BAB VII
KEKUASAAN,
POLITIK, DAN KEPEMIMPINAN
A.
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kekuasaan
(power) banyak digunakan dalam literatur manajemen. Kekuasaan sering
kali diberikan sebuah gambaran positif atau negatif tergantung cara memandang
seseorang dengan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi
individu, kelompok, keputusan atau kejadian. Ahli yang mempergunakan istilah
kekuasaan pertama kali adalah Max Weber.
Politik
berasal dari bahasa Yunani yaitu: Politikos, yang berkaitan dengan warga
negara. Dalam bahasa Inggris disebut politic yang berarti bijaksana, beradab, atau
belaka. Perilaku politik atau (Inggris: Politic Behaviour) adalah perilaku yang
dilakukan oleh insan/individu atau kelompok guna memenuhi hak dan kewajibannya
sebagai insan politik. Seorang individu/kelompok diwajibkan oleh negara untuk
melakukan hak dan kewajibannya guna melakukan perilaku politik
Budaya
organisasi adalah seperangkat
asumsi, nilai dan
norma yang dikembangkan dalam
organisasi dan telah
menjadi perilaku para anggota organisasi di dalam mengatasi
berbagai permasalahan yang terjadi di dalam maupun di luar organisasi.
Setiap
manusia pada hakikatnya adalah pemimpin dan setiap manusia akan diminta
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya kelak. Manusia sebagai pemimpin minimal
mampu memimpin dirinya sendiri.
Jika
daya kepemimpinan kuat, pintu kesuksesan akan terbuka lebar. Namun jika tidak,
maka keberhasilan organisasi akan terbatas, itulah sebabnya mengapa di masa
krisis, dengan sendirinya organisasi-organisasi mencari pemimpin baru.
Leader adalah seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat
pemimpin atau personality atau authority (berwibawa). Sedangkan Manajer adalah seorang pemimpin yang dalam praktik
kepemimpinannya hanya berdasarkan “kekuasaan atau authority formalnya”.
2. Rumusan Masalah
a. Apakah
yang dimaksud dengan kekuasaan dan apa saja sumber kekuasaan, strategi
kekuasaan, dan taktik kekuasaan?
b. Apakah
yang dimaksud dengan politik dan bagaimana perilaku politik dalam budaya
organisasi?
c. Apakah
yang dimaksud kepemimpinan dan teori-teorinya serta tipologi kepemimpinan?
d.
Leader
versus manager?
e.
Bagaimana
peran pemimpin?
3. Tujuan
a. Mengetahui pengertian kekuasaan, sumber kekuasaan, strategi kekuasaan, dan taktik
kekuasaan
b. Mengetahui pengertian politik dan bagaimana perilaku politik dalam
budaya organisasi
c. Mengetahui pengertian kepemimpinan dan teori-teorinya serta tipologi
kepemimpinan
d.
Mengetahui Leader
versus manager
e.
Mengetahui peran
pemimpin
B.
PEMBAHASAN
1. Pengertian Kekuasaan, Sumber
Kekuasaan, Strategi Kekuasaan, dan Taktik Kekuasaan
a. Pengertian Kekuasaan
Kekuasaan
sering kali diberikan sebuah gambaran positif atau negatif tergantung cara
memandang seseorang dengan kekuasaan. Ahli yang mempergunakan istilah kekuasaan
pertama kali adalah Max Weber.[1] Menurut
Max Weber, Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk
menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannya sendiri dengan sekaligus
menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan orang-orang atau
golongan-golongan tertentu.
Kekuasaan
adalah kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan atau
kejadian.[2]
b. Sumber Kekuasaan
Menurut French dan Raven (1959), diambil dari Mitfah Thoha (2012), membagi sumber kekuasaan dan bentuk kekuasaan menjadi lima sumber kekuasaan, yaitu: Kekuasaan
paksaan (coercive power), kekuasaan keahlian (experience power), kekuasaan legitimasi (legitimate power) kekuasaan referensi (reference power), dan kekuasaan penghargaan (reward power).
