BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu dalam prosesnya telah menciptakan peradaban bagi
manusia, mengubah wajah dunia, dan masuk ke setiap lini kehidupan sebagai
sarana yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Sehingga manusia
berhutang banyak terhadap ilmu. Namun, ketika ilmu berbalik menjadi musibah
bagi manusia, di saat itulah dipertanyakan kembali untuk apa seharusnya ilmu
itu digunakan. Dalam persoalan ini, maka ilmuwan harus kembali pada persoalan
nilai dan etika dalam bingkai ilmu agar ilmu tidak bergerak ke arah yang
membahayakan.
Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada
hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya, mulai mempertanyakan untuk apa
sebenarnya ilmu itu dipergunakan? Di mana
batas wewenang penjelajahan keilmuan dan ke arah mana perkembangan ilmu yang
seharusnya. Pertanyaan yang semacam ini jelas tidak melupakan urgensi bagi
keilmuan.
Namun pada abad ke-20 para ilmuwan mencoba menjawab
pertanyaan ini dengan berpaling pada hakikat moral atau nilai.
Nilai (values) termasuk dalam pokok bahasan
penting dalam filsafat ilmu, di samping itu digunakan juga untuk menunjuk kata
benda yang abstrak dan dapat diartikan sebagai keberhargaan (worth) atau
kebaikan (goodness).
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian nilai dan ilmu?
2. Bagaimana pentingnya nilai kegunaan ilmu?
3. Apa saja macam-macam nilai?
4. Apa saja karakteristik nilai?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian nilai dan ilmu.
2. Mengetahui pentingnya nilai kegunaan ilmu.
3. Mengetahui saja macam-macam nilai.
4. Mengetahui saja karakteristik nilai.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Nilai dan Ilmu
Nilai (values) termasuk dalam pokok bahasan
penting dalam filsafat ilmu, di samping itu digunakan juga untuk menunjuk kata
benda yang abstrak dan dapat diartikan sebagai keberhargaan (worth) atau
kebaikan (goodness).
Menilai berarti menimbang, yakni sesuatu kegiatan untuk
menghubungkan sesuatu dengan yang lain kemudian dilanjutkan dengan memberikan
keputusan. Keputusan ini menyatakan apakah sesuatu itu bernilai positif
(berguna, indah baik, dan seterusnya) atau sebaliknya, bernilai negatif. Hal
ini dihubungkan dengan unsur-unsur yang ada pada manusia, yaitu jasmani, cipta,
rasa, karsa, dan kepercayaan. Dengan demikian, nilai dapat diartikan sebagai
sifat atau kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik
lahir maupun batin. Bagi manusia, nilai dijadikan landasan, alasan, atau
motivasi dalam bersikap dan bertingkah laku. Baik disadari maupun tanpa
disadari[1].
Nilai adalah standar atau ukuran (norma) yang kita
gunakan untuk mengukur segala sesuatu[2].
Menurut Scheler, nilai merupakan kualitas yang tidak
tergantung pada benda. Benda adalah sesuatu yang bernilai. Ketidaktergantungan
ini mencakup setiap bentuk empiris, nilai adalah kualitas a priori.
Ketergantungan tidak hanya mengacu pada objek yang ada di dunia seperti
lukisan, patung, tindakan, manusia, dan sebagainya, namun juga reaksi kita
terhadap benda dan nilai[3].
Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alama, ya’lamu,
‘ilman, dengan wazan fa’ila, yaf’alu, yang berarti: mengerti,
memahami benar-benar, seperti ungkapan: “Asmui’i telah memahami pelajaran
filsafat”. Dalam bahasa Inggris disebut science; dari bahasa Latin science
(pengetahuan)-scire (mengetahui). Sinonim yang paling dekat dengan
bahasa Yunani adalah epiteme. Jadi pengertian ilmu yang terdapat dalam
bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara
bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Mulyadhi
kartanegara mengatakan bahwa ilmu adalah any organized knowledge. Ilmu
dan sains menurutnya tidak berbeda, terutama sebelum abad ke-19, tetapi setelah
itu sains lebih terbatas bidang-bidang fisik atau inderawi, sedangkan ilmu
melampauinya pada bidang-bidang nonfisik seperti metafisika[4].
2. Pentingnya
Nilai Kegunaan Ilmu
Secara historis, pentingya nilai dalam pengetahuan
manusia sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno, khususnya ketika Plato
menyatakan “Summum Bonum” (kebaikan tertinggi). Pernyataan Plato
tersebut mengisyaratkan bahwa nilai itu ada, tetapi kebenarannya tersusun di
balik yang fisik. Pemikiran Plato yang kemudian dianggap error oleh
muridnya, Aristoteles menyebutkan gurunya memiliki logical error, sebab baginya
nilai inheren dengan aspek fisik[5].
