.
5)      Kurikulum
Kurikulum sekolah tidak boleh didominasi oleh budaya mayoritas maupun oleh budaya yang ditentukan atau disukai. Semua budaya dan nilai-nilai yang berhubungan berhak untuk mendapatkan tempat dalam kurikulum.
6)      Metode
Sebagai kelanjutan dari pendidikan progresif, metode aktivitas dibenarkan (Learning by doing)
Di samping berbagai aliran filsafat yang dikemukakan di atas ada pendekatan lain dalam menggolongkan aliran filsafat yang terkait dengan konsep pendidikan. Pendekatan tersebut menggolongkan filsafat pendidikan menjadi nativisme, naturalisme, empirisme dan konvergensi. Penjelasan ringkasnya untuk masing-masing adalah sebagai berikut:
a.       Navisme
Natvisme berasal dari kata nativus atau native yang artinya terlahir atau pembawaan sejak lahir. Merupakan sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh terhadap kajian psikologi maupun pendidikan. Pandangan ini berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sejak lahir (hereditas). Tokohnya yang terkenal yaitu Arthur Schopenhouer, seorang filsuf Jerman. Menurut aliran ini setiap anak sejak lahir telah memiliki sifat-sifat dasar tertentu yang disebut pembawaan, dan terdiri dari pembawaan yang baik dan pembawaan yang buruk. Sifat bawaan ini tidak dapat di ubah oleh pengalaman, lingkungan dan pendidikan, dengan demikian hasil akhir pendidikan dipengaruhi atau ditentukan oleh sifat bawaan itu. Jadi,  jika sejak lahir seorang anak memiliki sifat pembawaan yang buruk, maka seumur hidup ia akan menjadi orang berwatak buruk, sebaliknya jika ia memang berpembawaan baik, maka sampai mati pun ia tetap menjadi orang baik. Aliran pendidikan yang berpandangan sesuai doktrin filsafat ini disebut dengan pedagogik pesimistis, karena pesimis terhadap manfaat pendidikan (Suyono dan Hariyanto, 2014: 50).
b.      Naturalisme
Naturalisme berasal dari kata natura (latin) atau nature (Inggis) yang artinya alam atau kodrat. Seperti diungkap di atas, pelopornya, yaitu Jean-Jacques Rousseau. Aliran ini berpendapat bahwa setiap anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik, dan tidak seorang pun lahir dengan pembawaan yang buruk. Namun,  pembawaan baik itu, akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan atau kebudayaan manusia itu sendiri. Rousseau bahkan berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan oleh orang dewasa dapat merusak pembawaan anak yang baik itu. Pandangan naturalisme tidak memandang pentingnya pendidikan, sehingga alian irti juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidikan wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam,  atau dengan kata lain tidak diperlukan campur tangan pendidikan. Rousseau dengan gigih mengajak agar kembali alam yang baik itu, dengan menjauhkan anak dari lingkungan kebudayaan. Rousseau mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya, kemampuan-kemampuannya, dan kecenderungan-kecenderungannya. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberikan kebebasan kepada anak untuk berkembang menurut kodrat dan alamnya yang baik itu (Suyono dan Hariyanto, 2014: 50-51).
c.       Empirisme
Empirisme berasal dari kata empiria atau pengalaman, tokohnya adalah John Locke (Inggris). Paham empirisme bertentangan dengan paham nativisme dan berpandangan bahwa anak sejak lahir belum memiliki sifat pembawaan apa pun, anak yang baru lahir bagaikan kertas yang putih bersih, tabula rasa. Dengan demikian, di atas kertas putih itu orang dapat membuat coretan-coretan menurut kehendaknya. Melalui kontak dengan lingkungan anak-anak mendapatkan empirik pengalaman empirik semacam inilah yang membentuk anak di masa depan. Oleh sebab itu pendidikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga anak-anak dapat memperoleh pengalaman yang berguna dari alam lingkungannya. Program-program pendidikan harus menciptakan pengalaman belajar yang diperlukan anak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dalam hal ini dipersepsikan bahwa seorang pendidik akan mampu membentuk anak-anak menjadi apa saja, apakah menjadi seorang pelaut, pekerja bengkel, guru, pengacara, tentara, petani yang andal atau seorang sarjana. Karena besarnya optimisme terhadap peranan pendidikan dalam pandangan aliran ini, maka aliran ini disebut pula sebagai pedagogik optimis.
d.      Konvergensi