Menurut Raven dan Kruglan (1975), diambil dari Mitfah Thoha (2012), menambahkan sumber dan bentuk kekuasaan yang keenam, yaitu: Kekuasaan
informasi (information power).
Dan Menurut Hersey dan Goldmith (1979), diambil dari Mitfah Thoha (2012), menambahkan sumber dan bentuk kekuasaan yang ketujuh, yaitu : Kekuasaan hubungan (connection power).
Dan Menurut Hersey dan Goldmith (1979), diambil dari Mitfah Thoha (2012), menambahkan sumber dan bentuk kekuasaan yang ketujuh, yaitu : Kekuasaan hubungan (connection power).
Kekuasaan
paksaan (coercive power), kekuasaan yang berdasarkan rasa takut,
sehingga sumber kekuasaan ini diperoleh berdasarkan sumber pengaruh yang
menimbulkan rasa ketakutan, pemimpin yang mempunyai kekuasaan jenis ini selalu
menggunakan hukuman (punishment). Dalam kehidupan seorang pemimpin yang
memiliki kekuasaan paksaan selalu dapat dilihat dengan menggunakan kekerasan
fisik.
Kekuasaan
keahlian (experience power), kekuasaan ini bersumber dari keahlian atau
kecakapan serta pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang diwujudkan
dalam bentuk rasa hormat, dan pengaruhnya kepada orang lain.
Kekuasaan
legitimasi (legitimate power), kekuasaan ini bersumber pada jabatan yang
dipegang oleh pemimpin. Secara normal, semakin tinggi posisi seorang pemimpin,
maka semakin besar kekuasaan legitimasinya. Seorang pemimpin yang tinggi
legitimasinya cenderung untuk mempengaruhi orang lain.
Kekuasaan
referensi (reference power), kekuasaan ini bersumber dari sifat-sifat
pribadi dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang tinggi kekuasaan
referensinya pada umumnya disenangi dan dikagumi oleh orang lain karena
kepribadian kekuasaan referensi ini. Kekuasaan penghargaan (reward power),
kekuasaan ini bersumber atas kemampuan untuk menyediakan penghargaan atau penghargaan
jasa, hadiah bagi orang lain, seperti gaji, promosi, dan bonus.
Kekuasaan
informasi (information power), kekuasaan ini bersumber karena adanya
dampak informasi yang dimiliki oleh pemimpin, kekuasaan yang bersumber pada
usaha mempengaruhi orang lain karena mereka membutuhkan informasi yang ada pada
pemimpin mereka, maka kekuasaan ini digolongkan dengan kekuasaan informasi.
Kekuasaan
hubungan (connection power), kekuasaan ini bersumber pada hubungan yang
dijalin oleh pemimpin dengan orang-orang penting dan berpengaruh baik di luar
maupun di dalam organisasi. Ciri seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan
hubungan ini adalah cenderung meminta saran-saran dari orang lain dengan tujuan
menghilangkan hal-hal yang tidak menyenangkan dari kekuasaan hubungan ini.
c.
Strategi
Kekuasaan
1)
TAHAP
I :
Atasan
dan bawahan saling berupaya menciptakan saling pengaruh mempengaruhi (influence
system)
2)
TAHAP
II :
Atasan
dan bawahan saling berupaya menciptakan rasa ketergantungan (dependency system)
3)
TAHAP
III :
Tercipta
sistem kepatuhan dan loyalitas (obedience and loyality system)
4)
TAHAP
IV :
Jika
gagal atau tidak terjadi kepatuhan atau ke tidak loyalitasan, maka dipergunakan
otoritas atau kewenangan kekuasaan sebagai bagian perilaku politik
d.
Taktik
Kekuasaan
Taktik
kekuasaan adalah cara-cara yang ditempuh individu untuk menerjemahkan sumber
kekuasaan menjadi tindakan yang spesifik.
