• MATA KULIAH
    • SEMESTER 1
      • Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan Islam
      • Dasar-Dasar Pendidikan Islam
      • Ilmu Alamiah Dasar
      • Pancasila dan Kewarganegaraan
      • Perilaku dan Budaya Organisasi
      • Psikologi Perkembangan
      • Sejarah Peradaban Islam
    • SEMESTER 2
      • Bahasa Indonesia
      • Inovasi Pendidikan Islam
      • Kepemimpinan Pendidikan Islam
      • Manajemen Pendidikan Islam
      • Manajemen SDM Pendidikan Islam
      • Teori Belajar dan Pembelajaran
    • SEMESTER 3
      • Administrasi Keuangan
      • Bahasa Inggris I
      • Filsafat Ilmu
      • Magang I
      • Manajemen Diklat
      • Manajemen Strategik
      • Statistika Pendidikan
      • Strategi Pembelajaran
      • Studi Fiqih
      • Supervisi Pendidikan Islam
    • SEMESTER 4
      • Aplikasi ICT
      • Bahasa Inggris II
      • Bimbingan Konseling
      • Manajemen HUMAS
      • Metodologi Penelitian Kependidikan
      • Pengembangan Kurikulum
      • Pengembangan Sumber dan Media Pembelajaran
      • Perencanaan Pembelajaran
      • Studi Al-Quran dan Hadits
      • Teosofi
    • SEMESTER 5
      • Akuntansi Sektor Pendidikan
      • Desain Komunikasi Visual
      • Evaluasi Pembelajaran
      • Magang II
      • Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran
      • Penelitian Tindakan Kelas
      • Perencanaan Pendidikan
      • Sistem Informasi Manajemen
      • Studi Kebijakan Pendidikan
  • DOWNLOAD
    • EBOOKS
      • SMP/MTs
      • SMA/MA
      • PT
    • MAKALAH
      • Semester 1
      • Semester 2
      • Semester 3
      • Semester 4
      • Semester 5
    • NOVEL
    • PPT
  • TEKNOLOGI
  • LAINNYA
    • SEMINAR
    • WORKSHOP
    • KULIAH TAMU
    • PENELITIAN

POHON ILMU

FILSAFAT ILMU

NILAI-NILAI ILMU

Tuesday, October 17, 2017 0 Fitri Handayani

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Ilmu dalam prosesnya telah menciptakan peradaban bagi manusia, mengubah wajah dunia, dan masuk ke setiap lini kehidupan sebagai sarana yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Sehingga manusia berhutang banyak terhadap ilmu. Namun, ketika ilmu berbalik menjadi musibah bagi manusia, di saat itulah dipertanyakan kembali untuk apa seharusnya ilmu itu digunakan. Dalam persoalan ini, maka ilmuwan harus kembali pada persoalan nilai dan etika dalam bingkai ilmu agar ilmu tidak bergerak ke arah yang membahayakan.
Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya, mulai mempertanyakan untuk apa sebenarnya ilmu itu  dipergunakan? Di mana batas wewenang penjelajahan keilmuan dan ke arah mana perkembangan ilmu yang seharusnya. Pertanyaan yang semacam ini jelas tidak melupakan urgensi bagi keilmuan.
Namun pada abad ke-20 para ilmuwan mencoba menjawab pertanyaan ini dengan berpaling pada hakikat moral atau nilai.
Nilai (values) termasuk dalam pokok bahasan penting dalam filsafat ilmu, di samping itu digunakan juga untuk menunjuk kata benda yang abstrak dan dapat diartikan sebagai keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness).

B.  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian nilai dan ilmu?
2.      Bagaimana pentingnya nilai kegunaan ilmu?
3.      Apa saja macam-macam nilai?
4.      Apa saja karakteristik nilai?

C.  Tujuan
1.      Mengetahui pengertian nilai dan ilmu.
2.      Mengetahui pentingnya nilai kegunaan ilmu.
3.      Mengetahui saja macam-macam nilai.
4.      Mengetahui saja karakteristik nilai.
 

