BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya suatu perusahaan atau suatu organisasi ingin meraih suatu
keadaan di mana dapat meraih untung yang sebesar-besarnya dan menjaga kelangsungan
hidup perusahaan atau organisasi agar selalu dikenal oleh masyarakat.
Keuntungan dan kelangsungan hidup perusahaan atau suatu organisasi tersebut
didapatkan dari hasil kerja yang dilakukan selama kegiatan perusahaan tersebut
berlangsung. Penarikan adalah usaha untuk mencari dan mempengaruhi tenaga kerja
agar mau melamar lowongan pekerjaan yang ada dalam suatu perusahaan. Kegiatan
kerja tersebut pasti akan dilakukan oleh tenaga-tenaga SDM yang memang terlatih
di bidangnya. Maka dari itu perusahaan harus benar-benar memikirkan dengan
serius untuk hal penarikan SDM tersebut. Karena apabila ada kesalahan dalam
penarikan tersebut maka akan susah untuk menggantikannya. Dari semua itu
perusahaan atau suatu organisasi membutuhkan adanya suatu perencanaan penarikan
tenaga kerja. Penarikan tenaga kerja tersebut adalah penarikan sumber daya
manusia dalam arti mencari atau melakukan penarikan tenaga kerja yang
berkualitas. Penarikan dibutuhkan untuk mencapai tujuan, yang di mana di dalam
penarikan tenaga kerja terdapat berbagai macam alternatif yang digunakan untuk
menentukan masa depan perusahaan atau organisasi tersebut. Dalam penarikan
tersebut perusahaan harus menggunakan teori-teori yang sudah ada dalam
penarikan atau pengadaan tenaga kerja dalam suatu perusahaan.
Menghadapi era globalisasi ini banyak orang yang meramalkan apa yang akan
terjadi di masa yang akan datang, di mana pada masa mendatang akan membawa
tantangan dan kesulitan-kesulitan yang
harus dihadapi oleh masyarakat dan negara yang sedang membangun ini.
Walaupun masa mendatang membawa tantangan dan kesulitan, suatu perusahaan
tetap dituntut untuk efektif dalam pengelolaan perusahaannya, karena bila tidak
demikian perusahaan itu tidak dapat bersaing dengan perusahaan lain atau tidak
dapat mengikuti perubahan yang terjadi. Untuk menghadapi tantangan dan
kesulitan tersebut maka aset perusahaan yang paling berharga adalah sumber daya
manusianya. Sumber daya manusia ini berharga, bukan saja untuk tujuan
perkembangan ekonomi, tetapi untuk segala aspek perkembangan kehidupan.
Peranan dan tantangan manajemen sumber daya manusia terus berkembang dan
semakin hari semakin bertambah banyak, beraneka ragam, rumit, fleksibel, dan
penting seiring dengan makin besarnya perusahaan, makin rumitnya tugas yang
harus dikerjakan, makin besarnya dampak lingkungan serta dinamikanya, makin
luas dan besar keterpaduannya dengan lingkungan dan makin besar ketidakpastian
yang harus dihadapi perusahaan.
Pada saat ini pentingnya peranan manajemen sumber daya manusia tercermin dari
kebijaksanaan perusahaan untuk mengatur sumber daya manusianya. Sehingga dapat
berperan besar dalam bekerja sama dan mendukung strategi perusahaan.
Proses untuk mendapatkan, menyeleksi, dan menempatkan tenaga kerja telah
menempati peran yang terpenting bagi perusahaan. Faktor manusia pada
kenyataannya tidak dapat disangkal lagi dan telah disadari merupakan faktor
penentu bila dibanding dengan segala alat pelengkap seperti uang, mesin dan
sebagainya di dalam usaha-usaha perusahaan untuk mencapai tujuan. Oleh karena
itu, tenaga kerja yang cakap adalah salah satu faktor penting bagi
negara-negara yang sedang berkembang dan kurangnya tenaga-tenaga yang cakap
akan menghambat perkembangan tersebut.