Akan tetapi, pemikiran tentang pentingnya nilai dalam
berbagai bangunan keilmuan dan perilaku hidup keseharian, di zaman sesudahnya,
dibangun kembali oleh Thomas Aquinas. Pemikiran Plato yang menganggap
pentingnya nilai tertinggi sebagai penyebab final (causa prima) dalam
berbagai segi kehidupan, termasuk bingkai keilmuan, bahkan terkesan menjadi
ajaran yang praktis. Nilai tertinggi itu disebut Aquinas sebagai wujud diri
Tuhan yang menjadi kebenaran kehidupan, keabadian dan kebaikan tertinggi.
Pada abad pertengahan pentingnya nilai kembali dimapankan
oleh Spinozoa, yang berpendapat sama, bahwa nilai diselidiki secara terpisah
dari ilmu pengetahuan. Demikian juga Imamuel Kant, tokoh penting aufkarung telah
mampu memperhatikan hubungan antara pengetahuan dan moral, estetika dan
religitas. Akan tetapi, perbedaan tentang penting-tidaknnya nilai dalam bingkai
ilmu, tetap saja tidak mencapai titik final. Ada sekelompok ilmuan yang
menganggap bahwa nilai harus diidealisasi. Nilai dianggap eksis dan dapat
mempengaruhi berbagai wacana yang ada dalam konteks kehidupan. Hal demikian
berbeda dengan mereka yang menganggap nilai itu ideal dan bersifat ide-ide
belaka, karena ide bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh oleh pancaindra.
Nilai berbeda dengan fakta, sebab fakta dapat diketahui sedangkan nilai tidak
terletak pada benar dan salah, tetapi lebih pada soal dikehendaki dan tidak
dikehendaki[6].
3. Macam-macam
Nilai
Pernyataan Louis, membedakan nilai dalam dua macam, yaitu
nilai instrinsik dan nilai instrumental. Nilai instrinsik adalah nilai terhadap
sesuatu yang sejak awal memang sudah memiliki nilai, misalnya tujuh monumen
keajaiban dunia, termasuk Candi Borobudur. Nilai instrumental adalah nilai dari
sesuatu karena dapat dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan sesuatu yang
dapat menambah nilai terhadap sesuatu itu.
Meskipun nilai-nilai tersebut kadang terlihat oleh kita
sebagai sesuatu yang beragam sesuai dengan beragamnya perhatian kita, namun
sesungguhnya itu dapat dikelompokkan dalam Tiga Nilai Besar, yang secara umum
dijadikan manusia sebagai standar (norma) bagi perilaku mereka, yaitu:
1. Nilai Kebenaran, dimana setiap orang dalam
masyarakat mana pun selalu mencari kebenaran dan menolak kepalsuan, kesalahan,
dan kebohongan.
2. Nilai Kebaikan, dimana setiap manusia
mencintai kebaikan. Jika nilai kebaikan itu tidak orang lain, maka pertama-tama
untuk dirinya sendiri. Manusia juga membenci keburukan, baik untuk dirinya
maupun untuk orang yang dicintainya.
3. Nilai Keindahan, bahwa setiap manusia dapat
merasakan keindahan dan bahagia dengan keindahan itu. Manusia mempunyai sensasi
terhadap keindahan saat mereka bertemu dengan sesuatu yang indah
tersebut.
Jadi ketiga
nilai tersebut ada dalam diri manusia seluruhnya, karena manusia bersatu dalam
sebuah karakter, yaitu karakter kemanusiaan. Kemanusiaan mengisyaratkan adanya
penggabungan antara akal dan sensasi secara bersama[7].
Pembahasan tentang
nilai sebuah ilmu filsafat dibahas dalam cabang filsafat yang disebut aksiologi.
Aksiologi dalam bahasa Inggris: axiology; dari kata Yunani axios; layak,
pantas dan logos; ilmu, studi mengenai[8].
Dalam
aksiologi, ada dua komponen mendasar yakni etika dan (moralitas) dan estetika
(keindahan).
a.