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Nilai dan Ilmu
Nilai (values) termasuk dalam pokok bahasan penting dalam filsafat ilmu, di samping itu digunakan juga untuk menunjuk kata benda yang abstrak dan dapat diartikan sebagai keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness).
Menilai berarti menimbang, yakni sesuatu kegiatan untuk menghubungkan sesuatu dengan yang lain kemudian dilanjutkan dengan memberikan keputusan. Keputusan ini menyatakan apakah sesuatu itu bernilai positif (berguna, indah baik, dan seterusnya) atau sebaliknya, bernilai negatif. Hal ini dihubungkan dengan unsur-unsur yang ada pada manusia, yaitu jasmani, cipta, rasa, karsa, dan kepercayaan. Dengan demikian, nilai dapat diartikan sebagai sifat atau kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik lahir maupun batin. Bagi manusia, nilai dijadikan landasan, alasan, atau motivasi dalam bersikap dan bertingkah laku. Baik disadari maupun tanpa disadari[1].
Nilai adalah standar atau ukuran (norma) yang kita gunakan untuk mengukur segala sesuatu[2].
Menurut Scheler, nilai merupakan kualitas yang tidak tergantung pada benda. Benda adalah sesuatu yang bernilai. Ketidaktergantungan ini mencakup setiap bentuk empiris, nilai adalah kualitas a priori. Ketergantungan tidak hanya mengacu pada objek yang ada di dunia seperti lukisan, patung, tindakan, manusia, dan sebagainya, namun juga reaksi kita terhadap benda dan nilai[3].
Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alama, ya’lamu, ‘ilman, dengan wazan fa’ila, yaf’alu, yang berarti: mengerti, memahami benar-benar, seperti ungkapan: “Asmui’i telah memahami pelajaran filsafat”. Dalam bahasa Inggris disebut science; dari bahasa Latin science (pengetahuan)-scire (mengetahui). Sinonim yang paling dekat dengan bahasa Yunani adalah epiteme. Jadi pengertian ilmu yang terdapat dalam bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Mulyadhi kartanegara mengatakan bahwa ilmu adalah any organized knowledge. Ilmu dan sains menurutnya tidak berbeda, terutama sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas bidang-bidang fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampauinya pada bidang-bidang nonfisik seperti metafisika[4].

2.      Pentingnya Nilai Kegunaan Ilmu
Secara historis, pentingya nilai dalam pengetahuan manusia sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno, khususnya ketika Plato menyatakan “Summum Bonum” (kebaikan tertinggi). Pernyataan Plato tersebut mengisyaratkan bahwa nilai itu ada, tetapi kebenarannya tersusun di balik yang fisik. Pemikiran Plato yang kemudian dianggap error oleh muridnya, Aristoteles menyebutkan gurunya memiliki logical error, sebab baginya nilai inheren dengan aspek fisik[5].
Akan tetapi, pemikiran tentang pentingnya nilai dalam berbagai bangunan keilmuan dan perilaku hidup keseharian, di zaman sesudahnya, dibangun kembali oleh Thomas Aquinas. Pemikiran Plato yang menganggap pentingnya nilai tertinggi sebagai penyebab final (causa prima) dalam berbagai segi kehidupan, termasuk bingkai keilmuan, bahkan terkesan menjadi ajaran yang praktis. Nilai tertinggi itu disebut Aquinas sebagai wujud diri Tuhan yang menjadi kebenaran kehidupan, keabadian dan kebaikan tertinggi.
Pada abad pertengahan pentingnya nilai kembali dimapankan oleh Spinozoa, yang berpendapat sama, bahwa nilai diselidiki secara terpisah dari ilmu pengetahuan. Demikian juga Imamuel Kant, tokoh penting aufkarung telah mampu memperhatikan hubungan antara pengetahuan dan moral, estetika dan religitas. Akan tetapi, perbedaan tentang penting-tidaknnya nilai dalam bingkai ilmu, tetap saja tidak mencapai titik final. Ada sekelompok ilmuan yang menganggap bahwa nilai harus diidealisasi. Nilai dianggap eksis dan dapat mempengaruhi berbagai wacana yang ada dalam konteks kehidupan. Hal demikian berbeda dengan mereka yang menganggap nilai itu ideal dan bersifat ide-ide belaka, karena ide bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh oleh pancaindra. Nilai berbeda dengan fakta, sebab fakta dapat diketahui sedangkan nilai tidak terletak pada benar dan salah, tetapi lebih pada soal dikehendaki dan tidak dikehendaki[6].