1)
Ketika
Manajer mempengaruhi atasan
a)
Penalaran
b)
Koalisi
c)
Persahabatan
d)
Tawar
–menawar
e)
Ketegasan
f)
Otoritas
atasan
2)
Ketika
Manajer mempengaruhi bawahan
a)
Penalaran
b)
Ketegasan
c)
Persahabatan
d)
Koalisi
e)
Tawar
–menawar
f)
Otoritas
atasan
g)
Sanksi
2.
Pengertian Politik dan Perilaku Politik dalam
Budaya Organisasi
a.
Pengertian
Politik
Politik
berasal dari bahasa Yunani yaitu: Politikus, yang berarti dari atau yang
berkaitan dengan warga negara. Dalam bahasa Inggris disebut politic yang
berarti bijaksana, beradab, atau belaka.
Politik
pada dasarnya dapat di maknai sebagai: proses pembentukan dan pembagian
kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan
keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan
antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal
dalam ilmu politik.
b.
Perilaku Politik dalam Budaya Organisasi
Perilaku politik atau (Inggris: Politic Behaviour)
adalah perilaku yang dilakukan oleh insan/individu atau kelompok guna memenuhi
hak dan kewajibannya sebagai insan politik. Seorang individu/kelompok
diwajibkan oleh negara untuk melakukan hak dan kewajibannya guna melakukan
perilaku politik adapun yang dimaksud dengan perilaku politik contohnya adalah:
1)
Melakukan pemilihan untuk memilih wakil rakyat/pemimpin
2) Mengikuti dan berhak menjadi insan politik yang
mengikuti suatu partai politik atau parpol, mengikuti ormas atau organisasi
masyarakat atau Islam lembaga swadaya masyarakat
3) Ikut serta dalam pesta politik
4) Ikut mengkritik atau menurunkan para pelaku politik
yang berotoritas
5) Berhak untuk menjadi pimpinan politik
6) Berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya
sebagai insan politik guna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara
baik oleh undang-undang dasar dan perundangan hukum yang berlaku.
Para pakar
mendefinisikan bahwa Budaya Organisasi ialah
common understanding (kebersamaan
pengertian) para anggotanya untuk
berperilaku sama, baik di luar maupun di dalam organisasinya.
Ouchi (1981): Budaya organisasi adalah: “a set of symbols,
ceremonies, and myths that communicate the underlying values and beliefs of that organization to its
employees” (seperangkat nilai-nilai, dan mitos yang mengkomunikasikan
landasan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan kepada para karyawannya.
Miller (1984): Budaya organisasi adalah: “a
set of primary values systems consisting of eight principles,
namely of purpose, of consensus, of excellence, of performance, of empirism, of
unity, of intimacy, and of integrity, as norms or guidance for the corporate
members in their behavior and solve corporate problems” (seperangkat
sistem 107 nilai-nilai primer yang terdiri atas delapan asas, yaitu asas tujuan, konsensus, keunggulan, prestasi, empirisme,
kesatuan, keakraban, dan integritas, sebagai norma atau pedoman bagi para
anggota korporat dalam perilaku mereka dan memecahkan masalah-masalah
korporat)”.
Disimpulkan dari berbagai pengertian budaya
organisasi di atas adalah seperangkat asumsi,
nilai dan norma yang dikembangkan dalam
organisasi dan telah menjadi perilaku para anggota organisasi di dalam
mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di dalam maupun di luar
organisasi.[3]
1)
Salah
Satu Faktor Perilaku Politik
Tidak
semua kelompok atau organisasi secara politis sama. Dalam beberapa organisasi,
misalnya permainan politik terjadi secara terang-terangan dan merajalela. Dalam
organisasi lain politik memainkan peran kecil dalam mempengaruhi hasil riset
dan pengamatan baru-baru ini mengidentifikasi sejumlah faktor yang tampaknya
mendorong perilaku Politik ada yang merupakan karakteristik individu. Yang
berasal dari ciri untuk orang-orang yang
di pekerjakan oleh organisasi itu. Yang lain adalah hasil dari budaya atau lingkungan
internal organisasi.