Setiap bentuk organisasi atau perusahaan apa pun bentuknya akan membutuhkan
orang-orang dalam melaksanakan setiap fungsi kegiatan yang ada di dalam suatu
organisasi atau perusahaan tersebut. Di dalam organisasi perusahaan, kebutuhan
akan orang-orang sangatlah penting karena menyangkut masalah maju mundurnya
perusahaan.
Oleh sebab itu, seleksi tenaga kerja diperlukan untuk melanjutkan tujuan
organisasi seperti kelangsungan hidup, pertumbuhan atau keuntungan. Seleksi
tenaga kerja dimaksudkan untuk memilih tenaga kerja cakap yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan organisasi di masa sekarang dan yang akan datang. Seleksi
tenaga kerja juga memberikan sarana untuk mencapai tujuan manajemen sumber daya
manusia yang ditentukan dalam perencanaan sumber daya manusia.
Oleh karena itu, semua kebutuhan tenaga kerja harus diketahui secara dini
oleh pemimpin perusahaan, sehingga seleksi tenaga kerja mampu menyediakan
kebutuhan tenaga kerja terhadap lowongan-lowongan jabatan yang disebabkan oleh
perpindahan, adanya jabatan-jabatan baru dan jabatan-jabatan yang kosong.
Proses seleksi dilaksanakan dengan mencari calon karyawan yang memiliki
kemampuan intelegensia yang tinggi, dan tekad yang kuat dalam melaksanakan
pekerjaan. Upaya-upaya peningkatan keterampilan dan kemampuan karyawan
dilakukan oleh perusahaan melalui pengembangan dan pelatihan kerja, guna
menciptakan karyawan yang memiliki etos kerja serta prestasi kerja yang tinggi.
Di mana pada saat ini seluruh produk dipasarkan ke kota-kota di Indonesia
dan perusahaan ini termasuk dalam perusahaan yang cukup besar yang membutuhkan keahlian
sumber daya manusia yang tinggi serta berkualitas, di mana hal tersebut harus
diatasi oleh tenaga kerja yang tingkat kemampuannya tinggi atau kreatif dalam
menjalankan perusahaan. Untuk itu perusahaan membutuhkan tenaga kerja dan
sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas, karena hal tersebut merupakan
faktor penting bagi perusahaan dalam menerapkan strateginya guna mencapai
tujuan perusahaan.
Pada akhirnya, strategi seleksi yang turut mempertimbangkan kecocokan
antara individu dengan perusahaan, di samping faktor pengetahuan, keterampilan,
dan kemampuan yang dimiliki oleh calon karyawan
akan memberikan hasil yang positif bagi perusahaan. Semakin efektif
proses seleksi, semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan pegawai yang tepat
bagi perusahaan. Selain itu, seleksi yang efektif akan berpengaruh langsung
pada prestasi kerja karyawan dan kinerja finansial perusahaan. Dengan demikian
maka pengembangan dan perencanaan system seleksi merupakan hal penting untuk
dilaksanakan setiap perusahaan supaya proses yang berlangsung cukup lama dan
memakan biaya tersebut tidak sia-sia.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan
seleksi dan orientasi SDM?
2.
Apa
saja sumber dan evaluasi penarikan SDM?
3.
Apa
kriteri dan kualifikasi dasar seleksi SDM?
4.
Bagaimana
proses dan kendala seleksi?
5.
Apa
saja faktor yang mempengaruhi penempatan SDM?
6.
Sebutkan
apa saja manfaat orientasi?
C. Tujuan
1.
Mengetahui pengertian seleksi dan orientasi SDM
2.
Mengetahui sumber
dan evaluasi penarikan SDM
3.
Mengetahui kriteria
dan kualifikasi dasar seleksi SDM
4.
Mengetahui proses
dan kendala seleksi
5.
Mengetahui faktor
yang mempengaruhi penempatan SDM
6.