3.      Macam-macam Nilai
Pernyataan Louis, membedakan nilai dalam dua macam, yaitu nilai instrinsik dan nilai instrumental. Nilai instrinsik adalah nilai terhadap sesuatu yang sejak awal memang sudah memiliki nilai, misalnya tujuh monumen keajaiban dunia, termasuk Candi Borobudur. Nilai instrumental adalah nilai dari sesuatu karena dapat dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan sesuatu yang dapat menambah nilai terhadap sesuatu itu.
Meskipun nilai-nilai tersebut kadang terlihat oleh kita sebagai sesuatu yang beragam sesuai dengan beragamnya perhatian kita, namun sesungguhnya itu dapat dikelompokkan dalam Tiga Nilai Besar, yang secara umum dijadikan manusia sebagai standar (norma) bagi perilaku mereka, yaitu:
1.      Nilai Kebenaran, dimana setiap orang dalam masyarakat mana pun selalu mencari kebenaran dan menolak kepalsuan, kesalahan, dan kebohongan.
2.      Nilai Kebaikan, dimana setiap manusia mencintai kebaikan. Jika nilai kebaikan itu tidak orang lain, maka pertama-tama untuk dirinya sendiri. Manusia juga membenci keburukan, baik untuk dirinya maupun untuk orang yang dicintainya.
3.      Nilai Keindahan, bahwa setiap manusia dapat merasakan keindahan dan bahagia dengan keindahan itu. Manusia mempunyai sensasi terhadap keindahan saat mereka bertemu dengan sesuatu yang indah tersebut. 
Jadi ketiga nilai tersebut ada dalam diri manusia seluruhnya, karena manusia bersatu dalam sebuah karakter, yaitu karakter kemanusiaan. Kemanusiaan mengisyaratkan adanya penggabungan antara akal dan sensasi secara bersama[7].
Pembahasan tentang nilai sebuah ilmu filsafat dibahas dalam cabang filsafat yang disebut aksiologi. Aksiologi dalam bahasa Inggris: axiology; dari kata Yunani axios; layak, pantas dan logos; ilmu, studi mengenai[8].
Dalam aksiologi, ada dua komponen mendasar yakni etika dan (moralitas) dan estetika (keindahan).
a.           Etika
Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang membahas tentang masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilaku, norma, dan adat istiadat yang berlaku pada komunitas tertentu. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua karena ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa Sokrates dan para kaum Shopis. Di situlah keutamaan, keadilan dan sebagainya. Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, pandangan-pandangan moral. Jadi, tema sentral yang selalu menjadi pembicaraan dalam etika adalah predikat-predikat niali ‘betul’ (right) dan ‘salah’ (wrong) dalam arti ‘susila’ (moral) dan ‘tidak susila’ (immoral).
Di lain pihak, etika acapkali dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang menetapkan ukuran-ukuran dan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian tanggapan atau penilaian terhadap perbuatan. Ilmu pengetahuan ini membicarakan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya terjadi, dan yang memungkinkan orang untuk menetapkan apa yang  bertentangan dengan yang seharusnya terjadi.
Isi dari pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan adat istiadat manusia berbeda dengan norma itu sendiri, etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
Dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah lakuh yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap tuhan sebagai sang pencipta.
Dalam perkembangan sejarah etika, ada empat teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu, hedonisme, eudemonisme, itiliterisme, dan deontologi. Hedoisme adalah pandangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan mopral dengan kesenangan. Eudemonieme menegaskan setiap kegiatan manusia diorientasikan untuk mengejar tujuan. Dan tujuan manusia itu sendiri adalah kebahagiaan. Selanjutnya utilitarisme, Yang berpendapat bahwa tujuan hukium adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati. Dan deontologi, adalah pemikiran tentang moral dalam bentuk suatu kehendak baim manusia.
b.           Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa di dalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian[9].
Seperti dalam etika, estetika dibedakan antara suatu bagian deskriptif dan bagian normatif. Bagian deskriptif menggambarkan gejala-gejala pengalaman keindahan, sedangkan bagian normatif mencari dasar pengalaman itu. Hegel (1770-1831) membedakan suatu rangkaian seni-seni yang mulai pada arsitektur dan berakhir pada puisi. Sedangkan Schopenhauer (1788-1850) melihat suatu rangkaian yang mulai pada arsitektur dan memuncak dalam musik. Musik mendapat tempat istimewa dalam estetika. Musik dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata.
Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu kualitas objek, melainkan sesuatu yang senantiasa bersangkutan dengan perasaan. Misalnya kita bangun pagi, matahari memancarkan sinarnya kita merasa sehat dan secara umum kita merasakan kenikmatan. Meskipun sesungguhnya pagi sendiri tidak indah tetapi kita mengalaminya dengan perasaan nikmat. Dalam hal ini orang cenderung mengalihkan perasaan tadi menjadi sifat objek itu, artinya memandang keindahan sebagai sifat objek yang kita serap. Padahal sebenarnya tetap merupakan perasaan[10].