2)
Pandangan
Negatif tentang Politik Organisasi
a)
perilaku
mementingkan diri sendiri tanpa sanksi
b)
pemicu
konflik dan tidak harmonisan pada level individual dan organisasi
c)
pemicu
lingkungan kerja yang keras dan tidak nyaman
d)
pemicu
stres
e)
pemicu
sikap negatif terutama pada karyawan level bawah
f)
pemicu
keengganan karyawan terlibat dalam lingkungan yang keras dan terpolitisasi
3)
Contoh Kasus Organisasi Politik
Contoh konflik dari organisasi politik yang
sering kita jumpai yaitu saat kampanye pemilihan wali kota, gubernur ataupun
presiden. Ada 2 konflik di dalam hal ini yang kita jumpai yaitu konflik
langsung ataupun tidak langsung.
a)
Konflik
langsung yang terjadi antara lain terjadinya kerusuhan antara 2 kubu organisasi
politik tersebut saat terjadinya kampanye langsung di lapangan. Bentrokan
terjadi diakibatkan sejumlah provokasi dari antara kubu-kubu organisasi politik
tersebut. Contohnya:
Di
era Orde Baru, bentrokan fisik antar massa pendukung partai juga terjadi. Meski
kontrol aparat keamanan sangat ketat waktu itu, tapi kekerasan politik antar
massa pendukung partai, juga sulit dihindari. Pada pemilu 1992 misalnya, di
Yogyakarta terjadi aksi pengusungan keranda jenazah, sebagai protes ”matinya
demokrasi.” Peristiwa ini dipicu oleh perlakuan yang diskriminatif terhadap PDI
dan PPP. Golkar yang didukung pemerintah dan aparat keamanan, diperbolehkan
melakukan kampanye dengan pawai alegoris dan konvoi kendaraan bermotor. Tetapi
pada giliran PDI berkampanye, secara mendadak dilarang menggunakan kendaraan
bermotor. Termasuk kerusuhan di Jakarta yang dikenal dengan peristiwa Lapangan
Banteng (1982).
b)
Konflik
tidak langsung yang terjadi antara lain adanya kampanye hitam atau biasa
disebut black campaign.
Istilah
kampanye hitam adalah terjemahan dari bahasa Inggris black campagne yang
bermakna berkampanye dengan cara buruk atau jahat. Buruk atau jahat dalam
pengertian merugikan orang lain atau lawan politik atau partai politik (parpol)
lain, sedangkan si empunya kampanye hitam itu berharap dirinya atau partainya
mendapatkan keuntungan. Ibarat peribahasa : mengeruhkan air, berharap ikan
muncul.
Secara
umum bentuk kampanye hitam adalah menyebarkan keburukan atau kejelekan seorang
politikus dengan tujuan :
Menjatuhkan
nama baik seorang politikus sehingga dia menjadi tidak disenangi teman-teman
separtainya, khalayak pendukungnya dan masyarakat umum. Apabila teman-teman
separtai tidak menyenanginya, maka bisa berakibat yang bersangkutan dikeluarkan
dari partainya dan ini berarti karier politiknya di partai tersebut hancur.
Bahkan mungkin sulit untuk diterima di partai yang lain. Apabila khalayak
pendukung atau masyarakat luas tidak menyenanginya, maka diharapkan yang
bersangkutan gagal terpilih dalam sebuah pencalonan.
Menjatuhkan
nama baik seorang politikus dengan tujuan menjatuhkan nama baik parpol tempat
si politikus yang berkarier, yang berefek kepada politikus-politikus lain di
parpol tersebut atau bahkan sekaligus menggagalkan calon presiden yang didukung
parpol tersebut (efek domino).
3.
Pengertian Kepemimpinan, Teori-teori
Kepemimpinan dan Tipologi Kepemimpinan.
a.
Pengertian
Kepemimpinan
Kepemimpinan
merupakan faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi prestasi
organisasi karena kepemimpinan merupakan aktivitas
yang utama dengan
mana tujuan organisasi dapat dicapai.