Mengetahui manfaat
orientasi
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Seleksi dan
Orientasi
a. Pengertian Seleksi
Seleksi adalah proses memilih dari sekelompok pelamar orang yang
paling sesuai untuk posisi tertentu dan untuk organisasi.[1]
Seleksi merupakan suatu proses dimana suatu
organisasi memilih orang atau orang-orang yang terbaik dari suatu daftar
pelamar yang memenuhi kriteria seleksi untuk posisi-posisi yang tersedia untuk
diisi (Ivancevich, 1992 dan Byars & Rue, 1997). Hal ini mengandung arti
bahwa, semua program seleksi pada dasarnya berusaha mengidentifikasi pelamar
yang memiliki peluang tertinggi untuk memenuhi atau (bahkan) melampaui standar
kinerja organisasi.
b. Pengertian Orientasi
Orientasi mengenalkan karyawan baru dengan organisasi, dengan
tugas-tugas baru, manajer dan dengan kelompok kerja. Selain itu, orientasi
merupakan proses memberi tahu kepada karyawan baru tentang apa yang diharapkan
dari mereka dipekerjakan dan membantu mengatasi stres di masa transisi.[2]
Orientasi berarti penyediaan informasi dasar berkenaan dengan perusahaan
bagi pegawai baru, yaitu informasi yang mereka perlukan untuk melaksanakan
pekerjaan secara memuaskan. Informasi dasar ini mencakup fakta-fakta seperti
jam kerja, cara memperoleh kartu pengenal, cara pembayaran gaji dan orang-orang
yang akan bekerja sama dengannya. Orientasi pada dasarnya merupakan salah satu
komponen proses sosialisasi pegawai baru, yaitu suatu proses penanaman sikap,
standar, nilai, dan pola perilaku yang berlaku dalam perusahaan kepada pegawai
baru.
2.
Sumber dan Evaluasi Penarikan SDM
a.
Sumber
Penarikan Sumber Daya Manusia
Pada dasarnya sumber penarikan
SDM dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu dari dalam dan dari luar perusahaan.
1)
Penarikan
SDM dari dalam perusahaan, adalah kebijakan penarikan SDM yang lebih
mengutamakan atau memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi karyawan yang
sudah ada dalam perusahaan. Penarikan dari dalam perusahaan dapat dilakukan
dengan cara berikut:
a)
Promosi,
pemindahan, rotasi atau mutasi
a)
Penempatan
yang berasal dari cabang-cabang
b)
Personalia
dalam percobaan, magang atau bekerja sementara
c)
Penempatan
kembali karyawan yang sudah bebas bekerja
d)
Penempatan
kembali karyawan yang sudah pension
2)
Penarikan
SDM dari luar perusahaan, adalah kebijakan penarikan SDM yang lebih
mengutamakan atau memberi kesempatan kepada masyarakat luar. Penarikan SDM dari
luar perusahaan dapat dilakukan dengan cara:
a) Pelamar
langsung (walk ins), artinya pelamar datang langsung ke perusahaan
dengan membawa surat lamaran permohonan pekerjaan.
b) Rekomendasi
dari karyawan yang sudah bekerja. Dengan cara ini berarti calon pelamar sudah
mengenal karyawan dalam perusahaan yang akan diminta rekomendasi.
c) Iklan
(advertensi). Penggunaan iklan dalam pencarian tenaga kerja banyak
diterapkan oleh perusahaan-perusahaan besar dengan memasang iklan yang agak
lebar, sedangkan untuk perusahaan-perusahaan kecil biasanya dilakukan pada
iklan mini dengan ruang lingkup iklan yang agak kecil.
d) Kantor
penempatan tenaga kerja. Di Indonesia kantor penempatan tenaga kerja di tangani
oleh Departemen Dinas Tenaga Kerja. Di samping itu ditangani juga oleh pihak
swasta sebagai bursa tenaga kerja.
e) Lembaga
Pendidikan, menarik SDM melalui lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah,
perusahaan akan mendapatkan calon tenaga kerja yang berkualitas.
f) Organisasi
atau serikat pekerja. Perusahaan dapat menarik tenaga kerja dengan keterampilan
tertentu melalui organisasi karyawan atau serikat pekerja yang ada di perusahaan.
g) Lembaga
penyalur tenaga kerja.
h) Penarikan
dari perusahaan lain atau membajak. Dewasa ini sering terjadi perpindahan
karyawan dari satu perusahaan ke perusahaan lain dianggap menjanjikan balas
jasa yang lebih tinggi dan lebih baik.
i) Penarikan
SDM langsung ke tempat asal mereka. Suatu cara penarikan SDM yang biasa
dilakukan oleh perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja kasar.
j) Nepotisme
adalah cara penarikan SDM lewat sanak keluarga, family, terutama pada
perusahaan kecil, perseorangan dan perusahaan milik keluarga.