4.      Karakteristik Nilai
Ada beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai (The theory of value), yaitu:
a.       Nilai objektif atau subjektif. Nilai itu objektif jika ia tidak bergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Sebaliknya nilai itu subjektif jika eksistensinya, maknanya, dan validitalisnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian, tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau fisik.
b.      Nilai absolute atau relatif. Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sekarang sudah berlaku sejak masa lampau dan akan berlaku sepanjang masa, berlaku bagi siapa pun tanpa memperhatikan ras, maupun kelas sosial. Dipihak lain  ada yang beranggapan bahwa semua nilai relativ (bisa berubah) sesuai dengan keinginan atau harapan manusia.[11]
Kaitannya dengan tingkatan atau hierarki nilai, terdapat beberapa pandangan diantaranya adalah: Kaum Idealis berpandangan bahwa nilai spiritual memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding nilai non spiritual (nilai material). Kaum Realis menempatkan nilai rasional dan empiris pada tingkatan teratas, karena nilai rasionalitas tersebut akan membantu manusia menemukan realitas objektif, hukum-hukum alam dan aturan berfikir logis. Dan kaum Pragmatis yang berpandangan bahwa suatu aktivitas dikatakan baik apabila memuaskan kebutuhan primer seseorang dan memiliki nilai instrumental. Biasanya mereka sangat sensitive terhadap nilai-nilai yang menghargai masyarakat[12].
Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumaniasi bahkan diprediksikan akan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan kata lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membatu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, “bukan lagi goethe yang menciptakan faust”, meminjamkan perkataan ilmu ahli jiwa terkenal Carl Gustav Jung, “ melainkan “faust yang menciptakan geothe.” Atau dalam istilah yang dipakai Karl Marx “god does not create happiness but human creates happiness” (tuhan tidak menciptakan kebahagiaan akan tetapi manusia itu sendirilah yang menciptakan kebahagiaan).
 Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang berisfat seharusnya: untuk apa ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus di arahkan? Pertanyaan semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya. Namun bagi ilmuwan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat dielakkan[13].
Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain, terdapat keingina agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai –nilai) yang gterdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulmenasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642), oleh pengadilan agama tersebut, di paksa untuk mencabut pernyataannya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan Sokrates di paksa meminum racun dan John Huss di bakar. Dan sejarah tidak  berhenti di sini. Kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti  sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “segalanya punya moral asalkan kau mampu menemukannya,” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib.
Value atau nilai, dalam kamus psikologi kalangan Kartono kartini & Dali Guno terbitan didefinisikan sebagai hal yang dianggap penting, bernilai atau baik. Semacam keyakinan mengenai bagaimana seseorang seharusnya atau tidak seharusnya dalam bertindak (misalnya jujur da ikhlas), atau cita-cita yang ingin dicapai oleh seseorang (misalnya kebahagiaan dan kebebasan).
Nilai ini kemudian menjadi pembahasan tersendiri dalam diskusi-diskusi filsafat dan pemikiran. Terbukti dengan munculnya teori nilai (aksiologi) yang penulis temukan di beberapa literatur filsafat seperti di bukunya Ahmad Tafsir berjudul Filsafat Umum terbitan Remaja Rosdakarya Bandung 1990. Ahmad tafsir, lebih lanjut, meletakkan pembahasan nilai ini setelah membahas teori pengetahuan dan teori hakikat yang merupakan sistematika dalam pembahasan filsafat.
Teori-teori lainnya, seperti dikemukakan oleh Nicolai Hartmann, bahwa nilai adalah esensi dan ide platonik. Nilai selalu berhubungan dengan benda yang menjadi pendukungnya, misalnya indah dan baik. Artinya, nilai itu tidak nyata. Dalam buku Living issue in philosophy yang dialihbahasakan oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi, disebutkan bahwa penilaian seseorang itu dipengaruhi oleh fakta-fakta. Artinya, jika fakta-fakta atau keadaan berubah, maka penilaian kita biasanya juga akan berubah. Ini berarti juga bahwa pertimbangan nilai seseorang bergantung kepada fakta.
Pendapat yang sama juga dilontarkann oleh Ngalim Purwanto dalam bukunya Psikologi Pendidikan yang mengatakan bahwa, nilai-nilai yang ada pada seseorang bisa dipengaruhi oleh adanya adat istiadat, etika, kepercayaan, dan agama yang dianutnya. Semua itu mempengaruhi sikap, pendapat, dan pandangan individu yang selanjutnya tercermin dalam cara-cara bagaimana orang tersebut bertindak dan bertingkah laku dalam memberikan penilaian.[14]



