BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Landasan teori
merupakan sebuah dasar teori yang digunakan untuk meneliti sebuah objek
penelitian. Perbincangan tentang teori telah lama berlangsung, terutama setelah
filosof Perancis Rene Descartes (abad ke-16) menyatakan bahwa teori dibangun
dari keragu-raguan. Ia terkenal dengan motonya”cogito ergo sum”, aku
berpikir maka aku ada. Ragukan segala sesuatu, pikirkan, coba pahami,
bandingkan, dan berakhir dengan teori. Terlihat sekali bahwa paham
rasionalisme yang diawali dengan
skeptisisme, seperti yang dikembangkan filosof Yunani, Aristoteles. masih mewarnai
pemikiran Rene Descartes. Pandangan ini telah memperkuat metode deduktif.
Kemudian Prancis Bacon di Inggris melahirkan metode
induktif yang berlawanan arah dengan dedukdik. Ragukan segala sesuatu, tetapi
jangan hanya dipikirkan, lakukan percobaan, eksperimen, buktikan kebenarannya,
jika salah maka ulangi sampai mendapatkan hasil yang benar, cek kebenarannya,
buat suatu simpulan umum tentang hal itu, lalu bangun teori.
Metode deduktif
sekaligus induktif kemudian berevolusi menjadi metode ilmiah yang landasannya
pemikiran reflektif, penerapan deduktif dan induktif secara bergiliran untuk
menemukan kebenaran ilmiah. Setelah melalui berabad-abad evaluasi pemikiran hal
ini di Amerika Serikat melahirkan filsafat pragmatisme yang di pelopori oleh
Charles S. Prierce, Wiliam James dan diterapkan secara nyata oleh ahli
pendidikan John Dewey pada awal abad ke-XX. Sesuai pendapat Dewey, dengan
landasan eksperimentasi, teori yang awalnya dari keraguan harus dibuktikan
kebenarannya, jika benar dan sudah layak menjadi teori, maka jangan diragukan
lagi kebenarannya. Perkembangan filsafah dalam dunia iIlam, nampak nyata
setelah umat Islam-bangsa arab muslim pada masa itu berkomunikasi dengan dunia
sekitarnya, berhubungan dengan peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa yang
didudukinya serta menerima pengaruh dari padanya. Perkembangan filsafat kemudian
dipercepat oleh kaum muslimin dengan adanya usaha penerjemahan berbagai macam
buku ilmu pengetahuan, terutama filsafah Yunani ke dalam bahasa Arab.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
makna dari teori?
2.
Bagaimana
hakikat universal dari belajar?
3.
Apa
peran filsafat pendidikan dalam teori pengembangan teori belajar?
4.
Bagaimana
Filsafat dalam Islam?
C. Tujuan
1.
Mengetahui makna
dari teori
2.
Mengetahui hakikat
universal dari belajar
3.
Mengetahui peran
filsafat pendidikan dalam teori pengembangan teori belajar
4.
Mengetahui
Filsafat dalam Islam
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Makna Teori
Secara ringkas Dorin, Demmin and Gabel dan
juga Smith menyatakan bahwa karakteristik teori adalah sebagai berikut (i)
teori adalah sebuah penjelasan umum tentang berbagai pengamatan yang dibuat
seiring dengan berjalannya waktu, (ii) teori menjelaskan dan meramalkan
timbulnya perilaku, (iii), suatu teori tidak dapat dibangun di atas
keragu-raguan, (iv) suatu teori dapat diubah, dimodifikasi. Kerlinger menyatakan bahwa teori adalah suatu himpunan dari
konstruk-konstruk (konsep-konsep), definisi-definisi dan proposisi-proposisi
yang saling berkaitan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis tentang
suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antara variabel, dengan tujuan
menjelaskan fenomena tensebut. Oxford Advanced Leamer’s Dictionanry mengungkap
beberapa makna teori, antara lain: suatu teori adalah suatu himpunan gagasan
yang masuk akal dan bertujuan untuk menjelaskan fakta-fakta atau
kejadian-kejadian, juga dinyatakan bahwa; suatu teori adalah pernyataan tentang
prinsip-prinsip yang berlaku bagi subjek bahasan tertentu (Suyono dan Hariyanto,
2014: 27).
Teori adalah suatu penjelasan tentang hubungan antara dua atau
lebih konsep, atau variabel, yang berupa sekumpulan hukum, gagasan, prinsip dan
teknik-teknik tentang subjek tertentu. Teori tidak bersifat kekal, karena dapat
diubah jika ada bukti baru yang bersifat menyangkal teori itu. Dalam konsep
pembelajaran, Bruner membedakan antara teori pembelajaran, (instructional
theory) dan teori belajar, (learning
theory). Dalam hal
ini pembelajaran semakna dengan pengajaran. Menurut Bruner teori pembelajaran
adalah preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Dikatakan preskriptif,
karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran
yang optimal, sedangkan dikatakan sebagai deskriptif karena tujuan utama teori
belajar adalah menjelaskan proses belajar. Teori pembelajaran menaruh perhatian
pada bagaimana seseorang (guru) memengaruhi orang lain agar terjadi poses
belajar. Teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variabel-variabel
yang dispesifikasi dalam teori belajar agar memudahkan belajar. Teori belajar
menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel yang menentukan hasil
belajar. Teori ini menekankan kepada bagaimana seharusnya seseorang belajar.