Pandangan ini memadukan antara pandangan nativisme dan empirisme. Tokohnya yaitu William Stern (Jerman). Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan intelekrualitas anak tidak hanya dilihat dari faktor pembawaan atau lingkungan saja tetapi perpaduan antara keduanya, sinergisme antara faktor internal nature, natur (faktor dasar) alami, dan faktor eksternal nuture, nurtur (faktor ajar, bimbingan) pengalaman. Wiliiam Stern berpendapat bahwa saat lahir anak sudah dibekali baik pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan penting. Bakat yang bersifat hereditas, dibawa saat lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya lingkungan-lingkungan yang sesuai. sebaliknya, lingkungan  yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal jika memang anak tidak rnemiliki bakat yang baik yang diperlukan bagi perkembangannya. Berdasarkan pandangan ini, William Stern mengambil suatu simpulan bahwa hasil pendidikan itu bergantung kepada pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang bergerak menuju suatu titik pertemuan, suatu konvergensi (Suyono dan Hariyanto, 2014: 51-52).
Menurut teori konvergensi dapat disimpulkan bahwa;
1)      berlainan dengan pandangan naturalisme, pendidikan layak untuk dilaksanakan;
2)      pendidikan dimaknai sebagai pertolongan yang diberikan oleh lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah perkembangan potensi yang kurang baik/buruk;
3)      lingkungan dan pembawaan, kedua-duanya dapat membatasi hasil pendidikan.
Aliran ini berbeda dengan aliran-aliran sebelumnya, telah diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Implementasi aliran ini dalam pembelajaran telah melahirkan berbagai teori belajar dan pembelajaran antara lain, meliputi: (1) teori belajar berlandaskan behaviorisme dengan pengembangannya seperti teori belajar tuntas, pengajaran berprogram, belajar asertif, sistern modul, pembelajaran berbasis bantuan komputer, dan lain-lain, (2) teori belajar berdasarkan proses pengolahan informasi, model mengajar inkuiri, model pengembangan berpikir, pembelajaran bermakna dengan advanced organizer, dan lain-lain (Suyono dan Hariyanto, 2014: 52-53).
5.        Filsafat Islam
Perkembangan filsafah dalam dunia Islam, nampak nyata setelah umat Islam-bangsa arab muslim pada masa itu berkomunikasi dengan dunia sekitarnya, berhubungan dengan peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa yang didudukinya serta menerima pengaruh dari padanya. Perkembang filsafat kemudian dipercepat oleh kaum muslimin dengan adanya usaha penerjemahan berbagai macam buku ilmu pengetahuan, terutama filsafah Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebelum masuknya istilah filsafah dan filosof dalam dunia Islam, yang telah mengenal istilah “al hikmah” dan usaha untuk mencari al hikmah, yang mempunyai pengertian dasar yang sama dengan filsafat. Al Hakim, yang berarti orang yang memiliki al hikmah disebut juga sebagai filosof.
Musthofah `Abd al Raziq dalam bukunya “Tamhid li Tarikh al Falsafah al Islamiyah”, menjelaskan bahwa dalam kepustakaan Arab (Islam), istilah “al hikmah dan al hakim” dengan istilah “filsafat dan filosof”, dipakai secara bergantian untuk menyatakan pengertian filsafah dan filosof dalam Islam. Bahkan Aristoteles yang dianggap sebagai bapak filsafah Yunani, disebut juga sebagai “al hakim”. Pengertian yang sama juga dikemukakan oleh Omar Mohammad al Touny al Syaibany dalam bukunya Falsafah pendidikan islam, bahwa pengertian bebas pada kata “falsafah” pada bahasa asalnya, Yunani kuno adalah cinta akan hikmah. Takrif ini berterusan digunakan orang sampai-sampai juga pada falsafah Islam.
Islam datang dengan membawa Al-Qur`an sebagai sumber dan dasarnya. Al-Qur`an juga disebut sebagai Al Hakim, berarti bahwa Al-Qur`an merupakan sumber dan perwujudan al hikmah atau filsafah dalam Islam. Allah memberikan al hikmah kepada mereka yang menghendaki dan berusaha mencarinya, dan barang siapa yang memperoleh al hikmah, berarti telah memperoleh kebajikan dan kebijaksanaan yang banyak, tetapi hanya orang-orang yang berakal sajalah yang mampu berusaha mencari hikmah tersebut (berfilsafah).
Firman ALLAH SWT
يؤ تي ا الحكمة من يشاء ومن يؤ ت ا لحكمة فقد او تي خيرا كثيرا  وما يذ كر الا او لوا الالبا ب          
Artinya :
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki–Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal” (Q S. Al Baqarah 269).