BAB II
PENUTUP

Kesimpulan
1.      Pengertian Nilai dan Ilmu
Nilai (value) termasuk dalam pokok bahasan penting dalam filsafat ilmu, di samping itu digunakan juga untuk menunjuk kata benda yang abstrak dan dapat diartikan sebagai keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness).Nilai adalah standar atau ukuran (norma) yang kita gunakan untuk mengukur segala sesuatu.
Menurut Scheler, nilai merupakan kualitas yang tidak tergantung pada benda. Benda adalah sesuatu yang bernilai. Ketidaktertgantungan ini mencakup setiap bentuk empiris, nilai adalah kualitas a priori.
Ilmu berasal dari bahasa Arab: ‘alama, ya’lamu, ‘ilman, dengan wazan fa’ila, yaf’alu, yang berarti: mengerti, memahami benar-benar. Dalam bahasa Inggris disebut science; dari bahasa Latin science (pengetahuan)-scire (mengetahui). Sinonim yang paling dekat dengan bahasa Yunani adalah epiteme. Jadi pengertian ilmu yang terdapat dalam bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala.

2.      Pentingnya Nilai Kegunaan Ilmu
Secara historis, pentingnya nilai dalam pengetahuan manusia sebenarnya telah ada sejak jaman Yunani Kuno, khususnya ketika Plato menyatakan “Summum Bonum” (kebaikan tertinggi).
Pemikiran Plato yang kemudian dianggap error oleh muridnya, Aristoteles menyebutkan gurunya memiliki logical error, sebab baginya nilai inheren dengan aspek fisik. Akan tetapi, pemikiran tentang pentingnya nilai dalam berbagai bangunan keilmuan dan perilaku hidup keseharian, di zaman sesudahnya, dibangun kembali oleh Thomas Aquinas.
Pada abad pertengahan pentingnya nilai kembali dimapankan oleh Spinozoa, yang berpendapat sama, bahwa nilai diselidiki secara terpisah dari ilmu pengetahuan.
Nilai berbeda dengan fakta, sebab fakta dapat diketahui sedangkan nilai tidak terletak pada benar dan salah, tetapi lebih pada soal dikehendaki dan tidak dikehendaki.