Reigeluth mengembangkan teori Bruner ini dengan menyatakan bahwa sifat
perskiptif dan deskriptif ini dimiliki baik oleh teori pembelajaran maupun
teori belajar bergantung kepada tujuan atau proposisi yang dipergunakan (Suyono
dan Hariyanto, 2014: 28).
2.
Hakikat Universal dari
Belajar
Dalam kaitan ini UNESCO sesuai laporannya yang diberi judul Learning:
The Treasure Within (1996) menyampaikan adanya sejumlah tantangan
kontroversial yang harus dihadapi dengan cara menyeimbangkan berbagai tekanan (tension),
yaitu tekanan antara tuntutan: global dengan lokal, universal dengan
individual, pertimbangan jangka panjang dan jangka pendek, tradisional dengan
modem, antara tuntutan spiritual dengan kebutuhan material, dan sebagainya.
Tantangan yang bersifat universal ini juga harus dihadapi secara universal
pula. Dalam dunia pembelajaran, untuk menghadapi dan beradaptasi dengan
berbagai tantangan itu, UNESCO memberikan resep berupa apa yang disebut empat
pilar belajar, (four pillars of education/learning), yaitu: belajar
untuk mengetahui learning to know, belajar untuk bekerja, (learning
to do), belajar untuk hidup berdampingan dan berkembang bersama, (learning
to live together), dan belajar untuk menjadi manusia seutuhnya, learning
to be. Learning to be ini yang diharapkan menjadi sasaran akhir
proses pembelajaran. Secara ringkas kita bahas empat pilar itu di bawah ini (Suyono
dan Hariyanto, 2014: 28-29).
1)
Learning to Know
Belajar
untuk mengetahui, (learning to know), berkaitan dengan perolehan,
penguasaan dan pemanfaatan pengetahuan. Belajar untuk mengetahui oleh UNESCO
dipahami sebagai cara dan tujuan dari eksistensi manusia. Hal ini sesuai dengan
penegasan Jacques Delors (1966) sebagai ketua komisi penyusun laporan Learning:
the Treasure Within, yang menyatakan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu
pengetahuan sebagai cara, (means) dan pengetahuan sebagai hasil atau
tujuan, (end). Sebagai cara hidup, terkait keniscayaan bahwa manusia
memang wajib memahami dunia di sekelilingnya, minimal sesuai dengan pemenuhan
kebutuhannya untuk menjadi makhluk yang berkehormatan dan
memiliki percaya diri, mengembangkan keterampilan okupasionalnya,
serta berkomunikasi dengan yang lain. Dari segi tujuan, belajar untuk
mengetahui bertujuan untuk memberikan kepuasan karena perolehan pemahaman,
pengetahuan, dan kepuasan melalui penemuan-penemuan secara mandiri (Suyono dan
Hariyanto, 2014: 29-30).
2)
Learning to Do
Konsep
learning to do ini terkait dengan pertanyaan pokok, bagaimana kita
mengadaptasikan pendidikan sehingga mampu membekali siswa bekerja untuk mengisi
berbagai jenis lowongan pekerjaan di masa depan? Dalam hal ini pendidikan
diharapkan mampu menyiapkan siswa berkaitan dengan dua hal. Pertama berhubungan
dengan ekonomi industri, di mana para pekerja memperoleh upah dari pekerjaannya.
Kedua, yaitu suatu usaha yang kita kenal sebagai wira usaha,
para lulusan sekolah menyiapkan jenis
pekerjaannya sendiri dan menggaji dirinya sendiri (self employment),
dalam semangat entrepreneurship.
Suatu hal yang patut dicatat dan diimplikasikan dengan baik dalam
kurikulum pembelajaran di sekolah, sejak paruh kedua abad ke-20 yang lalu telah
ada pergeseran besar dalam dunia industri. Jika dulu lebih berfokus kepada
pekerjaan fisik di lingkungan manufaktur, maka saat justru yang banyak berkembang
yaitu layanan jasa. Pekerjaan ini semakin dibutuhkan dengan berkembang pesatnya
teknologi komunikasi dan informasi, terutama dengan makin pesatnya Automatisasi
sehingga kebutuhan pekerjaan yang "tidak
tampak" (intangible) makin menjamur. Belajar untuk bekerja learning to
do adalah belajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja
(Suyono dan Hariyanto, 2014: 31).
3)
Learning to Live Together
Belajar
untuk hidup bersama, (learning to live together), mengisyaratkan
keniscayaan interaksi berbagai kelompok dan golongan dalam kehidupan global
yang dirasakan semakin menyempit akibat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi.
Komunikasi antar manusia di antara kedua belahan dunia kini sudah dalam hitungan
detik. Agar dapat berinteraksi, berkomunikasi, saling berbagi, bekerja sama dan
hidup bersama, saling menghargai dalam kesetaraan, sejak kecil anak-anak sudah
harus dilatih, dibiasakan hidup berdampingan bersama. Anak-anak harus banyak
belajar dari hidup bersama secara damai, apalagi di alam Indonesia yang
multikultur, dan multi kini sehingga mereka biasa bersosialisasi sejak awal
{being sociable) (Suyono dan Hariyanto, 2014: 32).