Etika
Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang
membahas tentang masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilaku,
norma, dan adat istiadat yang berlaku pada komunitas tertentu. Etika merupakan
salah satu cabang filsafat tertua karena ia telah menjadi pembahasan menarik
sejak masa Sokrates dan para kaum Shopis. Di situlah keutamaan, keadilan dan
sebagainya. Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis
Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, pandangan-pandangan moral. Jadi, tema
sentral yang selalu menjadi pembicaraan dalam etika adalah predikat-predikat
niali ‘betul’ (right) dan ‘salah’ (wrong) dalam arti ‘susila’ (moral) dan
‘tidak susila’ (immoral).
Di lain pihak, etika acapkali dipandang
sebagai ilmu pengetahuan yang menetapkan ukuran-ukuran dan kaidah-kaidah yang
mendasari pemberian tanggapan atau penilaian terhadap perbuatan. Ilmu
pengetahuan ini membicarakan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang
seharusnya terjadi, dan yang memungkinkan orang untuk menetapkan apa yang bertentangan dengan yang seharusnya terjadi.
Isi dari pandangan-pandangan moral ini
sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan
adat istiadat manusia berbeda dengan norma itu sendiri, etika tidak
menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah
pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia
mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
Dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku
manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah lakuh yang penuh
dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat,
alam maupun terhadap tuhan sebagai sang pencipta.
Dalam perkembangan sejarah etika, ada empat
teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu, hedonisme, eudemonisme,
itiliterisme, dan deontologi. Hedoisme adalah pandangan moral yang menyamakan
baik menurut pandangan mopral dengan kesenangan. Eudemonieme menegaskan setiap
kegiatan manusia diorientasikan untuk mengejar tujuan. Dan tujuan manusia itu
sendiri adalah kebahagiaan. Selanjutnya utilitarisme, Yang berpendapat bahwa
tujuan hukium adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan
memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak
kodrati. Dan deontologi, adalah pemikiran tentang moral dalam bentuk suatu
kehendak baim manusia.
b.
Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang
mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa di
dalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan
harmonis dalam kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu
objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik
melainkan harus juga mempunyai kepribadian[9].
Seperti dalam etika, estetika dibedakan antara
suatu bagian deskriptif dan bagian normatif. Bagian deskriptif menggambarkan
gejala-gejala pengalaman keindahan, sedangkan bagian normatif mencari dasar
pengalaman itu. Hegel (1770-1831) membedakan suatu rangkaian seni-seni yang mulai
pada arsitektur dan berakhir pada puisi. Sedangkan Schopenhauer (1788-1850)
melihat suatu rangkaian yang mulai pada arsitektur dan memuncak dalam musik.
Musik mendapat tempat istimewa dalam estetika. Musik dapat mengungkapkan
hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata.
Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu
kualitas objek, melainkan sesuatu yang senantiasa bersangkutan dengan perasaan.
Misalnya kita bangun pagi, matahari memancarkan sinarnya kita merasa sehat dan
secara umum kita merasakan kenikmatan. Meskipun sesungguhnya pagi sendiri tidak
indah tetapi kita mengalaminya dengan perasaan nikmat. Dalam hal ini orang
cenderung mengalihkan perasaan tadi menjadi sifat objek itu, artinya memandang
keindahan sebagai sifat objek yang kita serap. Padahal sebenarnya tetap
merupakan perasaan[10].
4. Karakteristik Nilai
Ada beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai (The theory of value), yaitu:
a. Nilai objektif
atau subjektif. Nilai itu objektif
jika ia tidak bergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Sebaliknya
nilai itu subjektif jika eksistensinya, maknanya, dan validitalisnya tergantung
pada reaksi subjek yang melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan apakah ini
bersifat psikis atau fisik.
b. Nilai absolute
atau relatif. Suatu nilai dikatakan
absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sekarang sudah berlaku sejak
masa lampau dan akan berlaku sepanjang masa, berlaku bagi siapa pun tanpa
memperhatikan ras, maupun kelas sosial. Dipihak lain ada yang beranggapan bahwa semua nilai
relativ (bisa berubah) sesuai dengan keinginan atau harapan manusia.[11]
Kaitannya
dengan tingkatan atau hierarki nilai, terdapat beberapa pandangan diantaranya
adalah: Kaum Idealis berpandangan
bahwa nilai spiritual memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding nilai non
spiritual (nilai material). Kaum Realis menempatkan
nilai rasional dan empiris pada tingkatan teratas, karena nilai rasionalitas
tersebut akan membantu manusia menemukan realitas objektif, hukum-hukum alam
dan aturan berfikir logis. Dan kaum Pragmatis
yang berpandangan bahwa suatu aktivitas dikatakan baik apabila memuaskan
kebutuhan primer seseorang dan memiliki nilai instrumental. Biasanya mereka
sangat sensitive terhadap nilai-nilai yang menghargai masyarakat[12].