Dengan demikian usaha mencari al hikmah, menurut ajaran Islam, hanya mungkin dikerjakan dengan menggunakan akal pikiran. Usaha mencari al-hikmah, kebajikan dan kebijaksanaan dengan menggunakan akal pikiran adalah merupakan pengertian dasar dari filsafah. Jadi Filsafah dan kegiatan berfilsafah sudah ada dan dikerjakan dalam dunia Islam, sebelum istilah filsafah masuk ke dalamnya. Dan Al- Qur`an merupakan sumbernya, baik secara material maupun secara formal. (Zuhairini, 1995: 107-108)


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Teori adalah suatu penjelasan tentang hubungan antara dua atau lebih konsep, atau variabel, yang berupa sekumpulan hukum, gagasan, prinsip dan teknik-teknik tentang subjek tertentu.
2.      Dalam dunia pembelajaran, untuk menghadapi dan beradaptasi dengan berbagai tantangan itu, UNESCO memberikan resep berupa apa yang disebut empat pilar belajar, (four pillars of education/learning), yaitu: belajar untuk mengetahui learning to know, belajar untuk bekerja, (learning to do), belajar untuk hidup berdampingan dan berkembang bersama, (learning to live together), dan belajar untuk menjadi manusia seutuhnya, learning to be.
3.      Filsafat pendidikan adalah terapan dari filsafat umum yang dilaksanakan dalam pandangan dan kaidah bidang pendidikan yang berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, masyarakat, dan dunia, menentukan tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam lapangan pendidikan. Aliran-aliran filsafat pendidikan antara lain: pragmatisme, progresivisme, eksistensialisme, perenialisme, esensialisme, dan rekonstruksionisme. Di samping berbagai aliran filsafat yang dikemukakan di atas ada pendekatan lain dalam menggolongkan aliran filsafat yang terkait dengan konsep pendidikan. Pendekatan tersebut menggolongkan filsafat pendidikan menjadi nativisme, naturalisme, empirisme dan konvergensi.
4.      Islam datang dengan membawa Al-Qur`an sebagai sumber dan dasarnya. Al-Qur`an juga disebut sebagai Al Hakim, berarti bahwa Al-Qur`an merupakan sumber dan perwujudan al hikmah atau filsafat dalam Islam.


DAFTAR PUSTAKA
Djumransjah. 2006. Filsafat Pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing.
Elce Pulwandari. Aliran-aliran Filsafat Pendidikan, http://purwandarielce. blogspot.co.id/2014/02/aliran-aliran-filsafat-pendidikan.html. Diakses Rabu, 05 Februari 2014.
Hasanah S.N. 2015. Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Ilmu Pendidikan, http://hasanahsn.blogspot.co.id/2015/01/peranan-filsafat-pendidikan-dalam.html. Diakses Selasa, 27 Januari 2015.
Sadulloh, uyoh. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Suyono dan Hariyanto. 2014. Belajar dan Pembelajaran (Teori dan Kosep Dasar). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zuhairini. 1995. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Tags: TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook Share to Pinterest
Fitri Handayani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

Next
Newer Post
Previous
Older Post

You may also like

No comments :

Leave a Reply

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments ( Atom )
  • Popular
  • Comments

