BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dalam suatu organisasi ada dua pola
kepemimpinan yaitu kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan
transformasional. Kedua gaya kepemimpinan ini sangat penting dan dinutuhkan
dalam organisasi. Kepemimpinan transaksional dibutuhkan untuk memberikan arahan,
dan menjelaskan perilaku yang diharapkan. Sementara itu organisasi juga
membutuhkan visi dan dorongan yang dibentuk oleh kepemimpinan transformasional.
Namun demikian menurut Bass bahwa dalam satu untuk kepemimpinan diyakini dapat
mengimbangi pola pikir dalam refleksi paradigma baru dalam arus globalisasi
dirumuskan sebagai kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional
digambarkan sebagai gaya kepemimpinan yang dapat membangkitkan atau memotivasi
karyawan, sehingga dapat berkembang dan mencapai kinerja pada tingkat tinggi,
melebihi dari apa yang mereka perkirakan sebelumnya. Selain itu, gaya
kepemimpinan transformasional dianggap efektif dalam situasi dan budaya apa pun.
Sedangkan menurut Robbins
kepemimpinan transformasional itu dimiliki oleh seorang pemimpin yang
mencurahkan perhatiannya pada persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
pengikutnya dengan cara memberikan semangat dan dorongan untuk mencapai
tujuannya. Kepemimpinan transformasional inilah yang sungguh-sungguh diartikan
sebagai kepemimpin sejati karena kepemimpinan ini sungguh bekerja menuju
sasaran pada tindakan mengarahkan organisasi kepada suatu tujuan yang tidak
pernah diraih sebelumnya. Secara lebih jelas Robbins menambahkan bahwa gaya
kepemimpinan transformasional yaitu seorang pemimpin yang menstimulasi dan
menginspirasi (transformasi) bawahan untuk mencapai hasil yang luar biasa.
Dengan demikian esensi dari
kepemimpinan transformasional menunjukkan bahwa seorang pemimpin akan
menyebabkan pengikutnya melakukan sesuatu yang lebih dari yang diharapkan, dan
percaya bahwa pemimpinanya tidak akan mengambil keuntungn dari mereka. Pengikut
yang memiliki kepercayaan yang lebih akan memberikan sesuai dengan apa yang
seharusnya, sehingga standar kerja yang diharapkan dapat tercapai.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini, antara lain:
1.
Apakah
pengertian dari Kepemimpinan Pendidikan Transformasional
2.
Bagaimanakah
Konsep Kepemimpinan Pendidikan Transformasional?
3.
Bagaimanakah
Perilaku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional?
4.
Bagaimanakah
perilaku kepemimpinan transformasional
dalam pandangan Islam?
5.
Bagaimanakah
Kepribadian Kepemimpinan Pendidikan Transformasional?
6.
Bagaimanakah
media perilaku kepemimpinan pendidikan Transformasional?
1.3
Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini
sebagai berikut:
1.
Memahami
Makna Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.
2.
Memahami
Konsep Kepemimpinan Pendidikan Transformsasional.
3.
Memahami
Perilaku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.
4.
Memahami
Perilaku kepemimpinan Transformasional
dalam pandangan Islam.
5.
Memahami
Kepribadian Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.
6.
Mengetahui
media perilaku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Kepemimpinan Pendidikan Transformasional
Dalam dunia pendidikan kita akan
menemui beberapa hal yang berkaitan dengan kepemimpinan, karena suatu lembaga
pendidikan tidak akan bisa mencapai tujuan yang diharapkan tanpa adanya asas
kepemimpinan yang mendasari suatu lembaga pendidikan. Namun dalam praktIiknya kepemimpinan
pendidikan memiliki macam-macam gaya, salah satunya adalah kepemimpinan
pendidikan yang bersifat
transformasional.
