TEOSOFI
Teosofi berasal dari bahasa Yunani, Teos yang artinya Tuhan
dan Sofia yang artinya hikmah, kebijaksanaan, kearifan, Wisdom atau
Whysheid. Jadi theosofia yang kemudian berubah menjadi teosofi
artinya menjadi kebijaksanaan Tuhan/
Ilahi, God’s Wisdom atau Godelyk Whysheid. Bila dijabarkan lebih lanjut maka artinya
segala ilmu, filsafat dan pelajaran tentang kebijakan illahiah.
Menurut KBBI teosofi adalah ajaran
dan pengetahuan kebatinan (semacam falsafah atau tasawuf) yang sebagian besar
berdasarkan ajaran agama Buddha dan Hindu.
1. Teologi
(keyakikan)
Teologi
(keyakinan) timbul karena kepercayaan yang berasal dari agama. Dengan demikian,
teoogi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan
keyakinan beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan
Tuhan.
a.
Pengetahuan atau Informasi (علم اليقين)
b.
Pernyataan atau fakta (عين اليقين)
c.
Pribadi menyangkut rasa (حق اليقين)
2. Tasawuf (hati,
jiwa, nafsu)
Tasawuf
adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa (sesuatu yang tidak
tampak) yang sarananya adalah hati.
a.
Lapisan Hati
HATI
KIRI
|
1.
Dada
(صدر)
2.
Hati
(قلب)
|
Lapisan Hati
Terdiri dari 7 Lapisan:
1)
Lapisan Harta
2)
Lapisan Sahwat
3)
Lapisan Tahta
4)
Lapisan Jiwa Manusia
5)
Lapisan Nafsu Api/Nar
6)
Lapisan Tempat Iblis
7)
Lubuk Hati/ Nur Muhammad
7
lapisan ini mengendalikan otak kecil manusia kanan dan kiri baru di proses
melalui otak besar. Maka terjadilah perbuatan baik dan buruk[1].
Ada
empat istilah yang digunakan Al-Quran dalam menunjukkan makna hati, yaitu,
shard, Qolb. Fuad atau afidah dan albab. Istilah-istilah inimengambarkan
lapisan-lapisan hati manusia dan kecenderungannya, baik ataupun buruk. Kalau
seseorang menggunakan hatinya dalam arti shard, qalb dan fuadnya, maka ia bias
baik dan bias juga buruk. Tetapi kalau ia menggunakan albab, maka orang itu
sudah pasti baik.
1.
Shadr Berarti Hati Bagian Luar
Kerena
pengertiannya sebagai hati bagian luar, maka istilah sadr biasa pula diartikan
sebagai dada. Hanya dada disini tidak hanya berarti fisik, tetapi juga non
fisik, seperti aqal dan hati. Ini kerena menurut Amir An-Najr, sadr merupakan
pintu masuknya segala macam godaan nafsu, penyakit hati dan juga petunjuk dari
Tuhan. Sadr juga merupakan tempat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam dirinya
manusia.
Dada
adalah wilayah pertempuran utama antara kekuatan positif dan negatif dalam diri
kita, tempat kita di uji dengan kecendrungan-kecendrungan nagatif nafsu. Kalau
sisi positif itu yang dominan, maka dada dipenuhi oleh cahaya dan berada dalam
pengawasan jiwa ilahi. Tapi jika sebaliknya yakni sisi negatif yang dominan,
seperti dengki, syahwat, keangkuhan, atau kepedihan, penderitaan atau tragedi
yang berlangsung lama, maka dada akan dilingkupi oleh kegelapan. Hati akan
mengeras dan cahaya bhatiniyah menjadi redup.
Selain
itu, kata “shadr” atau dada dalam bahasa Arab seakar dengan “akal”, yakni
tempat seluruh pengetahuan yang dapat dipelajari dengan dikaji, dihafalkan dan
usaha individual serta dapat didiskusikan, ditulis atau diajarkan kepada orang
lain. Pengetahuan yang tersimpan dalam hati tersebut pengetahuan laur atau
pengetahuan diuniawi, kerena ia berguna untuk mencari penghidupan dan efektif
dalam menangani urusan-urusan duniawi.
Kemudian Maulana Jalaluddin Rumi menyebutkan dua
proses pengetahuan itu sebagai kecerdasan utuh dan kecerdasan buatan.