3.      Macam-macam Nilai
1.      Nilai Kebenaran, dimana setiap orang dalam masyarakat manapun selalu mencari kebenaran dan menolak kepalsuan, kesalahan, dan kebohongan.
2.      Nilai Kebaikan, dimana setiap manusia mencintai kebaikan. Jika nilai kebaikan itu tidak orang lain, maka pertama-tama untuk dirinya sendiri. Manusia juga membenci keburukan, baik untuk dirinya maupun untuk orang yang dicintainya.
3.      Nilai Keindahan, bahwa setiap manusia dapat merasakan keindahan dan bahagia dengan keindahan itu. Manusia mempunyai sensasi terhadap keindahan saat mereka bertemu dengan sesuatu yang indah tersebut. 
ketiga nilai tersebut ada dalam diri manusia seluruhnya, karena manusia bersatu dalam sebuah karakter, yaitu karakter kemanusiaan. Kemanusiaan mengisyaratkan adanya penggabungan antara akal dan sensasi secara bersama.

4.      Karakteristik nilai
Ada beberapa karakteristik nilai yang berkaitan dengan teori nilai (The theory of value), yaitu:
1.      Nilai objektif atau subjektif. Nilai itu objektif jika ia tidak bergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai.
2.      Nilai absolute atau relatif. Suatu nilai dikatakan absolute atau abadi, apabila nilai yang berlaku sekarang sudah berlaku sejak masa lampau dan akan berlaku sepanjang masa, berlaku bagi siapapun tanpa memperhatikan ras, maupun kelas sosial.
DAFTAR PUSTAKA

Amsal. Bakhtiar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Eliana Hasan. 2011. Filsafat Ilmu dan Metologi Penelitian Ilmu Pemerintahan. Bogor: Ghalia Indonesia.
Farid Fuad Ismail. 2003. Cepat Menguasai Ilmu Filsafat. Jogjakarta : IRCiSoD.
Jujun S. Suriasumantri.Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popule. Jakarta: Pustaka Sinar harapan.
LorensBagus. 2005.KamusFilsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Risieri Frondizi.2001. Pengantar Filsafat Nilai. Yogjakarta : Pustaka Pelajar.
Carl Gustav Jung,1960, Psycology and Literatur; The creativ process, ed. Brewster Ghiselin, New York: Mentor.
E.A Burt, The Value of Presupposition of Science, Bulletin of Atomic Scientist, Vol. XIII No. 3, March 1857.


[1]Eliana Hasan. Filsafat Ilmu dan Metologi Penelitian Ilmu Pemerintahan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 134.
[2]Farid Fuad Ismail,Cepat Menguasai Ilmu Filsafat,(Jogjakarta: IRCiSoD, 2003), hlm. 197.
[3]Risieri Frondizi,Pengantar Filsafat Nilai,(Ypgyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 114.
[4]Amsal. Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014), hlm. 12-13.
[5]Eliana Hasan, op. cit., hlm 134-135.
[6]Eliana Hasan, op. cit., hlm. 134-135.
[7]Farid Fuad Ismail, op. cit., hlm. 198.
[8]Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 33.
[9] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm. 34.
[10]Jujun S. Suriasumantri, op. cit., hlm. 35.
[11]Carl Gustav Jung, Psycology and Literatur; The creativ process, ed. Brewster Ghiselin (New York: mentor, 1960), hlm. 222.
[12] E.A Burt, The Value of Presupposition of Science, Bulletin of Atomic Scientist, Vol. XIII No. 3, March 1857, hlm. 97.
[13] E.A Burt, op. cit., hlm. 98.
[14]E.A Burt, op. cit. hlm. 99.

Tags: FILSAFAT ILMU
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook Share to Pinterest
Fitri Handayani

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

Next
Newer Post
Previous
Older Post

You may also like

No comments :

Leave a Reply

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments ( Atom )
  • Popular
  • Comments

Popular Posts

  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
    STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN Kebijakan publik adalah segala peraturan dan tindakan pemerintah yang disusun serta dilaksanakan untuk ke...
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
    PENGEMBANGAN KURIKULUM Sebenarnya yang berkembang adalah diri yang menjadi sasaran kurikulum SDM adalah ruh Kurikulum = menu Definis...
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH)
    PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH) Perencanaan ( Planning ) -> ada persiapan Keinginan -           Tidak ada persiapan ...
  • STUDI FIQIH
    Studi Fiqih Fiqih -           Furu’ (cabang) -           Pendapat (berubah-ubah). Contoh: aneka ragam macam sholat. -           Agar...
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
    SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ·          Informasi lebih penting dari pada sistem. Jika sudah mendapat informasi tidak perlu sistem. Sist...
  • METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
    METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN Metodologi Metodologi berasal dari Bahasa Yunani “metodos” dan “logos” terdiri dari dua suku kata, ya...