Istilah kepemimpinan
transformasional terdiri atas dua suku kata, yaitu kepemimpinan (leadership)
dan transformasional (transformation), adapun istilah transformasional
berinduk dari kata to trasform yang bermakna mentransformasikan atau
mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda. Misalnya mentransformasikan
visi menjadi realita, abstrak menjadi konkret, panas menjadi energi, potensi
menjadi aktual, dan lain-lain. Transformasional karenanya mengandung makna
sifat-sifat yang dapat mengubah sesuatu menjadi bentuk lain.[1]
Kepemimpinan pendidikan
transformasional didefinisikan sebagai gaya kepemimpinan yang lebih
mengutamakan pemberian kesempatan, dan mendorong semua unsur yang ada dalam
lembaga pendidikan untuk bekerja atas
dasar nilai (value system) yang luhur. Sehingga, semua unsur yang ada
pada lembaga pendidikan bersedia, tanpa paksaan, berpartisipasi secara optimal
dalam mencapai tujuan ideal suatu lembaga pendidikan.[2] Bentuk
kepemimpinan yang diperkenalkan oleh Burn pada tahun 1978 mengemukakan kembali
seiring dengan perubahan yang cepat, dan kompleks dalam kehidupan manusia.[3]
Namun ada beberapa yang mengemukakan
pendapatnya tentang kepemimpinan transformasional, bahwa kepemimpinan merupakan
suatu proses saling menguatkan di antara para pemimpin dan pengikut ke tingkat
moralitas dan motivasi yang lebih tinggi.[4] Bukan
hanya langsung dari atas ke bawah (top-down), namun juga dapat diamati
secara tidak langsung, dari bawah ke atas (bottom up), dan secara
horizontal. Pemimpin di sini bukan hanya mereka yang berada pada level
manajerial tertinggi dalam organisasi, tetapi mereka juga yang berada pada
level formal dan informal, tanpa memperhatikan posisi atau jabatan mereka.
Dalam sumber lain mengemukakan
kepemimpinan pendidikan transformasional merupakan sebagai pengaruh atasan
terhadap bawahan sehingga para bawahan
merasakan adanya kepercayaan, kebanggaan, loyalitas serta rasa hormat kepada
atasan, dan mereka termotivasi untuk melebihi apa yang diharapkan. Sekaligus
harus bisa mengartikan dengan jelas mengenai sebuah visi untuk organisasi, sehingga
para pengikutnya akan menerima kredibilitas pemimpin tersebut, termasuk guru
untuk mendahulukan kepentingan organisasi sekolah.[5]
2.2
Konsep Kepemimpinan Pendidikan Transformasional
Kepemimpinan adalah proses perilaku
untuk memenangkan hati, pikiran, emosi dan perilaku orang lain untuk
berkontribusi terhadap terwujudnya visi. Namun, pada umumnya definisi tentang
kepemimpinan akan selalu dikaitkan dengan perilaku mempengaruhi orang lain,
misalnya kepemimpinan adalah proses di mana seseorang atau sekelompok orang
(tim) memainkan pengaruh atas orang lain (tim) lain, menginspirasi, memotivasi,
dan mengarahkan aktivitas mereka untuk mencapai tujuan.[6]
Menciptakan pengaruh adalah inti
dari aktivitas kepemimpinan, karena dalam hal ini dapat berupa menggerakkan, mengorganisir
dan sebagiannya. Hal yang mempengaruhi kepemimpinan ada banyak hal dan kondisi
yang memengaruhi kepemimpinan, yang di mana menjadi pemimpin tidak hanya
menguasai teori-teori, namun menjadi pemimpin itu harus juga memilik teknis
untuk menjalankan suatu kegiatan dalam kepemimpinannya.
Di sini dijelaskan bahwa faktor-faktor
tersebut dibagi menjadi dua:
a.
Faktor kemampuan personal
Adalah
kombinasi potensi sejak pemimpin dilahirkan ke dunia dan factor pendidikan yang
dilalui. Jika seseorang lahir diberi kemampuan dasar kepemimpinan, ia akan
lebih hebat jika mendapat perlakuan edukatif dari lingkungan, jika tidak, dia akan sama dengan individu lain
dengan kemampuan standar.[7]
Dalam
kepemimpinan, faktor pribadi yang berupa berbagai kompetensi yang dimiliki
sangat mempengaruhi proses kepemimpinannya. Dalam hal ini, konsepsi proses
kepemimpinan umumnya memusatkan perhatian kepada pribadi pemimpin dengan
berbagai kualitas yang dimilikinya. Dalam zaman dulu, seseorang dikatakan
memiliki kualitas, jika ia dilahirkan pada keluarga bangsawan “orang besar”[8] yang
pada saat sekarang ini sudah tidak relevan lagi. Seseorang pemimpin di era
modern didasarkan pada beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain
dalam kelompoknya, seperti kecerdasan, tingkat pendidikan, bertanggung jawab,
aktivitas, dan partisipasi sosial serta status ekonomi sosial.[9]
b.