Kecerdasan buatan buatan memiliki banyak tingkatan yang berbeda, tetapi
masing-masing memperolah pengetahuannya di luar. Sedang kecerdasan utuh
didapatkan dari dalam. Kemudian sebagai bukti bahwa kata shadr tidak hanya
berarti dada secara fisik, tetapi juga non fisik, yaitu hati dan akal
dijelaskan dalam firman Allah SWT, diantaranya terdapat surat Al-Araf ayat 2
dan Al-An’am ayat 125.
2.
Qalb Berarti Hati Bagian Dalam
Kemudian lapisan hati yang kedua adalah Qolb, yang
dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kalbu atau hati. Hubungan antara Qolb
dengan Shadr ialah bahwa Qolb merupakan sumber mata air, sedangkan Shadr
diibaratkan sebagai danaumnya, atau shadr merupakan lapangan bagi Qolb.
Nabi Muhammad bersabda bahwa ada dua jenis
pengetahuan, yaitu pengetahuan lidah dan pengetahuan hati, pengetahuan yang
benar-benar berharga. Masyarakat modernn sekarng terdahulu menekannkan pada
pengetahuan lidah, yaitu pengetahuan pengetahuan yang dipelajari, salah satu
tingkat kecerdsan buatan.
Hati berisakan prinsip-prinsip pengetahuan yang
mendasar. Ia bagaikan air yang mengisi kolam pengetahuan dalam dada. Hati
adalah akar dan dada merupakan cabang yang diberikan makan oleh hati.
Pengetahuan bathiniyah dari hati atau pengetahuan luar dari akal sama-sama
penting. Pengeahuan luar mencakup informasi kita yang kita perlukan untuk
bertahan, termasuk keahlian profesional, maupun kecerdasan yang dibutuhkan untuk
membentuk keluarga. Ia juga diperlukan dalam upaya menjalani kehidupan yang
bermoral dan etis yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.
3.
Fuad Atau Afidah Berarti Hati Yang Lebih Dalam
Selanjutnya lapisan hati yang ketiga adalah “fuad”
atau “afidah”. Dalam bahasa Arab kata “fuad” berarti hati, tetapi letaknya
lebih dalam dari Qolb, srhingga kata “fuad” biasa dikatakan sebagai “hati yang
lebih dalam”
Qolb dan fuad berkaitan erat dan pada waktu tertentu
hampir tidak dapat dibedakan. Qalb mengetahui, sedangkan fuad melihat. Mereka
saling melengkapi, seperti halnya pengetahuan dan penglihatan. Jika pengetahun
dan penglihatan dipadukan, maka yang gaib manjadi nayat dan keyakinan kita akan
menjadi kuat.
4.
Albab Berarti Hati Yang Paling Dalam Atau Hati Sanubari Atau
Hati Nurani.
Akhirnya, lapisan hati yang paling dalam ialah Albab.
Kata “albab” merupakan jamak dari kata “lubb”. Dalam bahasa Arab katab “lubb”
berarti racun, akal, hati, inti. Dan sari. Sedang dalam tasawwuf istilah “lubb”
berarti hati terdalam atau hatinya hati.
Kalau
ada orang hanya menggunakan shadr, Qalb, dan fuad, orang itu bisa baik dan bisa
juga buruk, tapi kalau ia menggunakan albabnya, maka ia pasti baik[2].
b.
Lapisan Nafsu
NAFSU KANAN
|
1.
أمارة
2.
لوامة
|
Lapisan Nafsu
Terdiri dari 7 Lapis
1)
Amarah
Amarah adalah martabat nafsu yang paling
rendah dan kotor di sisi Allah. Segala yang lahir darinya adalah tindakan
kejahatan yang penuh dengan perlakuan mazmumah (kejahatan/keburukan). Pada
tahap ini hati nurani tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya kerana
hijab-hijab dosa yang melekat tebal, lapisan lampu makrifat benar-benar
terkunci. Dan tidak ada usaha untuk mencari jalan menyucikannya. Kerana itulah
hatinya terus kotor dan diselaputi oleh pelbagai penyakit.
2)
Nafsu Lawwamah
Nafsu lawwamah ialah nafsu yang selalu
mengkritik diri sendiri bila berlaku suatu kejahatan dosa atas dirinya. Ianya
lebih baik sedikit dari nafsu amarah. Kerana ia tidak puas atas dirinya yang
melakukan kejahatan lalu mencela dan mencerca dirinya sendiri. Bila buat silap
dia lebih cepat sedar dan terus kritik dirinya sendiri. Perasaan ini sebenarnya
timbul dari sudut hatinya sendiri bila buat dosa, secara automatik terbitlah
semacam bisikan dilubuk hatinya. Inilah yang di katakan lawwamah. Bisikan hati
seseorang akan melarang dirinya melakukan sesuatu yang keji timbul secara
spontan bila terqosad sahaja dihatinya. Cepat rasa bersalah pada Allah
Rasulullah atas keterlanjurannya. Ianya ibarat taufik dan hidayah Allah untuk
memimpinnya kembali dari kesesatan dan kesalahan kepada kebenaran dan jalan
yang lurus.