Pada umumnya kepemimpinan
di definisikan sebagai suatu proses
mempengaruhi aktivitas dari
individu atau kelompok untuk
mencapai tujuan dalam
situasi tertentu. Dari definisi
ini nampak bahwa
kepemimpinan adalah suatu
proses, bukan orang.
Banyak definisi
tentang kepemimpinan (Leadership), namun pada
intinya kepemimpinan ialah
mempengaruhi orang lain untuk
melakukan perbuatan ke arah yang dikehendaki. [4]
Definisi
kepemimpinan menurut para ahli. D.E. McFarland (1978) mengemukakan bahwa
kepemimpinan adalah suatu proses di mana pimpinan dilukiskan akan memberi
perintah atau pengaruh, bimbingan atau proses memengaruhi pekerjaan orang lain
dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. J.M. Pfiffner (1980)
mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah seni mengorganisasi dan memberi arah
kepada individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Oteng
Sutisna (1983) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mengambil
inisiatif dalam situasi sosial untuk menciptakan bentuk prosedur baru,
merancang dan mengatur perbuatan, dan dengan berbuat begitu membangkitkan kerja
sama ke arah tercapainya tujuan.[5]
Terry
dan Rue (1985) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah hubungan yang ada dalam
diri seorang pemimpin, mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama secara sadar
dalam hubungan tegas yang diinginkan.
Kepemimpinan
menurut Hughes, et al. (2002) berkenaan dengan keberanian mengambil risiko
dengan perhitungan yang matang, dinamika, kreativitas, inovasi, perubahan, dan
visi. Selanjutnya ditambah oleh Hughes, et al. (2002) “Leadership is
everyone’s business.” (Kepemimpinan adalah urusan semua orang) karena
setiap orang pada hakikatnya adalah pemimpin yang kelak diminta
pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya.
Kepemimpinan
menurut Yayerbaun dan Sherman (2008). “Leadership art of gaining cooperation
from people in order to accomplish something.” (Kepemimpinan adalah
tindakan mendapatkan kerja sama dari orang untuk mencapai sesuatu). Definisi
menurut Yayerbaun dan Sherman (2008) tersebut menyamakan definisi kepemimpinan
dengan definisi organisasi karena definisi organisasi mengandung: (1) ada
orang; (2) ada kerja sama; (3) ada tujuan yang ingin dicapai; (4) ada cara
mencapainya, yaitu efektif dan efisien. Kelemahan menurut Yayerbaun dan Sherman
(2008) adalah tidak adanya cara mencapai sesuatu, yaitu efektif dan efisien.
Semua
definisi kepemimpinan di atas memiliki kesamaan makna. Perbedaan definisi
hanyalah terletak pada penulisan redaksionalnya saja. Dari definisi
kepemimpinan dia atas dapat disimpulkan bahwa, kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.[6]
Kepemimpinan adalah kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi perubahan perilaku orang lain, baik langsung
maupun tidak langsung.[7]
Berdasarkan definisi di atas
kepemimpinan memiliki beberapa implikasi, yaitu :
1) Kepemimpinan
berarti harus melibatkan pihak lain, yaitu yang meliputi karyawan dan bawahan
(Followers).
2) Seseorang
pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya mampu menggugah
pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan.
3) Kepemimpinan
harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri, sikap bertanggung jawab yang
tulus, pengetahuan, keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan, kepercayaan
kepada diri sendiri dan orang lain, dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain
dalam membangun organisasi.
b.
Teori-Teori
Kepemimpinan[8]
Teori kepemimpinan adalah
Kepemimpinan atau Leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu
social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan
manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002).