4)
Learning to be
Belajar
untuk
menjadi manusia yang utuh (learning to be),
mengharuskan tujuan
belajar
dirancang dan diimplementasikan sedemikian rupa, sehingga pembelajar menjadi manusia yang utuh,
paripurna.
Manusia yang utuh adalah manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang
secara optimal dan seimbang, baik aspek ketakwaan terhadap
Tuhan, intelektual, emosi, sosial fisik maupun moral. Seimbang
dalam
kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan
sosial dan kecerdasan spiritualnya. Untuk
mencapai hal tersebut
diperlukan individu-individu yang banyak belajar dalam mengembangkan
sejumlah
aspek kepribadiannya. Dalam kaitan itu mereka
harus berusaha banyak meraih
keunggulan (being
excellence). Keunggulan
diperkuat dan ditunjang oleh moral yang kuat (being morality). Moral yang
kuat yang wajib ditunjang oleh keimanan inilah yang diharapkan mampu memandu
pembelajar untuk belajar menghargai orang lain, toleran terhadap hak-hak orang
lain dan memahami bahwa hidup bersama dengan berbagai jenis ras, suku, warna
kulit, bahasa, tradisi dan budaya merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat
dihindari. Pembelajar secara ringkasnya harus mampu menemukan orang lain (to discover other people), sebagai bagian
dari dirinya sendiri. Ikatan antar manusia
semacam ini akan lebih diperkuat jika sejak kecil anak sudah dibiasakan, dilatih, dihadapkan kepada situasi, bahwa manusia di seluruh dunia ini harusnya memang menuju ke
tujuan umum bersama (toward
the common goals),
yaitu tercapainya kondisi dunia yang sejahtera, aman,
adil, makmur dalam kesetaraan dan saling menghormati (Suyono dan Hariyanto, 2014: 33).
3.
Peran Filsafat Pendidikan
dalam Pengembangan Teori Belajar
Filsafat berasal dari bahasa
Yunani, yaitu philos dan sophia yang berarti cinta kebijaksanaan atau
belajar. Lebih dari itu, dapat diartikan cinta belajar pada umumnya hanya ada
dalam filsafat. Untuk alasan tersebut, maka sering dikatakan filsafat merupakan
induk atau ratu ilmu pengetahuan (Djumransjah, 2016: 4).
Filsafat ialah upaya manusia
dengan akal budinya untuk memahami, dan menyelami secara radikal, integral, dan
sistematik mengenai ketuhanan, alam manusia, dan manusia. Sehingga, dapat
menghasilkan pengetahuan tentang hakikatnya yang dapat dicapai akal manusia dan
bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan yang diinginkan
(Djumransjah, 2016: 9).
Filsafat pendidikan merupakan
cabang dari ilmu filsafat, filsafat pendidikan adalah ilmu yang membahas teori,
praktik, dan masalah-masalah pendidikan dari sudut pandangan filosofis.
pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya
menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi
masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak
dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat
dijangkau oleh sains pendidikan (Hasanah S.N, Peranan Filsafat Pendidikan
dalam Pengembangan Ilmu Pendidikan, http://hasanahsn.blogspot.co.id/
2015/01/peranan-filsafat-pendidikan-dalam.html, diakses Selasa, 27 Januari
2015).
Filsafat pendidikan adalah
terapan dari filsafat umum yang dilaksanakan dalam pandangan dan kaidah bidang
pendidikan yang berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, masyarakat, dan
dunia, menentukan tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam lapangan pendidikan
(Elce Pulwandari, Aliran-aliran Filsafat Pendidikan, http://purwandarielce.blogspot.co.id/2014/02/aliran-aliran-filsafat-pendidikan.html, diakses Rabu, 05 Februari
2014).
Filsafat pendidikan
berkembang sejak keperluan atas pendidikan sendiri berkembang, kebutuhan
semacam ini dirasakan menguat sejak zaman Yunani kuno. Tidak heran jika kita
bicara tentang filsafat pendidikan muncul nama-nama seperti Sokrates, Plato,
dan Aristoteles. Banyak sekali mazhab atau aliran tentang filsafat pendidikan
yang berkembang, tetapi dari sekian banyak aliran itu hanya aliran behaviorisme
yang secara utuh menyajikan sekaligus teori belajar, teori behaviorisme.
Sementara itu, kebanyakan teori belajar yang lain muncul karena menerapkan
gagasan dasar, basic ideas, dari beberapa atau sejumlah filsafat
pendidikan. Misalnya teori belajar konstruksivisme berkembang sebagai
implementasi gagasan dasar dari filsafat pragmatisme rekonstruksionisme sosial.
Filsafat pragmatisme kemudian berkembang menjadi filsafat fiogresivisme (Suyono
dan Hariyanto, 2014: 36).