Faktor kemampuan jabatan.
Adalah struktur kekuasaan yang dipimpin diduduki oleh
seseorang. Jabatan tidak dapat dihindari
terlebih dalam kehidupan modern saat ini, semuanya seakan tersrukturivikasi.
Dua orang mempunyai kemampuan yang sama namun, yang satu di antara mereka
memiliki jabatan dan mempunyai tingkatan dan pengaruh yang berbeda.
Situasi khusus selalu membutuhkan tipe kepemimpinan yang khusus
pula. Seorang pemimpin dalam hal ini harus memiliki fleksibilitas yang tinggi
terhadap situasi dan kondisi yang menyertai para bawahannya. Bila tidak, yang
akan muncul bukan komitmen (kepatuhan) tetapi resistensi (perlawanan) dari para
bawahan akhirnya berakibat pada tidak efektifnya suatu kepemimpinan.[10]
Dengan adanya konsep-konsep kepemimpinan yang sudah ada di atas, maka
terbentuklah konsep kepemimpinan pendidikan transformasional, yaitu:
Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional ini dikemukakan
oleh Burn yang menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah
proses di mana pemimpin dan para bawahannya berusaha untuk mencapai tingkat
mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi.[11] Seseorang
pemimpin dikatakan transformasional diukur dari tingkat kepercayaan, kepatuhan,
kekaguman, kesetiaan, dan rasa hormat pada pengikutnya. Para pengikut atau
karyawan pemimpin transformasional selalu termotivasi untuk melalukan hal yang
lebih baik lagi untuk mencapai sasaran organisasi.
Kepemimpinan transformasional ini memiliki keterkaitan dengan kepemimpinan karismatik.
Mengapa demikian?, karisma itu sangat pengaruh atau sangat penting dalam
organisasi, namun karisma juga tidak cukup dalam menjalankan kepemimpinan
transformasional. Dalam hal ini, perbedaan yang paling menonjol adalah para
pemimpin transformasional mencoba untuk memberikan kekuasaan sesuai dengan
kapasitas kewenangan masing-masing dan memberdayakan bawahan tetapi pada
karismatik boleh jadi pemimpin mencoba untuk membuat para pengikutnya tetap lemah agar selalu
merasa tergantung patuh padanya.
2.3
Perilaku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional
Dalam
sistem kepemimpinan yang diterapkan dalam pendidikan tidak akan lepas dari
perilaku seorang pemimpin, demi tercapainya tujuan. Sama halnya dengan
kepemimpinan pendidikan transformasional
yang memiliki perilaku dalam pelaksanannya.
Adapun
pendapat Bass yang sangat berkaitan langsung dengan perilaku Transformasional
Leadership yang sering disebut dengan 4I, yaitu: Idealized influence
(charisma), Intellectual stimulation, Individualized consideratio,
Inspirational Motivation.[12]
1. Idealized influence (charisma)
Pemimpin transformasional adalah orang yang memang mempunyai kepribadian yang bersih, tulus penyayang
bahkan terhadap binatang. Kepribadian bersih, tulus di atas sehingga dia mudah
mendapatkan do’a atau harapan baik dari yang lainnya atau bahkan dari Allah
SWT. Kepribadian para rasul dan nabi bahwa mereka sebelum mereka diangkat
menjadi orang yang dipercaya oleh Allah SWT mereka adalah orang-orang yang
mengusahankan dirinya untuk terhindar dari perbuatan yang tidak baik. Demi
melengkapi penjelasan diatas maka di bawah inilah perrilaku-perilaku yang dapat
ditemui pada Idealized influence (charisma), antara lain:
a.
Mengembangkan
dialog dan tukar pikiran dengan para bawahannya
b.
Mampu
menjadi panutan bagi para bawahannya.
c.
Membangun
percaya diri, berarti self-esteen, dan sense of purpose kepada
bawahannya.