Dewasa
ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi
dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumaniasi bahkan diprediksikan akan
mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan kata lain, ilmu bukan lagi
merupakan sarana yang membatu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun
kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, “bukan lagi goethe yang menciptakan faust”, meminjamkan perkataan
ilmu ahli jiwa terkenal Carl Gustav Jung, “ melainkan “faust yang menciptakan geothe.” Atau dalam istilah yang dipakai
Karl Marx “god does not create happiness
but human creates happiness” (tuhan tidak menciptakan kebahagiaan akan
tetapi manusia itu sendirilah yang menciptakan kebahagiaan).
Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang
pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan
hal-hal yang berisfat seharusnya: untuk apa ilmu itu harus dipergunakan? Dimana
batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus
di arahkan? Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan
seperti copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya. Namun bagi ilmuwan yang
hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup
dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak
dapat dielakkan[13].
Sebenarnya
sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral
namun perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan
teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya
seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara
ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik.
Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di
pihak lain, terdapat keingina agar ilmu mendasarkan kepada
pernyataan-pernyataan (nilai –nilai) yang gterdapat dalam ajaran-ajaran di luar
bidang keilmuan agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran
metafisik ini yang berkulmenasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun
1633. Galileo (1564-1642), oleh pengadilan agama tersebut, di paksa untuk
mencabut pernyataannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Sejarah
kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan
nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah
menyaksikan Sokrates di paksa meminum racun dan John Huss di bakar. Dan sejarah
tidak berhenti di sini. Kemanusiaan tak
pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka
ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual.
Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya
seperti sekarang ini berganti dengan
proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “segalanya punya
moral asalkan kau mampu menemukannya,” kata Alice dalam petualangannya di
negeri ajaib.
Value atau nilai,
dalam kamus psikologi kalangan
Kartono kartini & Dali Guno terbitan didefinisikan sebagai hal yang
dianggap penting, bernilai atau baik. Semacam keyakinan mengenai bagaimana
seseorang seharusnya atau tidak seharusnya dalam bertindak (misalnya jujur da
ikhlas), atau cita-cita yang ingin dicapai oleh seseorang (misalnya kebahagiaan
dan kebebasan).
Nilai
ini kemudian menjadi pembahasan tersendiri dalam diskusi-diskusi filsafat dan
pemikiran. Terbukti dengan munculnya teori nilai (aksiologi) yang penulis
temukan di beberapa literatur filsafat seperti di bukunya Ahmad Tafsir berjudul
Filsafat Umum terbitan Remaja
Rosdakarya Bandung 1990. Ahmad tafsir, lebih lanjut, meletakkan pembahasan
nilai ini setelah membahas teori pengetahuan dan teori hakikat yang merupakan
sistematika dalam pembahasan filsafat.
Teori-teori
lainnya, seperti dikemukakan oleh Nicolai Hartmann, bahwa nilai adalah esensi
dan ide platonik. Nilai selalu berhubungan dengan benda yang menjadi
pendukungnya, misalnya indah dan baik. Artinya, nilai itu tidak nyata. Dalam buku
Living issue in philosophy yang
dialihbahasakan oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi, disebutkan bahwa penilaian
seseorang itu dipengaruhi oleh fakta-fakta. Artinya, jika fakta-fakta atau
keadaan berubah, maka penilaian kita biasanya juga akan berubah. Ini berarti
juga bahwa pertimbangan nilai seseorang bergantung kepada fakta.
Pendapat
yang sama juga dilontarkann oleh Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan yang mengatakan
bahwa, nilai-nilai yang ada pada seseorang bisa dipengaruhi oleh adanya adat istiadat,
etika, kepercayaan, dan agama yang dianutnya. Semua itu mempengaruhi sikap,
pendapat, dan pandangan individu yang selanjutnya tercermin dalam cara-cara
bagaimana orang tersebut bertindak dan bertingkah laku dalam memberikan
penilaian.[14]
BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
1. Pengertian
Nilai dan Ilmu
Nilai (value) termasuk dalam pokok bahasan penting
dalam filsafat ilmu, di samping itu digunakan juga untuk menunjuk kata benda
yang abstrak dan dapat diartikan sebagai keberhargaan (worth) atau
kebaikan (goodness).Nilai adalah standar atau ukuran (norma) yang kita
gunakan untuk mengukur segala sesuatu.