Dalam konteks bagaimana
pembelajaran dilakukan, secara historis filsafat pendidikan dibagi menjadi dua,
yaitu filsafat pendidikan yang berasumsi guru sebagai pusat pembelajaran (teacher-centered
philosophies) dan filsafat pendidikan yang berasumsi siswa sebagai pusat
pembelajaran (student-centered philosophies). Teacher-centered
philosophies dikatakan cenderung lebih otoriter dan konservatif, dan
menekankan pengembangan nilai-nilai dan pengetahuan yang telah hadir sejak dulu
sampai sekarang. Aliran pokok dari filsafat yang berpusat kepada guru, yaitu esensialisme
dan perenialisme. Student-centered philosophies lebih berfokus kepada
kebutuhan pembelajar, kontemporer dan relevan, serta menyiapkan siswa untuk
perubahan di masa depan. Sekolah dipandang sebagai suatu lembaga yang bekerja
dengan kaum muda untuk membangun dan memperbaiki masyarakat atau membantu para
siswa menyadari tanggung jawab individual mereka di masyarakat. Aliran pokok
dari paham ini adalah progresivisme, rekonstruksionisme sosial, dan
eksistensialisme. Dalam paham ini siswa dan guru bekerja sama untuk menentukan
apa saja yang harus dipelajari dan bagaimana cara terbaik untuk mempelajarinya
(Suyono dan Hariyanto, 2014: 37-38).
Selanjutnya secara ringkas
akan kita bicarakan aliran-aliran pokok tersebut serta keterkaitannya dengan
pendidikan maupun pembelajaran, sebagai berikut.
a. Pragmatisme
Istilah pragmatisme berasal
dari perkataan "pragma" artinya praktik atau aku berbuat. Maksudnya bahwa makna
segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dilakukan.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat
yang pertama kali dikemukakan oleh Charles Sanders Pierce dalam bukunya How to
Make Our Idea Clear (1878). Tokoh-tokoh lain dalam aliran ini adalah
William James, John Dewey elan George Herbert Meat, tetapi yang dikenal sebagai
bapak pragmatisme justru John Dewey, karena publikasi-publikasinya yang luas.
Pragmatisme sesungguhnya berupaya menjadi penengah antara aliran idealisme yang
dikembangkan oleh Plato dengan aliran realisme yang dikembangkan oleh
Aristoteles dengan cara menggabungkan hal-hal yang bermanfaat dari kedua aliran
tersebut. Model memilah dan memilih hal-hal yang bermanfaat dari setiap aliran
filsafat pendidikan semacam ini kemudian menjadi model yang dipilih oleh banyak
negara di dalam prakrik pendidikan. Pragmatisme berkeyakinan bahwa pengetahuan
yang diperoleh siswa hendaknya dimanfaatkan untuk memahami persoalan yang
berkembang di masyarakat. Hasil pembelajaran digunakan dalam menetapkan
tindakan apa yang dapat dilahirkan untuk kebaikan, kemajuan dan perkembangan
masyarakat dunia. Dalam menilai gagasan, ide-ide dan teori, yang penting adalah
dapat atau tidaknya gagasan itu dilaksanakan sehingga membuahkan hasil yang positif.
Inilah esensi pragmatisme. Oleh sebab itu, dalam kaitan ini, pembelajaran harus
dilaksanakan dalam konteks kebutuhan masyarakat dengan memilih isu-isu di masyarakat
yang berkaitan dengan pokok bahasan di dalam kelas (kontekstual) (Suyono dan
Hariyanto, 2014: 39-40).
Power (dalam Uyoh, 2011: 133)
mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Pragmatisme sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan
Memberi pengalaman untuk penemuan
hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi.
2) Kedudukan siswa
Suatu organisme yang memiliki kemampuan
yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh.
3) Peranan guru
Mengawasi dan membimbing pengalaman
belajar siswa, tanpa mengganggu minat dan kebutuhannya.
4) Kurikulum
Berisi pengalaman yang teruji yang dapat
diubah. Minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan
kurikulum.Menghilangkan perbedaan antara pendidikan liberal dengan pendidikan
praktis atau pendidikan jabatan.
5) Metode
Metode aktif, yaitu Learning by doing
(belajar sambil bekerja)
b. Progresivisme
Aliran Progresivisme ini
merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan yang berkembang pesat pada
permulaan abad ke XX dan sangat berpengaruh dalam pembaruan pendidikan (Djumransjah,
2006: 175).
Aliran progresivisme
berkembang dari pragmatisme, kata kunci dari aliran ini yaitu progresif, yang
maknanya maju. Aliran progresivisme dinamai juga instrumentalisme, karena
aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intergensi manusia adalah alat untuk
hidup, untuk mencapai kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadian
manusia. Aliran ini dinamakan eksperimentalisme, karena aliran ini
menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen yang merupakan cara untuk menguji
kebenaran suatu teori. Selanjutnya juga dinamakan enviromentalisme karena
aliran ini berkeyakinan bahwa lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan
kepribadian. Progesivisme berpendapat bahwa selalu berubah sesuai mengajar
siswa tentang kebenaran bersifat relatif. Karena pengetahuan selalu berubah
sesuai dengan pengembangan IPTEKS maka kita harus mengajar siswa tentang
bagaimana cara berfikir, how we think, dari pada apa yang harus dipikirkan (what
we think). Progresuvusme terutama sekali dibangun oleh kepercayaan bahwa
bahan ajar harus relevan dengan kebutuhan siswa agar mereka mau belajar.