2. Intellectual stimulation
Tugas menyetimulasikan intelektualitas staf/karyawan sangatlah
diperlukan, apalagi saat emosi dan intelektualitas organisasi tidak mengarah
kepada perkembangan dan perbaikan. Misalnya suatu lembaga berjalan prosedural
sebaimana perencanaannya tidak ada kreativitas pengembangan begitupun anggota
organisasinya yang hanya berkerja sesuai standar yang telah ditentukan. Maka,
pemimpin dapat menyetimulasi intelektualitas karyawannya dengan mengajak untuk
tidak berfikir dan bersikap tidak perlu procedural dalam mengusahakan sesuatu
untuk mencapai dari visi dan misi.
Pemimpin dapat menyetimulasi intelektualitas karyawannya dengan
mengajak untuk berfikir dan bersikap terlalu prosedural dalam mengusahakan
sesuatu untuk mencapai dari visi dan misi organisasi. Pemimpin juga juga harus
dapat menyetimulasi intelektualitas karyawannya dengan mengajak mereka
berimanjinasi, menemukan hal-hal baru dan penyemangat perubahan. Seperti yang
dibawah ini:
a. Mendorong
bawahannya untuk selalu mengembangkan akal sehat dan kreatifitas
b. Mendorong
bawahannya untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan dan penyelesaian
masalah
3. Individualized consideration
Bentuk
perilaku ini merupakan kepemimpinan
dengan mendekatkan diri kepada karyawan secara emosi, pemimpin tranformasional
selalu beruaha hadir untuk kumpul bersama dengan dosen/guru, karyawan atau
mahasiswa, melalui jamaah masjid, kegiatan khatmil quran dan sebagainya.
Pemimpin
dapat memberikan perhatian secara individu terhadap karyawan dengan sering
mengahadirkan dirinya dalam tiap kesempatan misalnya shalat jamaah, khatmil qur’an, datang ketempat kerja
mereka atau ke rumah, pemimpin dapat memberikan perhatian secara individu
terhadap karyawan dengan bertukar pengalaman dengan mereka. Dan pemimpin dapat
memberikan perhatian secara individu terhadap karyawannya memberikan kesempatan
dan menfasilitasinya untuk studi lanjut. Seperti uraian di bawah ini:
a.
Menunjukkan
perhatian atas kelebihan bawahannya sebagai pribadi
b.
Mendidik,
mendorong, peduli, dan membimbing bawahannya dalam suasana konsultatif dan
terbuka
4. Inspirational Motivation
Dalam hal ini ia menjadi pemimpin kesadaran berorganisasi seluruh
anggota organisasi, ia mudah mempengaruhi pandangan mereka terlebih dalam
keputusan-keputusan penting organisasi. Dengan demikian ia mudah
memberikan motivasi dan inspirasi pada
karyawan atau bawahan. Untuk menimbulkan inspirasi dan motivasi bagi karyawan,
pemimpin transformasional menjadi orang yang terdepan dalam melakukan sesuatu,
dia memulai dirinya sendiri untuk menjadi tauladan bagi bawahannya, dengan
jargon “ibda’ binafsik” (memulai dari diri sendiri). Dia juga
mempercepat keberhasilan (menghasilkan bukti bukan janji) akan visinya untuk
menginspirasi dan memotivasi mereka dalam kegiatan yang ada dalam organisasi
menjadikan dirinya tauladan. Pemimpin dapat menginspirasi dan memotivasi
karyawannya dengan menjadi pertama dan terdepan dalam melakukan sesuatu yang
pantas di tiru. Seperti yang telah dipaparkan diatas tadi, maka dibawah ini
merupakan uraian secara rinci tentang perilaku Inspirational Motivation, sebagai
berikut:
a.
Membangun
kesadaran para bawahannya tentang visi dan misi organisasi
b.
Menggunakan
isyarat dalam mengarahkan bawahannya. Mampu menjadi model yang menunjukkan
perilaku yang patut diteladani.[13]
2.4
Perilaku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional dalam Pandangan Islam
Dalam
pandangan Islam kepemimpinan pendidikan transformasional memiliki pijakan atau dasar yang menggunakan istilah
“al-hijrah” dan “al-jihadu”.[14] Dalam
kedua lafadzh ini meiliki korelasi yang kuat, karena kedua lafadzh itu sesuai
dengan tujuan dari kepemimpinan transformasional yaitu:mengubah sesuatu menjadi
bentuk yang lain. Maka kita akan membahas lafadzh “al-hijrah”
terlebih dulu.
a.
Al-hijrah
Kata al hijrah adalah lawan kata dari kata al-washol (sampai-sambung).