1)
Teori
Sifat (The Traitist Theory of Leadership)
Teori ini mengemukakan bahwa untuk menemukan
sifat-sifat kepemimpinan yang baik, perlu diteliti secara induktif, mengamati
mereka yang diakui sebagai pemimpin yang berhasil dan menyebutkan sifat-sifat (traits)
yang dimilikinya masing-masing. Sifat-sifat yang selalu dimiliki para pemimpin
tersebut dianggap sebagai ukuran penting dan satu daftar sifat diajukan sebagai
syarat-syarat untuk menemukan potensi kepemimpinan seorang pemimpin.
Para ahli manajemen yang menganut teori sifat
ini antara lain E.E. Ghizeli, Thomas W. Harrell, Keit Davis, dan George R.
Terry
2)
Teori Perilaku.
Selama
tahun 1950an, ketidakpuasan
dengan pendekatan teori sifat
dengan kepemimpinan mendorong ilmuan perilaku
untuk memusatkan perhatiannya
pada perilaku pemimpin tentang
apa yang diperbuat
dan bagaimana ia melakukannya.
Dasar dari pendekatan gaya kepemimpinan diyakini
bahwa pemimpin yang
efektif menggunakan gaya (style) tertentu mengarahkan
individu atau kelompok untuk
mencapai tujuan tertentu.
Berbeda dengan teori sifat,
pendekatan perilaku dipusatkan
pada efektivitas pemimpin, bukan
pada penampilan dari pemimpin
tersebut. Teori perilaku
menekankan pada dua gaya
kepemimpinan yaitu gaya
kepemimpinan berorientasi tugas
(task orientation) dan orientasi
pada karyawan (employ orientation). Orientasi
tugas adalah perilaku
pimpinan yang menekankan bahwa
tugas-tugas dilaksanakan dengan
baik dengan cara mengarahkan
dan mengendalikan secara
ketat bawahannya. Orientasi Karyawan
adalah perilaku pimpinan yang
menekankan pada memberikan motivasi
kepada bawahan dalam melaksanakan
tugasnya dengan melibatkan
bawahan dalam
proses pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan tugasnya,
dan mengembangkan hubungan yang
bersahabat saling percaya
mempercayai dan saling menghormati di antara anggota kelompok.
3)
Teori
Kepemimpinan Situasional (The Situational Theory of Leadership)
Dalam Teori Kepemimpinan Situasional (The
Situational Theory of Leadership) ini, kepemimpinan dipengaruhi oleh
keadaan pemimpin, pengikut, organisasi, dan lingkungan sosial (ekonomi,
kebudayaan, agama, moral, dan politik).
Ahli manajemen yang menganut teori sifat ini,
yaitu Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard.
4)
Teori Keatribusian.
Menurut
model ini, bahwa
pemimpin pada dasarnya adalah
pengolah informasi. Dengan
demikian pemimpin akan mencari berbagai informasi tentang mengapa
sesuatu itu terjadi,
dan mencoba mencari
penyebabnya yang akan
dipergunakan sebagai pedoman perilaku pemimpin
c.
Tipologi
Kepemimpinan
Dalam
praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe
kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
1)
Tipe
Otokratis.
Seorang pemimpin yang
otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut:
Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi
dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak
mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan
formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang
mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
2)
Tipe
Militeristis
Seorang pemimpin yang bertipe
militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam
menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam
menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang
pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku
dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari
upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
3)
Tipe
Paternalistis.
Seorang pemimpin yang
tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri
sebagai berikut: menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa,
bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan
kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan
kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan
kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering
bersikap maha tahu.
4)
Tipe
Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli
belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki
karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik
yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya
sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan
mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan
tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering
hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib
(supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat
dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya,
Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah
seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu
terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat
digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.
5)
Tipe
Demokratis.
Pengetahuan tentang
kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang
paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan
ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan
selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang
termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan
organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang
menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha
mengutamakan kerja sama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat
kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat
kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain,
selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses dari padanya, dan
berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
4.