Kurikulum, menurut aliran ini, harus dibangun dari pengamatan pribadi, minat,
dan kebutuhan para siswa. Aliran ini amat popular di sekolah-sekolah dan
perguruan tinggi di Amerika Serikat (Suyono dan Hariyanto, 2014: 42-43).
c. Eksistensialisme
Filsafat ini dibangun oleh
kepercayaan yang kuat terhadap kemauan bebas (free will) manusia, dan
kebutuhan setiap individu untuk membentuk masa depannya sendiri. Aliran ini mencoba
membebaskan manusia dari tradisi masa lalu. Perhatian pokoknya adalah tentang
apa yang harus dilakukan terkait eksistensi sebagai makhluk manusia di dunia.
Isu tentang kebebasan dan pilihan merupakan hal yang krusial dan penting dalam
eksistensialisme. Menurut aliran ini, sifat realitas yaitu subjektif dan
bergantung kepada individu-individu. Di luar eksistensi manusia, dunia fisik tidak
memiliki makna yang inheren. Pilihan individu dan standar individual bersifat
sentral. Eksistensi datang lebih dulu ketimbang berbagai definisi tentang siapa
sebenarnya kita, makhluk manusia itu. Kita akan mendefinisikan siapa diri kita
dalam hubungan dengan eksistensi kita melalui pilihan-pilihan yang dibuat (Suyono
dan Hariyanto. 2014: 44-45).
Eksistensialisme itu unik
yakni memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum,
eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subyektivitas pengalaman manusia,
dan tindakan kongkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk
hakikat manusia atau realitas.
Power (dalam Uyoh, 2011: 140)
mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Eksistensialisme sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan
Memberi bekal pengalaman yang luas dan
komprehensif dalam semua bentuk kehidupan
2) Status siswa
Makhluk rasional dengan pilihan bebas
dan tanggung jawab atas pilihannya. Suatu komitmen terhadap pemenuhan tujuan
pribadi.
3) Peranan guru
Melindungi dan memelihara kebebasan
akademik, di mana mungkin guru pada hari ini, besok lusa mungkin menjadi murid.
4) Kurikulum
Yang diutamakan adalah kurikulum
liberal. Kurikulum liberal merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Kebebasan
memiliki aturan-aturan. Oleh karena itu, di sekolah diajarkan pendidikan sosial,
untuk mengajar "respek" (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua. Respek
terhadap kebebasan bagi yang lain adalah esensial. Kebebasan dapat menimbulkan
konflik.
5) Metode
Belajar tergantung pada pengalaman, baik
langsung atau tidak langsung. Metode penyampaian harus logis dan
psikologis. Metode Conditioning (SR) merupakan metode utama bagi realisme
sebagai pengikut behaviorisme.
d. Perenialisme
Perenialisme berasal dari
kata perennial diartikan sebagai lasting for a very long time abadi atau
kekal dan dapat berarti pula tiada akhir. Dengan demikian, esensi
kepercayaan filsafat Perennial ialah berpegang pada nilai-nilai atau
norma-norma yang bersifat abadi (Djumransjah, 2006: 185-186).
Filsafat ini berfokus kepada
adannya kebenaran universal yang telah teruji bersama berlalunya waktu, dari
masa ke masa. Hal ini sesuai dengan arti pokoknya, perenial; hal-hal
yang ada sepanjang rnasa. Dengan demikian tujuan pokok dari pendidikan adalah
mengkaji nilai-nilai luhur kemanusiaan dan pengetahuan yang abadi. Para filosof
aliran ini merekomendasikan agar para siswa belajar dari banyak membaca
karya-karya agung dari para pemikir dan penulis besar sepanjang perjalanan
sejarah manusia. Dengan cara ini mereka akan menghargai pembelajaran. Kelas
para pereniailis berpusat kepada guru untuk dapat mencapai tujuan pendidikan (teacher-centered)
(Suyono dan Hariyanto, 2014: 46).
e. Esensialisme
Esensialisme berpandangan
bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk melaksanakan pewarisan dan
revitalisasi budaya serta inti, esensi, pengetahuan kepada generasi muda.
Filsafat ini berfokus kepada pembelajaran tentang esensi pokok atau dasar-dasar
pengetahuan akademik, keterampilan-keterampilan, dan pengembangan karakter. para
esensialis berpandangan bahwa guru harus mengajarkan nilai-nilai moral dan
kebajikan tradisional seperti tradisi menghargai para penguasa (otoritas), para
sesepuh (orang yang dituakan), belajar untuk mengembangkan ketangguhan dan
keuletan, keterikatan kepada tugas-tugas mulia, menghargai orang lain,
pengetahuan-pengetahuan praktis dan intelektual yang akan membekalinya sebagai
warga negara yang baik Kurikulum dibangun atas disiplin-disiplin tradisional
seperti matematika, ilmu alamiah, sejarah, bahasa asing, dan sastra. Aliran ini
tidak setuju terhadap perlunya pengembangan keterampilan vokasional di sekolah.