Hajarahu mempunyai arti memutuskannya. Secara umum para ulama’
menemukakan makna al hijrah secarah istilah dengan berbagai definisi dengan
menyimpulkan dari beberapa pandangan tokoh ahli filsafat, agama, serta tasawuf.
Maka dapat disimpulkan menjadi dua pendapat, antara lain:
1.
Adanya
perpindahan itu sama-sama bertujuan untuk meciptakan hal yang lebih baik.
2.
Terwujudnya
hal yang lebih baik sama-sama akan dilalui dengan cara mengubah dan memindahkan
segala sesuatunya agar terjadi perbaikan dan perubahan (transformation and
change).
Dalam konteks organisasi titik hijrah berada di luar batas-batas
dan garis-garis tatanan lama yang tidak baik, kemudian berusaha mewujudkan
tatanan yang baru lebih baik, hijrah tidak hanya berada pada tatanan hardware
organisasi berupa gedung dan fasilitas fisik lainnya melainkan juga dalam
tatanan-tatanan software organisasi berupa hubungan antara pemimpin
dengan karyawan, pemimpin dan karyawan dengan organisasi dan seterusnya.[15] Transformasi
itu mendambakan kebaikan hubungan sosial, ekonomi, psikologis, kultural, intelektual,
perhatian individu, saling motivasi, saling inspirasi dan sebagainya.
Pemimpin yang berparadigma dan berperilaku hijrah (kepemimpinan
transformasional) akan membaktikan dirinya hanya semata-mata untuk jalan
kebenaran, keadilan, dan lain-lain.Hijrah bagaikan garis pemisah antara hidup
dan mati, antara ketidakbebasan dan kemerdekaan, antara diskriminasi dan
keadilan, antara status quo dan perubahan. Al-qur’an berkata kepada para pemimpin
transformasional:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا
آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ
ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ . قُلْ إِنْ كَانَ
آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ
اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ
إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ
يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya:
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya,maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.(Q.S.At-taubah:23-24).
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya,maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.(Q.S.At-taubah:23-24).
Pemimpin
transformasional (hijrah) yang mempunyai kepercayaan tinggi kepada nilai-nilai
besar, agung, mulia dan luhur kemudian memperjuangkannya bahkan menularkannya
kepada seluruh karyawan organisasi harus siap mentransformasi diri untuk
jeratan materi duniawi seperti jabatan, harta benda, keluarga untuk kemudian
komitmen untuk mewujudkan tujuan mulia sebagaimana yang telah divisikan.[16]
b.
Al-jihadu
Selain hijrah perilaku jihad juga menjadi strategi
dan taktik untuk memperjuangkan dan melindungi terciptanya perubahan dan
perbaikan organisasi. Secara harfiah, jahada berarti berjuang, berusaha
keras dan berperang atau melawan. Jihad adalah berusaha keras dan berjuang
untuk alasan dan tujuan tertentu.[17] Dan telah disebutkan dalam suatu ayat al-quran, yaitu:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ
اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,
benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Q.S
Al-Ankabut: 69).
Sesuai dengan
penjelasan ayat di atas, bahwasanya para pemimpin yang berkeinginan kuat
mewujudkan transformasi organisasi dengan tulus dan penuh dedikasi lebih tinggi
kedudukannya dibandingkan dengan orang-orang yang mempertahankan keberadaan
organisasi dan hanya lip-service terhadap nilai-nilai luhur, agung, besar
dan kebesaran moralitas.[18]
2.5
Kepribadian Kepemimpinan Pendidikan Transformasional
Pemimpin transformasional memiliki kemampuan untuk memposisikan
dirinya seperti pandangan lawan bicaranya semisal dosen karyawan terlebih tamu
lembaga. Pada dirinya dan pola pikirnya juga tidak tampak kesombongan
intelektual, serta hal yang paling menonjol pada diri pemimpin transformasional
adalah keberaniannya untuk mengutarakan ide dan gagsannya tanpa takut ada
kritik, ketidakterimaan maupun ketidaksesuaian.