Leader
Versus Manager
Leader adalah seorang pemimpin yang mempunyai sifat sifat
pemimpin atau personality atau authority (berwibawa). Leader juga sangat
disegani oleh bawahannya atau lebihnya oleh karyawan. Pemimpin (Leader)
dapat memimpin organisasi formal maupun informal, dan menjadi panutan bagi
bawahan (pengikut)-nya. Biasanya tipe kepemimpinannya adalah “partisipatif
Leader” dan falsafah kepemimpinannya adalah “pimpinan untuk bawahan”.
Pemimpin merupakan salah satu inti sari manajemen, sumber daya pokok, dan titik
sentral dari setiap aktivitas yang terjadi dalam suatu perusahaan. Pemimpin
adalah seorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk
mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
Manajer adalah seorang pemimpin yang dalam praktik
kepemimpinannya hanya berdasarkan “kekuasaan atau authority formalnya”.
Di dalam ini stafnya atau karyawannya banyak yang takut dengan hukuman Manajer
tersebut, dikarenakan tekanan oleh Manajer. Dan Manajer hanya bisa memimpin
dengan cara formal saja. Manajer adalah seseorang yang mencapai tujuannya
melalui kegiatan-kegiatan orang lain.[9]
Dalam Manajer dan Leader ada 3 ciri perbedaan yang sangat jelas.
yakni:
a. Leader yang hanya melakukan inovasi, sedangkan
Manajer mengelola.
bisa kita pahami bahwa Leader harus mempunyai pemikiran baru, ide baru, gagasan baru untuk memajukan organisasi yang ia pimpin. Lalu Manajer bisa mempertahankan atau bagaimana cara mengelola ide tersebut, menetapkan apa yang diputuskan.
bisa kita pahami bahwa Leader harus mempunyai pemikiran baru, ide baru, gagasan baru untuk memajukan organisasi yang ia pimpin. Lalu Manajer bisa mempertahankan atau bagaimana cara mengelola ide tersebut, menetapkan apa yang diputuskan.
b. Leader menginspirasi dan kalau Manajer mengontrol.
Seorang pemimpin harus bisa menginspirasi bawahan agar bisa menjadi lebih baik,
bisa mengatasi dan membuat orang lain semangat kembali melakukan tugas yang
sudah ditetapkan oleh pemimpin. Manajer Kepemimpinan adalah bukan apa yang Anda
lakukan tetapi apa yang orang lain lakukan sebagai respon dari Anda, dalam
contoh kita menginspirasi mereka atau orang lain, jikalau dalam kita
mengkoordinasi orang lain masih belum ada yang mau mengikuti kita, bahwasanya
kita belum bisa mengkoordinir orang lain. Jikalau sukses itulah seorang awal kepemimpinan
kita. Manajer adalah untuk mempertahankan kontrol atas orang dengan
membantu mereka mengembangkan aset mereka sendiri dan mengeluarkan bakat mereka
yang terbesar. Untuk melakukan ini secara efektif, kita harus tahu
orang-orang yang bekerja dengan dan memahami kepentingan mereka serta apa
tujuannya.
c. Pemimpin
bertanya “what” dan “why,” sedangkan Manajer bertanya “how”. Pemimpin harus
menanyakan “apa” dan “mengapa” dalam artian pemimpin bisa mengetahui kondisi
perusahaan. Contoh: jika perusahaan kita mengalami kegagalan, pekerjaan
Leader adalah untuk datang dan berkata, “Apa yang kita dapat pelajari dari hal
ini?” Dan “Bagaimana kita menggunakan kegagalan ini untuk memperjelas
tujuan kita atau mendapatkan sesuatu yang lebih baik?” Sebaliknya,
Manajer tidak terlalu berpikir tentang apa artinya kegagalan. Tugas mereka
adalah untuk bertanya “bagaimana” dan “kapan” untuk memastikan orang lain.
melaksanakan rencana yang sesuai. dan lebih seperti tentara di militer. Mereka
tahu bahwa perintah dan rencana yang penting dan tugas mereka adalah untuk
menjaga visi mereka pada tujuan perusahaan saat ini
5. Peran Pemimpin
Pada
dasarnya, pemimpin memotivasikan dan membimbing perilaku anggotanya bukan
pemimpin untuk memengaruhi rencana itu dan menyelesaikan pekerjaan yang
dikehendaki itu.[10]
Pemimpin
itu haruslah mampu untuk menggunakan kecakapan untuk mengajar secara yang
menguntungkan melalui mengilhami, mendemonstrasikan, membetulkan dan
menunjukkan dengan contoh-contoh.[11]
Menurut
Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah:
a.