Dalam sekolah-sekolah berpaham esensialisme, pembelajaran diwajibkan menguasai
informasi dan teknik-teknik dasar di kelas tertentu sebelum mereka naik kelas
yang lebih tinggi. Konten kurikulum berkembang bertahap makin lama makin kompleks,
makin sulit dipahami dan makin rinci. Esensialisrne berpaham teacher-oriented,
tanggung jawab sepenuhnya kepada guru (Suyono dan Hariyanto, 2014: 47).
Power (dalam Uyoh, 2011: 165)
mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Esensialisme sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan
Transmisi kebudayaan untuk menentukan solidaritas
social dan kesejahteraan umum
2) Kedudukan siswa
Sekolah bertanggung jawab atas pemberian
pengajaran yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut
hasil belajar siswa. Siswa belajar ke sekolah untuk belajar, bukan untuk
mengatur pelajaran.
3) Peranan guru
Guru harus terdidik. Secara moral ia
merupakan orang yang dapat dipercaya, dan secara teknis harus memiliki
kemahiran dalam mengarahkan proses belajar.
4) Kurikulum
Di pendidikan dasar berupa membaca,
menulis, berhitung. Keterampilan berkomunikasi adalah esensial untuk mencapai
prestasi skolastik dan hidup sosial yang layak. Kurikulum sekolah berisikan apa
yang harus diajarkan.
5)
Metode
Metode tradisional, menekankan pada
inisiatif guru.
f. Rekonstruksfronisme
Rekonstruksionalisme
merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasari
atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri
dengan masalah-masalah masyarakat yang ada pada saat sekarang ini.
Power (dalam Uyoh, 2011: 171)
mengemukakan implikasi filsafat pendidikan Rekonstruksionalisme sebagai
berikut:
1) Tema
Pendidikan merupakan usaha sosial. Misi
sekolah adalah untuk meningkatkan rekonstruksi sosial.
2) Tujuan pendidikan
Pendidikan bertanggung jawab dalam
menciptakan aturan sosial yang ideal. Transmisi budaya adalah budaya esensial
dalam masyarakat yang majemuk. Transmisi budaya harus mengenal fakta budaya
yang majemuk tersebut.
3) Kedudukan siswa
Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke
sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab
sosial ditingkatkan, manakala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya.
4) Peranan guru
Guru harus menunjukkan rasa hormat yang
sejati (ikhlas) terhadap semua budaya, baik dalam memberi pelajaran maupun
dalam hal lainnya. Pelajaran sekolah harus mewakili budaya masyarakat.
5) Kurikulum
Kurikulum sekolah tidak boleh didominasi
oleh budaya mayoritas maupun oleh budaya yang ditentukan atau disukai. Semua
budaya dan nilai-nilai yang berhubungan berhak untuk mendapatkan tempat dalam
kurikulum.
6) Metode
Sebagai kelanjutan dari pendidikan
progresif, metode aktivitas dibenarkan (Learning by doing)
Di samping berbagai aliran filsafat yang dikemukakan di atas ada pendekatan
lain dalam menggolongkan aliran filsafat yang terkait dengan konsep pendidikan.
Pendekatan tersebut menggolongkan filsafat pendidikan menjadi nativisme,
naturalisme, empirisme dan konvergensi. Penjelasan ringkasnya untuk
masing-masing adalah sebagai berikut:
a. Navisme
Natvisme berasal dari kata nativus
atau native yang artinya terlahir atau pembawaan sejak lahir. Merupakan
sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh terhadap kajian psikologi maupun
pendidikan. Pandangan ini berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata
ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sejak lahir (hereditas). Tokohnya yang
terkenal yaitu Arthur Schopenhouer, seorang filsuf Jerman. Menurut aliran ini
setiap anak sejak lahir telah memiliki sifat-sifat dasar tertentu yang disebut
pembawaan, dan terdiri dari pembawaan yang baik dan pembawaan yang buruk.
Sifat bawaan ini tidak dapat di ubah oleh pengalaman, lingkungan dan
pendidikan, dengan demikian hasil akhir pendidikan dipengaruhi atau ditentukan
oleh sifat bawaan itu. Jadi, jika sejak
lahir seorang anak memiliki sifat pembawaan yang buruk, maka seumur hidup ia
akan menjadi orang berwatak buruk, sebaliknya jika ia memang berpembawaan baik,
maka sampai mati pun ia tetap menjadi orang baik. Aliran pendidikan yang
berpandangan sesuai doktrin filsafat ini disebut dengan pedagogik pesimistis,
karena pesimis terhadap manfaat pendidikan (Suyono dan Hariyanto, 2014: 50).
b. Naturalisme
Naturalisme berasal dari kata
natura (latin) atau nature (Inggis) yang artinya alam atau
kodrat. Seperti diungkap di atas, pelopornya, yaitu Jean-Jacques Rousseau.