About Me

Fitri Handayani
View my complete profile

Labels

ADMINISTRASI KEUANGAN ( 1 ) AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK ( 1 ) APLIKASI ICT ( 1 ) BAHASA INDONESIA ( 1 ) BAHASA INGGRIS I ( 1 ) BAHASA INGGRIS II ( 1 ) BIMBINGAN DAN KONSELING ( 1 ) DASAR-DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM ( 5 ) DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM ( 3 ) DESAIN KOMUNIKASI VISUAL ( 1 ) DONWLOAD NOVEL ( 3 ) DOWNLOAD ( 11 ) DOWNLOAD EBOOKS ( 3 ) DOWNLOAD MAKALAH ( 5 ) EVALUASI PEMBELAJARAN ( 1 ) FILSAFAT ILMU ( 1 ) ILMU ALAMIAH DASAR ( 1 ) INOVASI PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MAGANG I ( 1 ) MAGANG II ( 1 ) MANAJAJEMEN DIKLAT ( 1 ) MANAJEMEN HUMAS ( 1 ) MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN ( 1 ) MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MANAJEMEN SDM PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) MANAJEMEN STRATEGIK ( 1 ) MATA KULIAH ( 5 ) METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN ( 1 ) PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN ( 6 ) PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( 2 ) PENGEMBANGAN KURIKULUM ( 1 ) PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN ( 1 ) PERENCANAAN PEMBELAJARAN ( 1 ) PERENCANAAN PENDIDIKAN ( 1 ) PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI ( 3 ) PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ( 1 ) SEJARAH PERADABAN ISLAM ( 3 ) SEMINAR NASIONAL ( 1 ) SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ( 1 ) STATISTIKA PENDIDIKAN ( 1 ) STRATEGI PEMBELAJARAN ( 1 ) STUDI FIQIH ( 1 ) STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN ( 1 ) STUDY AL-QURAN DAN HADITS ( 1 ) SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM ( 1 ) TEKNOLOGI ( 1 ) TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ( 1 ) TEOSOFI ( 1 ) TIPS & TRIKS ( 1 )

Instagram

  • Home

Labels

  • ADMINISTRASI KEUANGAN
  • AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
  • APLIKASI ICT
  • BAHASA INDONESIA
  • BAHASA INGGRIS I
  • BAHASA INGGRIS II
  • BIMBINGAN DAN KONSELING
  • DASAR-DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
  • DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM
  • DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
  • DONWLOAD NOVEL
  • DOWNLOAD
  • DOWNLOAD EBOOKS
  • DOWNLOAD MAKALAH
  • EVALUASI PEMBELAJARAN
  • FILSAFAT ILMU
  • ILMU ALAMIAH DASAR
  • INOVASI PENDIDIKAN ISLAM
  • KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM
  • MAGANG I
  • MAGANG II
  • MANAJAJEMEN DIKLAT
  • MANAJEMEN HUMAS
  • MANAJEMEN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
  • MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
  • MANAJEMEN SDM PENDIDIKAN ISLAM
  • MANAJEMEN STRATEGIK
  • MATA KULIAH
  • METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
  • PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
  • PENELITIAN TINDAKAN KELAS
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
  • PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
  • PERENCANAAN PEMBELAJARAN
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN
  • PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI
  • PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
  • SEJARAH PERADABAN ISLAM
  • SEMINAR NASIONAL
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
  • STATISTIKA PENDIDIKAN
  • STRATEGI PEMBELAJARAN
  • STUDI FIQIH
  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
  • STUDY AL-QURAN DAN HADITS
  • SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM
  • TEKNOLOGI
  • TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
  • TEOSOFI
  • TIPS & TRIKS