Peran
hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin yang
dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
b.
Fungsi
Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
c.
Peran
Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber
alokasi, dan negosiator
C.
KESIMPULAN
Berdasarkan
uraian sebelumnya, Penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1.
Kekuasaan
adalah kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan atau kejadian.
2.
Politik
berasal dari bahasa Yunani yaitu: Politikus, yang berarti dari atau yang
berkaitan dengan warga negara. Dalam bahasa Inggris disebut politic yang
berarti bijaksana, beradab, atau belaka
3.
Budaya
organisasi adalah seperangkat
asumsi, nilai dan
norma yang dikembangkan dalam
organisasi dan telah menjadi perilaku para anggota organisasi di dalam
mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di dalam maupun di luar
organisasi.
4. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi perubahan perilaku orang lain, baik langsung maupun tidak langsung.
5. Leader adalah seorang pemimpin yang mempunyai sifat
sifat pemimpin atau personality atau authority (berwibawa).
6. Manajer adalah seorang pemimpin yang dalam praktik
kepemimpinannya hanya berdasarkan “kekuasaan atau authority formalnya”.
DAFTAR RUJUKAN
Danin, Sudarwan. 2006. Visi Baru Manajemen
Sekolah. PT Bumi Aksara: Jakarta.
H. Malayu. 2001. Manajemen (Dasar, Pengertian, dan Masalah). Bumi
Aksara: Jakarta.
Handoko, Hani. 2015. Manajemen,
BPFE-YOGYAKARTA: Yogyakarta.
Herlambang, Susatyo. 2014. Perilaku
Organisasi (Cara Mudah Mempelajari Perilaku Manusia dalam Sebuah Organisasi). Gosyen
Publishing: Yogyakarta.
R. Terry & W, Rue. 2014. George R. Terry & Leslie W. Rue. Dasar-Dasar
Manajemen. PT Bumi Aksara: Jakarta.
Tahir, Arifin. 2014. Perilaku Organisasi. DEEPUBLISH (Grup
Penerbitan CV BUDI UTAMA): Yogyakarta.
Usman, Husaini.
2013. Manajemen (Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan). Edisi 4, PT. Bumi
Aksara: Yogyakarta.
Mukhtasyarzulfajri. https://mukhtasyarzulfajri.wordpress.com/2014/04/27/teori-organisasi-politik/. (27, April 2014).
Ryo Farrell
Silfa. Pengertian Kepemimpinan, Teori-Teori Kepemimpinan, Tipe/Jenis
Kepemimpinan. http://tugasfarrell.blogspot.com/. (02 November 2012).
Ipanwicaksono. Tipologi Kepemimpinan. https://ipanwicaksono.wordpress.com/tag/tipologi-kepemimpinan/. (15 May 2014) .
[1] Susatyo Herlambang, Perilaku Organisasi
(Cara Mudah Mempelajari Perilakuku Manusia dalam Sebuah Organisasi), Yogyakarta: Gosyen Publishing, 2014, hlm.
108.
[4] Ibid., hlm. 67.
[6] Husaini Usman, Manajemen (Teori, Praktik, dan Riset
Pendidikan), edisi 4, Yogyakarta : PT. Bumi Aksara, 2013, hlm. 311.
[8] H. Malayu, Manajemen (Dasar, Pengertian, dan Masalah), Jakarta: Bumi Aksara, 2001, hlm. 203.
[10] George R. Terry
& Leslie W. Rue. Dasar-Dasar Manajemen. (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2014), hlm. 193.

No comments :