Walaupun
banyak sumber tenaga kerja yang tersedia, namun dalam kenyataannya pekerjaan
merekrut tenaga kerja tidak mudah dilaksanakan. hal ini disebabkan bahwa dalam
menentukan sumber tenaga kerja yang tepat sesuai dengan kebutuhan diperlukan pengalaman
dari perusahaan. Oleh karena itu, dalam menarik SDM baik dari dalam maupun dari
luar perlu dipertimbangkan hal-hal berikut: 1) pengaruh kebijakan penarikan
terhadap sikap dan tindakan para karyawan, 2) tingkat spesialisasi yang
diinginkan oleh perusahaan, 3) tingkat partisipasi yang diinginkan dari
karyawan, 4) mobilitas tenaga kerja.[3]
b.
Evaluasi
Tidak semua perusahaan
berhasil dengan baik dalam proses penarikan SDM. Oleh karena itu sumber-sumber penarikan,
baik dari dalam maupun dari luar perusahaan senantiasa harus dievaluasi untuk
mendapatkan tenaga kerja yang cakap, dan memenuhi persyaratan sesuai dengan yang
telah ditetapkan. Keberhasilan program penarikan SDM dapat dinilai dengan
melihat berbagai kriteria, yakni:
1) Banyaknya pelamar yang memasukkan lamarannya ke
perusahaan,
2) Banyaknya pelamar yang diterima.
3) Banyaknya penempatan karyawan yang berhasil dalam
melaksanakan tugas pekerjaannya.[4]
3.
Kriteria dan Kualifikasi Dasar Seleksi SDM
a.
Kriteria Dasar dalam Seleksi Sumber Daya Manusia
Untuk mendapatkan SDM yang berdaya guna dan berhasil guna maka
diperlukan beberapa kriteria sebagai dasar dalam mengadakan seleksi, yakni
sebagai berikut:
1)
Seleksi berpedoman pada analisis jabatan
Dalam
deskripsi jabatan dan spesifikasi jabatan yang merupakan hasil dari analisis
jabatan tercantum rincian tugas dan tanggung jawab serta kriteria yang harus
dipenuhi oleh para pelamar. Oleh karena itu, deskripsi dan spesifikasi jabatan
harus dijadikan pedoman dalam seleksi SDM agar efektivitas pelaksanaan seleksi
dapat dijamin keberhasilannya. Tanpa berpedoman pada analisis jabatan
kemungkinan besar seleksi yang dilaksanakan bertendensi tidak akan berhasil
dalam menentukan dan memilih SDM sesuai dengan yang diharapkan.
2)
Seleksi harus efektif dan efisien
Proses
seleksi harus dilaksanakan tepat sesuai dengan alokasi dana, waktu dan rencana
yang telah ditetapkan. Efisien adalah pelaksanaan seleksi memerlukan biaya yang
sesuai dengan anggaran yang tersedia, tetapi dapat memilih SDM dengan tepat.
3)
Seleksi berpedoman pada perencanaan sumber daya manusia
Dalam
perencanaan kebutuhan jumlah SDM tertuang berapa jumlah SDM yang diperlukan
untuk mengisi lowongan pekerjaan yang tersedia. Seleksi mengacu pada banyaknya
SDM yang dibutuhkan tidak terpenuhi oleh calon tenaga kerja atau pelamar maka
seleksi ulang bisa dilaksanakan untuk periode berikutnya sehingga mendapatkan
SDM yang tepat.
4)
Seleksi harus memerhatikan peraturan dan ketentuan yang berlaku
dalam pelaksanaan seleksi harus memerhatikan peraturan.