Pola pikir empati juga dapat dilihat dari sosok pemimpin
transformasional, pemimpin ini memahami secara emosional dan berempati, ia
kemudian mengajak keluar sebuah hidup yang tidak baik menuju kehidupan yang
lebih mulia. Namun dengan pola pikirnya yang bertanggung jawab atas apa yang
pemimpin katakan di depan bawahannya (intellectual integrity).[19]
Sebagai misal pemimpin transformasional mewajibkan kepada
bawahannya untuk berkarya, dan punya prestasi, maka ia secara tekun menciptakan
karya, mengajak berkorban maka ia menjadi orang pertama yang mengorbankan apa
yang dimiliki untuk lembaga.pola pikir pemimpin transformasional juga kritis
dan selektif dalam mendengarkan suatu informasi yang masuk padanya sehinngga
seseorang pemimpin transformasioanal tidak akan dengan mudahnya untuk
menghakimi para bawahannya. Pemimpin transformasional juga mempunyai keinginan
untuk memerdekakan karyawannya, melatih pikiran karyawan menjadi lebih mandiri,
otonom, dan independen serta memiliki kemampuan untuk merefleksi kemudian
mengambil hikmah dan menentukan cara pandang baru atau menambahkan akan keyakinan diri dan sebagainya (intellectual
reflective).
Menjadikan sesosok pemimpin transformasional sebagai uswah hasanah
atau role model bagi bawahannya agar ditiru serta menonjol pola pikir untuk
selalu berjuang dan berkorban untuk lembaga ke depan. Apabila kita simpulkan
bahwa pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memiliki berbagai pola
pikir, antara lain:
a.
intellectual courage.
b.
intellectual integrity.
c.
intellectual reflective.
d.
intellectual movement.
e.
intellectual struggle.
f.
intellectual sacrifice.
Perkataan dan perilakunya pemimpin transformasional juga banyak
menggambarkan cinta pada dirinya pribadi
serta akan selalu tampil dengan senyum dan cenderung lembut dalam mengarahkan
dan berkomunikasi sekaligus cinta dalam memperjuangkan untuk membesarkan
lembaga dan terdapat cinta dalam berhubungan dengan yang dipimpin.
2.6
Media Perilaku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional
Dalam perilaku kepemimpinan pendidikan transformasional seperti
yang telah kita ketahui memiliki ciri tersendiri pada setiap perilakunya. Maka
hal itu dapat dipraktikkan melalui media[21] yang ada pada tabel berikut:
MEDIA PERILAKU KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN TRANSFORMASIONAL
|
|||
Idealized influence
|
Inspirational motivation
|
Intellectual stimulation
|
Individual consideration
|
Pidato umum
|
Pidato umum
|
Pidato umum
|
Khatmil qur’an
|
Rapat
|
Rapat
|
Rapat
|
Shalat jama’ah
|
Kultum
|
Kultum
|
Kultum
|
Kebijakan
|
Tulisan
|
Tulisan
|
Tulisan
|
Pendelegasian
|
Perilaku keseharian
|
Kebijakan
|
Memfasilitasi studi lanjut
|
Berbicara secara pribadi
|
Restrukrisasi
|
Lembaga penerbitan karya
|
Makan bersama
|
|
Pembenahan sarana prasarana
|
Pemasangan simbol kreativitas dan inovasi
|
Mengunjungi tempat kerja karyawan
|
|
Pembenahan sistem administrasi
|
Tersenyum, menyapa, dan bertanya
|
||
Efektivitas komunikasi birokrasi
|
Perilaku keseharian
|
Perilaku keseharian
|
|
Perilaku keseharian
|
|||
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1.
Kepemimpinan
pendidikan transformasional
didefinisikan sebagai gaya
kepemimpinan yang lebih mengutamakan pemberian kesempatan, dan mendorong semua
unsur yang ada dalam lembaga pendidikan untuk bekerja atas dasar nilai (value system) yang
luhur. Sehingga, semua unsur yang ada pada lembaga pendidikan bersedia, tanpa
paksaan, berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan ideal suatu
lembaga pendidikan
2.
Konsep
kepemimpinan pendidikan transformasional. Ada banyak hal dan kondisi yang
memengaruhi kepemimpinan, yang dimana menjadi pemimpin tidak hanya menguasai
teori - teori, namun menjadi pemimpin
itu harus juga memilik teknis untuk menjalankan suatu kegiatan dalam
kepemimpinannya. Disini dijelaskan bahwa faktor-faktor tersebut dibagi menjadi
dua: Faktor kemampuan personal, dan Faktor jabatan.
3.