Aliran ini berpendapat bahwa setiap anak yang baru dilahirkan mempunyai
pembawaan baik, dan tidak seorang pun lahir dengan pembawaan yang buruk. Namun, pembawaan baik itu, akan menjadi rusak karena
dipengaruhi oleh lingkungan atau kebudayaan manusia itu sendiri. Rousseau
bahkan berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan oleh orang dewasa dapat
merusak pembawaan anak yang baik itu. Pandangan naturalisme tidak memandang pentingnya
pendidikan, sehingga alian irti juga disebut negativisme, karena
berpendapat bahwa pendidikan wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam, atau dengan kata lain tidak diperlukan campur
tangan pendidikan. Rousseau dengan gigih mengajak agar kembali alam yang baik
itu, dengan menjauhkan anak dari lingkungan kebudayaan. Rousseau mengusulkan
perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya,
kemampuan-kemampuannya, dan kecenderungan-kecenderungannya. Pendidikan yang
baik adalah pendidikan yang memberikan kebebasan kepada anak untuk berkembang
menurut kodrat dan alamnya yang baik itu (Suyono dan Hariyanto, 2014: 50-51).
c. Empirisme
Empirisme berasal dari kata empiria
atau pengalaman, tokohnya adalah John Locke (Inggris). Paham empirisme
bertentangan dengan paham nativisme dan berpandangan bahwa anak sejak lahir belum
memiliki sifat pembawaan apa pun, anak yang baru lahir bagaikan kertas yang
putih bersih, tabula rasa. Dengan demikian, di atas kertas putih itu
orang dapat membuat coretan-coretan menurut kehendaknya. Melalui kontak dengan
lingkungan anak-anak mendapatkan empirik pengalaman empirik semacam inilah yang
membentuk anak di masa depan. Oleh sebab itu pendidikan harus dirancang
sedemikian rupa sehingga anak-anak dapat memperoleh pengalaman yang berguna
dari alam lingkungannya. Program-program pendidikan harus menciptakan pengalaman
belajar yang diperlukan anak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dalam hal
ini dipersepsikan bahwa seorang pendidik akan mampu membentuk anak-anak menjadi
apa saja, apakah menjadi seorang pelaut, pekerja bengkel, guru, pengacara, tentara,
petani yang andal atau seorang sarjana. Karena besarnya optimisme terhadap
peranan pendidikan dalam pandangan aliran ini, maka aliran ini disebut pula
sebagai pedagogik optimis.
d. Konvergensi
Pandangan ini memadukan
antara pandangan nativisme dan empirisme. Tokohnya yaitu William Stern
(Jerman). Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan intelekrualitas anak tidak
hanya dilihat dari faktor pembawaan atau lingkungan saja tetapi perpaduan
antara keduanya, sinergisme antara faktor internal nature, natur (faktor dasar)
alami, dan faktor eksternal nuture, nurtur (faktor ajar, bimbingan) pengalaman.
Wiliiam Stern berpendapat bahwa saat lahir anak sudah dibekali baik pembawaan
baik maupun pembawaan buruk. Dalam proses perkembangan anak, baik faktor
pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan penting. Bakat
yang bersifat hereditas, dibawa saat lahir tidak akan berkembang dengan baik
tanpa adanya lingkungan-lingkungan yang
sesuai. sebaliknya, lingkungan yang baik
tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal jika memang anak tidak
rnemiliki bakat yang baik yang diperlukan bagi perkembangannya. Berdasarkan
pandangan ini, William Stern mengambil suatu simpulan bahwa hasil pendidikan
itu bergantung kepada pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang
bergerak menuju suatu titik pertemuan, suatu konvergensi (Suyono dan Hariyanto,
2014: 51-52).
Menurut teori konvergensi
dapat disimpulkan bahwa;
1) berlainan dengan pandangan
naturalisme, pendidikan layak untuk dilaksanakan;
2) pendidikan dimaknai sebagai
pertolongan yang diberikan oleh lingkungan kepada anak didik untuk
mengembangkan potensi yang baik dan mencegah perkembangan potensi yang kurang baik/buruk;
3) lingkungan dan pembawaan,
kedua-duanya dapat membatasi hasil pendidikan.
Aliran ini berbeda dengan
aliran-aliran sebelumnya, telah diterima secara luas sebagai pandangan yang
tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Implementasi aliran ini dalam
pembelajaran telah melahirkan berbagai teori belajar dan pembelajaran antara
lain, meliputi: (1) teori belajar berlandaskan behaviorisme dengan pengembangannya
seperti teori belajar tuntas, pengajaran berprogram, belajar asertif, sistern
modul, pembelajaran berbasis bantuan komputer, dan lain-lain, (2) teori belajar
berdasarkan proses pengolahan informasi, model mengajar inkuiri, model pengembangan
berpikir, pembelajaran bermakna dengan advanced organizer, dan lain-lain
(Suyono dan Hariyanto, 2014: 52-53).
5.
Filsafat Islam
Perkembangan filsafah dalam
dunia Islam, nampak nyata setelah umat Islam-bangsa arab muslim pada masa itu
berkomunikasi dengan dunia sekitarnya, berhubungan dengan peradaban dan
kebudayaan bangsa-bangsa yang didudukinya serta menerima pengaruh dari padanya.
Perkembang filsafat kemudian dipercepat oleh kaum muslimin dengan adanya usaha
penerjemahan berbagai macam buku ilmu pengetahuan, terutama filsafah Yunani ke
dalam bahasa Arab. Sebelum
masuknya istilah filsafah dan filosof dalam dunia Islam, yang telah mengenal
istilah “al hikmah” dan usaha untuk mencari al hikmah, yang mempunyai
pengertian dasar yang sama dengan filsafat. Al Hakim, yang berarti orang yang
memiliki al hikmah disebut juga sebagai filosof.