Menurut Scheler, nilai merupakan kualitas yang tidak
tergantung pada benda. Benda adalah sesuatu yang bernilai. Ketidaktertgantungan
ini mencakup setiap bentuk empiris, nilai adalah kualitas a priori.
Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alama, ya’lamu,
‘ilman, dengan wazan fa’ila, yaf’alu, yang berarti: mengerti,
memahami benar-benar. Dalam bahasa Inggris disebut science; dari bahasa
Latin science (pengetahuan)-scire (mengetahui). Sinonim yang
paling dekat dengan bahasa Yunani adalah epiteme. Jadi pengertian ilmu
yang terdapat dalam bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang
yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan
untuk menerangkan gejala.
2. Pentingnya
Nilai Kegunaan Ilmu
Secara historis, pentingnya nilai dalam pengetahuan
manusia sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno, khususnya ketika Plato
menyatakan “Summum Bonum” (kebaikan tertinggi).
Pemikiran Plato yang kemudian dianggap error oleh
muridnya, Aristoteles menyebutkan gurunya memiliki logical error, sebab
baginya nilai inheren dengan aspek fisik. Akan tetapi, pemikiran tentang
pentingnya nilai dalam berbagai bangunan keilmuan dan perilaku hidup
keseharian, di zaman sesudahnya, dibangun kembali oleh Thomas Aquinas.
Pada abad pertengahan pentingnya nilai kembali dimapankan
oleh Spinozoa, yang berpendapat sama, bahwa nilai diselidiki secara terpisah
dari ilmu pengetahuan.
Nilai berbeda dengan fakta, sebab fakta dapat diketahui
sedangkan nilai tidak terletak pada benar dan salah, tetapi lebih pada soal
dikehendaki dan tidak dikehendaki.
3. Macam-macam
Nilai
1.
Nilai Kebenaran, dimana setiap orang dalam masyarakat
manapun selalu mencari kebenaran dan menolak kepalsuan, kesalahan, dan
kebohongan.
2.
Nilai Kebaikan, dimana setiap manusia mencintai kebaikan.
Jika nilai kebaikan itu tidak orang lain, maka pertama-tama untuk dirinya
sendiri. Manusia juga membenci keburukan, baik untuk dirinya maupun untuk orang
yang dicintainya.
3.
Nilai Keindahan, bahwa setiap manusia dapat merasakan
keindahan dan bahagia dengan keindahan itu. Manusia mempunyai sensasi terhadap
keindahan saat mereka bertemu dengan sesuatu yang indah tersebut.
ketiga nilai tersebut ada dalam diri manusia
seluruhnya, karena manusia bersatu dalam sebuah karakter, yaitu karakter
kemanusiaan. Kemanusiaan mengisyaratkan adanya penggabungan antara akal dan
sensasi secara bersama.
4. Karakteristik
nilai
Ada beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai (The theory of value), yaitu:
1.
Nilai objektif atau subjektif. Nilai itu objektif jika ia
tidak bergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai.
2.
Nilai absolute atau relatif. Suatu nilai dikatakan absolute
atau abadi, apabila nilai yang berlaku sekarang sudah berlaku sejak masa lampau
dan akan berlaku sepanjang masa, berlaku bagi siapapun tanpa memperhatikan ras,
maupun kelas sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Amsal.
Bakhtiar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Eliana Hasan.
2011. Filsafat Ilmu dan Metologi Penelitian Ilmu Pemerintahan. Bogor:
Ghalia Indonesia.
Farid Fuad
Ismail. 2003. Cepat Menguasai Ilmu Filsafat. Jogjakarta : IRCiSoD.
Jujun S. Suriasumantri.Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popule. Jakarta: Pustaka
Sinar harapan.
LorensBagus.
2005.KamusFilsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Risieri
Frondizi.2001. Pengantar Filsafat Nilai. Yogjakarta : Pustaka Pelajar.
Carl Gustav Jung,1960, Psycology and Literatur; The creativ process,
ed. Brewster Ghiselin, New York: Mentor.
E.A Burt, The Value of Presupposition of Science, Bulletin of Atomic Scientist,
Vol. XIII No. 3, March 1857.
[1]Eliana Hasan. Filsafat Ilmu dan Metologi Penelitian Ilmu Pemerintahan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm.
134.
[9] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 1996), hlm. 34.
[11]Carl Gustav Jung, Psycology
and Literatur; The creativ process, ed. Brewster Ghiselin (New York: mentor, 1960), hlm. 222.
[12] E.A Burt, The Value of Presupposition
of Science, Bulletin of Atomic Scientist, Vol. XIII No. 3, March 1857, hlm.
97.

No comments :