Perilaku
kepemimpinan pendidikan transformasional, terdiri dari: Idealized influence (charisma), Intellectual
stimulation, Individualized consideration, dan Inspirational Motivation
4.
Perilaku kepemimpinan pendidikan transformasional dalam pandangan Islam,
terdiri dari: Al-hijrah, dan Al-jihadu
5.
Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang memiliki berbagai
pola pikir, antara lain: intellectual courage, intellectual integrity,
intellectual reflective, intellectual movement, intellectual struggle., dan
intellectual sacrifice.
6.
Media
perilaku kepemimpinan pendidikan transformasional, terdiri dari: Idealized influence, seperti perilaku keseharian,
Inspirational motivation, seperti kebijakan, Intellectual stimulation,
seperti mensfasilitasi studi lanjut, dan Individual consideration, seperti
berbicara secara pribadi.
DAFTAR
PUSTAKA
Bass, B.M and Avolio B.J. 1994. Improving
Organiational effectiveness: through transformational Leadership. London: SAGE
publication.
John Aldair. 1994. Menjadi Pemimpin Efektif (terjemah oleh Andre
Asparyogi). Jakarta: Kerjasama Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen
dengan PT Binaman Pressindo.
Karim Mohhamad. 2010. Pemimpin
Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI Press.
Khilmiyah, Akif. 2015. Kepemimpinan
Transformasional Berkeadilan Gender: Konsep dan Implementasi di madrasah. Yogyakarta:
Samudera Biru.
Northouse, P.G. 2007. Leadership:
Theory and Practice. London: SAGE Publication.
Robbins, Stephen P. dan Judge, Timothy
A. 2009. Organizational Behavior. New Jersey: Pearson Edcaton inc.
Sudarman, Danim. 2005. Menjadi
Komunitas Pembelajar (Kepemimpinan transformasional dalam komunias organisasi
pembelajaran). Jakarta: Bumi aksara.
Supriyadi Legino. 2009. Menjawab Tantangan
Reformasi Birokrasi (Kepemimpinan Transformasional dan Organisasi Lateral). Indonesia
Press: Jakarta.
Vincen Gasper. 2007. Organizational
Excelence. Jakarta: Gramedia.
[1] Sudarman, Danim.
Menjadi Komunitas Pembelajar(Kepemimpinan transformasional dalam komunias
organisasi pembelajaran). Jakarta: bumi aksara, 2005, hal.53
[2] Khilmiyah, Akif.2015.
Kepemimpinan Transformasional Berkeadilan Gender: Konsep dan Implementasi di
madrasah.Yogyakarta: Samudera Biru. hal 18.
[3] Robbins, Stephen
P. dan Judge, Timothy A.2009.Organizational Behavior. New Jersey: Pearson
Edcaton inc. hal 452
[4] Northouse,
P.G.2007. Leadership: Theory and Practice. London: SAGE Publication. hal
176
[5] Bass, B.M and
Avolio B.J, 1994. Improving Organiational effectiveness: through transformational
Leadership. London: SAGE publication.hal 4.
[6] Vincen
Gasper.2007.Organizational Excelence.Jakarta:Gramedia.hal 35-36.
[7] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal 25.
[8] Teori ini
beranggapan bahwa hak untuk memimpin merupakan hak mutlak/hak waris dari
keturunan para raja dan bangsawan.
[9] John Aldair, 1994.
Menjadi Pemimpin Efektif (terjemah
oleh Andre Asparyogi). Jakarta: Kerjasama Lembaga Pendidikan dan Pembinaan
Manajemen dengan PT Binaman Pressindo. hal 13.
[10] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal26-27.
[11] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal 34
[12] Bass, B.M and
Avolio B.J, 1994. Improving Organiational effectiveness: through
transformational Leadership. London: SAGE publication. hal 4-7.
[13] Supriyadi
Legino. 2009. Menjawab Tantangan Reformasi Birokrasi (Kepemimpinan
Transformasional dan Organisasi Lateral). Indonesia Press: Jakarta. hal 97
[14] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal 116-117
[15] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal 121-122
[16] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal 123-124
[17][17] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal 135
[18] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang :UIN-MALIKI
Press. hal 136
[19] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal 194
[20] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press. hal 192
[21] Karim Mohhamad,
2010. Pemimpin Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam. Malang: UIN-MALIKI
Press.hal 193

No comments :