Musthofah `Abd al Raziq dalam
bukunya “Tamhid li Tarikh al Falsafah al Islamiyah”, menjelaskan bahwa dalam
kepustakaan Arab (Islam), istilah “al hikmah dan al hakim” dengan istilah
“filsafat dan filosof”, dipakai secara bergantian untuk menyatakan pengertian
filsafah dan filosof dalam Islam. Bahkan Aristoteles yang dianggap sebagai bapak filsafah
Yunani, disebut juga sebagai “al hakim”. Pengertian yang sama juga dikemukakan oleh Omar
Mohammad al Touny al Syaibany dalam bukunya Falsafah pendidikan islam, bahwa
pengertian bebas pada kata “falsafah” pada bahasa asalnya, Yunani kuno adalah cinta akan
hikmah. Takrif ini berterusan digunakan orang sampai-sampai juga pada falsafah
Islam.
Islam datang dengan membawa Al-Qur`an sebagai
sumber dan dasarnya. Al-Qur`an juga disebut sebagai Al Hakim, berarti bahwa
Al-Qur`an merupakan sumber dan perwujudan al hikmah atau filsafah dalam Islam. Allah memberikan al hikmah
kepada mereka yang menghendaki dan berusaha mencarinya, dan barang siapa yang
memperoleh al hikmah, berarti telah memperoleh kebajikan dan kebijaksanaan yang
banyak, tetapi hanya orang-orang yang berakal sajalah yang mampu berusaha
mencari hikmah tersebut (berfilsafah).
Firman ALLAH SWT
يؤ تي ا الحكمة من يشاء ومن يؤ ت ا لحكمة فقد او تي خيرا كثيرا وما يذ كر الا او لوا الالبا ب
Artinya :
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki–Nya.
Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang
banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang
berakal” (Q S. Al Baqarah 269).
Dengan demikian usaha mencari al hikmah, menurut
ajaran Islam, hanya mungkin dikerjakan dengan menggunakan akal pikiran. Usaha
mencari al-hikmah, kebajikan dan kebijaksanaan dengan menggunakan akal pikiran
adalah merupakan pengertian dasar dari filsafah. Jadi Filsafah dan kegiatan
berfilsafah sudah ada dan dikerjakan dalam dunia Islam, sebelum istilah
filsafah masuk ke dalamnya. Dan Al- Qur`an merupakan sumbernya, baik secara
material maupun secara formal. (Zuhairini, 1995: 107-108)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.
Teori adalah suatu penjelasan tentang hubungan antara dua atau
lebih konsep, atau variabel, yang berupa sekumpulan hukum, gagasan, prinsip dan
teknik-teknik tentang subjek tertentu.
2.
Dalam dunia pembelajaran, untuk menghadapi dan beradaptasi dengan
berbagai tantangan itu, UNESCO memberikan resep berupa apa yang disebut empat
pilar belajar, (four pillars of education/learning), yaitu: belajar
untuk mengetahui learning to know, belajar untuk bekerja, (learning
to do), belajar untuk hidup berdampingan dan berkembang bersama, (learning
to live together), dan belajar untuk menjadi manusia seutuhnya, learning
to be.
3.
Filsafat pendidikan adalah terapan dari
filsafat umum yang dilaksanakan dalam pandangan dan kaidah bidang pendidikan
yang berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, masyarakat, dan dunia,
menentukan tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam lapangan pendidikan.
Aliran-aliran filsafat pendidikan antara lain: pragmatisme, progresivisme,
eksistensialisme, perenialisme, esensialisme, dan rekonstruksionisme. Di samping
berbagai aliran filsafat yang dikemukakan di atas ada pendekatan lain dalam
menggolongkan aliran filsafat yang terkait dengan konsep pendidikan. Pendekatan
tersebut menggolongkan filsafat pendidikan menjadi nativisme, naturalisme,
empirisme dan konvergensi.
4.
Islam datang dengan membawa Al-Qur`an sebagai
sumber dan dasarnya. Al-Qur`an juga disebut sebagai Al Hakim, berarti bahwa
Al-Qur`an merupakan sumber dan perwujudan al hikmah atau filsafat dalam Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Djumransjah. 2006. Filsafat
Pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing.
Elce Pulwandari. Aliran-aliran Filsafat Pendidikan, http://purwandarielce.
blogspot.co.id/2014/02/aliran-aliran-filsafat-pendidikan.html. Diakses Rabu, 05 Februari
2014.
Hasanah S.N. 2015. Peranan Filsafat Pendidikan dalam
Pengembangan Ilmu Pendidikan, http://hasanahsn.blogspot.co.id/2015/01/peranan-filsafat-pendidikan-dalam.html. Diakses Selasa, 27 Januari
2015.
Sadulloh, uyoh. 2011. Filsafat Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Suyono dan Hariyanto. 2014. Belajar
dan Pembelajaran (Teori dan Kosep Dasar). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zuhairini. 1995. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

No comments :