Popular Posts

  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
    STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN Kebijakan publik adalah segala peraturan dan tindakan pemerintah yang disusun serta dilaksanakan untuk ke...
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
    PENGEMBANGAN KURIKULUM Sebenarnya yang berkembang adalah diri yang menjadi sasaran kurikulum SDM adalah ruh Kurikulum = menu Definis...
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH)
    PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH) Perencanaan ( Planning ) -> ada persiapan Keinginan -           Tidak ada persiapan ...
  • STUDI FIQIH
    Studi Fiqih Fiqih -           Furu’ (cabang) -           Pendapat (berubah-ubah). Contoh: aneka ragam macam sholat. -           Agar...
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
    SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ·          Informasi lebih penting dari pada sistem. Jika sudah mendapat informasi tidak perlu sistem. Sist...
  • METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
    METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN Metodologi Metodologi berasal dari Bahasa Yunani “metodos” dan “logos” terdiri dari dua suku kata, ya...

About Me

Fitri Handayani
View my complete profile

Labels

ADMINISTRASI KEUANGAN ( 1 ) AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK ( 1 ) APLIKASI ICT ( 1 ) BAHASA INDONESIA ( 1 ) BAHASA INGGRIS I ( 1 ) BAHASA INGGRIS II ( 1 ) BIMBINGAN DAN KONSELING ( 1 ) DASAR-DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM ( 5 ) DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM ( 3 ) DESAIN KOMUNIKASI VISUAL ( 1 ) DONWLOAD NOVEL ( 3 ) DOWNLOAD ( 11 ) DOWNLOAD EBOOKS ( 3 ) DOWNLOAD MAKALAH ( 5 ) EVALUASI PEMBELAJARAN ( 1 ) FILSAFAT ILMU ( 1 ) ILMU ALAMIAH DASAR ( 1 ) INOVASI PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MAGANG I ( 1 ) MAGANG II ( 1 ) MANAJAJEMEN DIKLAT ( 1 ) MANAJEMEN HUMAS ( 1 ) MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN ( 1 ) MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MANAJEMEN SDM PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MANAJEMEN STRATEGIK ( 1 ) MATA KULIAH ( 5 ) METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN ( 1 ) PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN ( 6 ) PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( 2 ) PENGEMBANGAN KURIKULUM ( 1 ) PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN ( 1 ) PERENCANAAN PEMBELAJARAN ( 1 ) PERENCANAAN PENDIDIKAN ( 1 ) PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI ( 3 ) PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ( 1 ) SEJARAH PERADABAN ISLAM ( 3 ) SEMINAR NASIONAL ( 1 ) SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ( 1 ) STATISTIKA PENDIDIKAN ( 1 ) STRATEGI PEMBELAJARAN ( 1 ) STUDI FIQIH ( 1 ) STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN ( 1 ) STUDY AL-QURAN DAN HADITS ( 1 ) SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) TEKNOLOGI ( 1 ) TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ( 1 ) TEOSOFI ( 1 ) TIPS & TRIKS ( 1 )

Instagram

  • Home

Labels

  • ADMINISTRASI KEUANGAN
  • AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
  • APLIKASI ICT
  • BAHASA INDONESIA
  • BAHASA INGGRIS I
  • BAHASA INGGRIS II
  • BIMBINGAN DAN KONSELING
  • DASAR-DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
  • DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM
  • DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
  • DONWLOAD NOVEL
  • DOWNLOAD
  • DOWNLOAD EBOOKS
  • DOWNLOAD MAKALAH
  • EVALUASI PEMBELAJARAN
  • FILSAFAT ILMU
  • ILMU ALAMIAH DASAR
  • INOVASI PENDIDIKAN ISLAM
  • KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM
  • MAGANG I
  • MAGANG II
  • MANAJAJEMEN DIKLAT
  • MANAJEMEN HUMAS
  • MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
  • MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
  • MANAJEMEN SDM PENDIDIKAN ISLAM
  • MANAJEMEN STRATEGIK
  • MATA KULIAH
  • METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
  • PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
  • PENELITIAN TINDAKAN KELAS
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
  • PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
  • PERENCANAAN PEMBELAJARAN
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN
  • PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI
  • PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
  • SEJARAH PERADABAN ISLAM
  • SEMINAR NASIONAL
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
  • STATISTIKA PENDIDIKAN
  • STRATEGI PEMBELAJARAN
  • STUDI FIQIH
  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
  • STUDY AL-QURAN DAN HADITS
  • SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM
  • TEKNOLOGI
  • TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
  • TEOSOFI
  • TIPS & TRIKS