Popular Posts

  • STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN
    STUDI KEBIJAKAN PENDIDIKAN Kebijakan publik adalah segala peraturan dan tindakan pemerintah yang disusun serta dilaksanakan untuk ke...
  • PENGEMBANGAN KURIKULUM
    PENGEMBANGAN KURIKULUM Sebenarnya yang berkembang adalah diri yang menjadi sasaran kurikulum SDM adalah ruh Kurikulum = menu Definis...
  • PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH)
    PERENCANAAN PENDIDIKAN (ISTILAH-ISTILAH) Perencanaan ( Planning ) -> ada persiapan Keinginan -           Tidak ada persiapan ...
  • STUDI FIQIH
    Studi Fiqih Fiqih -           Furu’ (cabang) -           Pendapat (berubah-ubah). Contoh: aneka ragam macam sholat. -           Agar...

Blog Archive

  • ►  2018 ( 9 )
    • ►  February ( 9 )
  • ▼  2017 ( 68 )
    • ►  November ( 12 )
    • ▼  October ( 54 )
      • PENELITIAN TINDAKAN KELAS
      • MILEA SUARA DARI DILAN
      • DILAN Bagian Kedua (Pidi Baiq)
      • DILAN 1 (shabrinabachtiar)
      • PERENCANAAN PEMBELAJARAN
      • STRUCTURE OF ON ARTICLE
      • DESAIN LOGO
      • BIMBINGAN DAN KONSELING
      • PENGEMBANGAN SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
      • MANAJEMEN HUMAS
      • DOWLOAD MAKALAH SEMESTER 5
      • DOWLOAD MAKALAH SEMESTER 4
      • DOWLOAD MAKALAH SEMESTER 3
      • DOWNLOAD MAKALAH SEMESTER 2
      • DOWNLOAD MAKALAH SEMESTER 1
      • PENGEMBANGAN KURIKULUM
      • METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
      • STUDI FIQIH
      • STRATEGI PEMBELAJARAN
      • PENYAJIAN DATA
      • MANAJEMEN STRATEGIK
      • TYPES OF GENRE
      • ADMINISTRASI KEUANGAN
      • SEJARAH BAHASA INDONESIA
      • DOWNLOAD EBOOKS SMA/MA KELAS 10
      • DOWNLOAD EBOOKS SMP/MTs KELAS 7
      • PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
      • SEJARAH LAHIRNYA PANCASILA
      • TIPS & TRIKS
      • EKOLOGI DAN EKOSISTEM
      • TEKNOLOGI
      • DOWNLOAD EBOOKS PT
      • DASAR-DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
      • SEMESTER 5
      • SEMESTER 4
      • SEMESTER 3
      • SEMESTER 2
      • SEMESTER 1
      • TEOLOFI, TASAWUF, FILSAFAT
      • METODOLOGI TAFSIR (PARADIGMA, PENDIDIKAN, DAN METODE)
      • LAPORAN OBSERVASI MAGANG I DI PONDOK PESANTREN ANW...
      • SMART ISLAMIC EDUCATION LEADERSHIP IN GLOBAL AREA
      • NILAI-NILAI ILMU
      • KEPEMIMPINAN DALAM SUPERVISI PENDIDIKAN
      • PENGELOLAAN DIKLAT
      • ASAS, UNSUR, FAKTOR DAN OBJEK PENDIDIKAN ISLAM
      • STAFFING, PIMPINAN DAN KEPEMIMPINAN LPI
      • SELEKSI DAN ORIENTASI SUMBER DAYA MANUSIA
      • KEKUASAAN, POLITIK, DAN KEPEMIMPINAN
      • BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
      • PROFIL NABI: DEFINISI DAN MACAM-MACAMNYA
      • INOVASI TENTANG PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI BERBASI...
      • KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN YANG TRANFORMASIONAL
      • KEBIJAKAN PENDIDIKAN NASIONAL
    • ►  September ( 2 )

Copyright ©

Blogger Templates
POHON ILMU . All Rights Reserved.