3)
Mulhamah
Nafsu ini lebih baik dari amarah dan
lawwa-mah.Nafsu mulhamah ini ialah nafsu yang sudah menerima latihan beberapa
proses kesucian dari sifat-sifat hati yang tercemar melalui latihan sufi/
tariqat/ amalan guru lainnya yang mempunyai sanad dari Rasulullah
s.a.w.Kesucian hatinya telah menyebabkan segala lintasan kotor atau
khuatir-khuatir syaitan telah dapat dibuang dan diganti dengan ilham dari
malaikat atau Allah.
4)
Nafsu Mutmainah
Inilah peringkat/ martabat nafsu yang pertama
yang benar-benar direhai Allah seperti yang saudara kita nyatakan di atas. Yang
layak masuk syurga Allah. Maknanya siapa sampai pada maqam ini bererti syurga
tetap terjamin, InsyaAllah.
5)
Nafsu Radhiah
Maqam
ini dinamakan radhiah kerana perasaan keredhaan pada segala ketentuan dan
hukuman Allah. Pada maqam ini sudah tidak ada rasa takut dengan pada bala Allah
dan tak tahu gembira dengan nikmatNya. Sama sahaja. Apa yang penting Allah
redha padaNya. Itu kalau sakitpun dah tak perlu kepada ubat, sebab bagi dia
sakit itulah nikmat kerana dia merasa makin dekat dengan tuhannya. Wang ringgit
sudah sama dengan daun kayu. Emas sama dengan tanah. Dunia sudah dipandang
kecil , malah sudah tidak dipandang lagi sebaliknya dunia yang datang kepadanya.
6)
Nafsu Mardiah
Pada
peringkat ini segala yang keluar darinya semuanya telah diredhai Allah.
Perilakunya, kata-katanya, diamnya semuanya dengan keredaan dan keizinan Allah
belaka. Akan keluar keramat yang luar biasa. Mereka sudah menanam ingatan pada
Allah diteras lubuk hati mereka menerusi cara “khafi-filkhafi”, maknanya secara
penyaksiaan ‘basitiah’ iaitu penyaksian sifat ma’ani Allah yang nyata dan
dizahirkan oleh diriNya sendiri. Af’al diri mereka sudah dinafi dan diisbahkan
secara langsung kepada af’al Allah semata-mata.Jiwa mereka betul-betul sebati,
ingatan mereka terhadap Allah tidak sesaatpun berpisah darinya. Penyaksiaan
terhadap hak sifat Allah jelas baginya sehingga hilang dirinya nya sendiri.
7)
Kamaliah
Maqam ini adalah tertinggi. Maqam ini digelar
sebagai “baqa billah”, Kamil Mukamil”, Al Insan kamil kerana ia dapat
menghimpunkan antara zahir dan batin, yakni ruh dan hatinya kekal kepada Allah
tetapi zahir tubuh kasarnya tetap dengan manusia. Hati mereka kekal dengan
Allah tak kira masa dan tempat, tidur atau jaga sentiasa mereka bermusyahadah
kepada Allah. Ini adalah maqam khawas al khawas. Semua gerak geri mereka sudah
jadi ibadat. Hatta berak kencing mereka, tidur mereka dan sebagainya[3].
3. Filsafat (cara
berfikir)
Filsafat
adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan cara berfikir manusia
secara kritis yang dijabarkan dalam konsep mendasar.
[1] Amansya Maulana Malik Ibrahim, Lapisan nafsu dan
lapisan Hati Manusia, http://kafilah9.blogspot.co.id/2013/05/lapisan-nafsu-dan-lapisan-hati-manusia.html, (Diakses pada tanggal 21 Februari 2017 pukul 5.30).
[2] Sugeng Riyadi,
4 Level Hati, menurut Tafsir
Quran, http://emka.web.id/ke-nu-an/2011/4-level-hati-menurut-tafsir-quran/,
(Diakses pada tanggal 21 Februari 2017 pukul 5. 31 WIB).
[3] Egifebrian, 7 Lapisan Nafsu Manusia, https://egifebriani.wordpress.com/2012/12/27/7-lapisan-nafsu-manusia/,
(Diakses pada tanggal 21 Februari 2017 pukul 5.26 WIB).


No comments :