Popular Posts

  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
    STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN Kebijakan publik adalah segala peraturan dan tindakan pemerintah yang disusun serta dilaksanakan untuk ke...
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
    PENGEMBANGAN KURIKULUM Sebenarnya yang berkembang adalah diri yang menjadi sasaran kurikulum SDM adalah ruh Kurikulum = menu Definis...
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH)
    PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH) Perencanaan ( Planning ) -> ada persiapan Keinginan -           Tidak ada persiapan ...
  • STUDI FIQIH
    Studi Fiqih Fiqih -           Furu’ (cabang) -           Pendapat (berubah-ubah). Contoh: aneka ragam macam sholat. -           Agar...

Blog Archive

  • ►  2018 ( 9 )
    • ►  February ( 9 )
  • ▼  2017 ( 68 )
    • ►  November ( 12 )
    • ▼  October ( 54 )
      • PENELITIAN TINDAKAN KELAS
      • MILEA SUARA DARI DILAN
      • DILAN Bagian Kedua (Pidi Baiq)
      • DILAN 1 (shabrinabachtiar)
      • PERENCANAAN PEMBELAJARAN
      • STRUCTURE OF ON ARTICLE
      • DESAIN LOGO
      • BIMBINGAN DAN KONSELING
      • PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
      • MANAJEMEN HUMAS
      • DOWLOAD MAKALAH SEMESTER 5
      • DOWLOAD MAKALAH SEMESTER 4
      • DOWLOAD MAKALAH SEMESTER 3
      • DOWNLOAD MAKALAH SEMESTER 2
      • DOWNLOAD MAKALAH SEMESTER 1
      • PENGEMBANGAN KURIKULUM
      • METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
      • STUDI FIQIH
      • STRATEGI PEMBELAJARAN
      • PENYAJIAN DATA
      • MANAJEMEN STRATEGIK
      • TYPES OF GENRE
      • ADMINISTRASI KEUANGAN
      • SEJARAH BAHASA INDONESIA
      • DOWNLOAD EBOOKS SMA/MA KELAS 10
      • DOWNLOAD EBOOKS SMP/MTs KELAS 7
      • PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
      • SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA
      • TIPS & TRIKS
      • EKOLOGI DAN EKOSISTEM
      • TEKNOLOGI
      • DOWNLOAD EBOOKS PT
      • DASAR-DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
      • SEMESTER 5
      • SEMESTER 4
      • SEMESTER 3
      • SEMESTER 2
      • SEMESTER 1
      • TEOLOFI, TASAWUF, FILSAFAT
      • METODOLOGI TAFSIR (PARADIGMA, PENDIDIKAN, DAN METODE)
      • LAPORAN OBSERVASI MAGANG I DI PONDOK PESANTREN ANW...
      • SMART ISLAMIC EDUCATION LEADERSHIP IN GLOBAL AREA
      • NILAI-NILAI ILMU
      • KEPEMIMPINAN DALAM SUPERVISI PENDIDIKAN
      • PENGELOLAAN DIKLAT
      • ASAS, UNSUR, FAKTOR DAN OBJEK PENDIDIKAN ISLAM
      • STAFFING, PIMPINAN DAN KEPEMIMPINAN LPI
      • SELEKSI DAN ORIENTASI SUMBER DAYA MANUSIA
      • KEKUASAAN, POLITIK, DAN KEPEMIMPINAN
      • BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
      • PROFIL NABI: DEFINISI DAN MACAM-MACAMNYA
      • INOVASI TENTANG PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI BERBASI...
      • KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN YANG TRANFORMASIONAL
      • KEBIJAKAN PENDIDIKAN NASIONAL
    • ►  September ( 2 )

Copyright ©

Blogger Templates
POHON ILMU . All Rights Reserved.