Dalam
pelaksaan seleksi harus memerhatikan peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Misalnya ketentuan tentang melarang untuk mempekerjakan tenaga kerja di bawah
umur atau tenaga kerja anak-anak. Seleksi juga memerhatikan etika, dan norma
agama dengan menyesuaikan pada kondisi adat istiadat setempat.
5)
Seleksi harus dilaksanakan objektif dan jujur
Objektivitas
dan kejujuran pelaksanaan seleksi menjadi tumpuan harapan bagi para pelamar
karena dengan cara demikian, kepuasan dan keberhasilan seleksi akan dirasakan
dengan penuh kebanggaan. Demikian pula bagi para pelamar yang terpaksa tidak
diterima tidak akan merasa kecewa bila dalam seleksi sudah objektif dan jujur.
Berada dalam pelamar yang tidak diberlakukan secara jujur dan objektif dalam
seleksi akan memberikan cemoohan dan mencaci maki petugas seleksi sehingga
merusak nama baik perusahaan. Para penyeleksi harus berlaku objektif yang lebih
menekankan pertimbangan rasional ketimbang perasaan dan menghitung-hitung uang
sogokan atau suap demi memperkaya diri pribadi dengan mengorbankan profesi
jabatan. Para penyeleksi jujur dalam bertindak terhadap semua para pelamar
tanpa membedakan orang dan tidak menyembunyikan sesuatu yang dianggap merugikan
pihak pelamar atau menguntung segelintir orang pelamar yang dibantunya.
Sifat
kejujuran para penyeleksi tenaga kerja mutlak diperlukan sehingga tidak mudah
disuap untuk meluruskan salah seorang calon tenaga kerja. Apabila terdapat
indikasi para penyeleksi yang tidak jujur, manajer SDM segera harus bertindak
untuk memutasikan, bahkan mendominasikan yang bersangkutan ke pekerjaan lain,
supaya tidak merugikan perusahaan.[5]
b.
Kualifikasi yang Menjadi Dasar Seleksi
Menurut M. Manulang (2001: 101-102) beberapa kualifikasi yang
menjadi dasar proses seleksi adalah sebagai berikut:
1) Keahlian. Dasar keahlian merupakan salah
satu indikator yang menunjukkan kualifikasi utama yang menjadi acuan dalam
seleksi. Keahlian dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu technical skill,
human skill, dan conceptual
skill. Technical skill adalah
keahlian yang dimiliki oleh karyawan pelaksana, human skill dimiliki oleh
pimpinan menengah, dan conceptual skill dimiliki oleh pucuk pimpinan.
2) Pengalaman. Pengalaman cukup penting diperhatikan dalam proses seleksi. Banyak
perusahaan yang mencari tenaga kerja yang sudah berpengalaman antara 2-5 tahun.
Karena calon tenaga kerja yang sudah berpengalaman dipandang lebih mampu dalam
melaksanakan tugas. Tentunya mencari tenaga kerja yang berpengalaman dengan
tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.
3) Umur mendapat perhatian khusus dalam proses seleksi, karena mempengaruhi
kondisi fisik dan mental tenaga kerja, kemampuan kerja dan tanggung jawab.
Pelamar yang berusia sedang ± 30 tahun dengan kualitas yang disesuaikan
diutamakan untuk diterima. Pada umumnya perusahaan menolak memperkerjakan tenaga
kerja berusia lanjut, karena berbagai alasan, antara lain: terlalu lambat
bekerja, kurang kreatif, sukar mendidik dan mengembang, sering markir, dan
sakit-sakitan.
4) Jenis kelamin, menjadi pertimbangan khusus dalam proses seleksi, terutama untuk
sifat pekerjaan tertentu, waktu kerja, dan peraturan pemerintah.
5) Pendidikan dan
pelatihan, yang dimiliki
oleh pelamar akan menentukan
hasil seleksi. Pendidikan meliputi pendidikan bersifat formal (SD sampai
Perguruan Tinggi) dan pendidikan formal, seperti kursus-kursus.
6) Keadaan fisik. Perusahaan senantiasa
mengutamakan tenaga kerja yang sehat jasmani dan rohani, dengan postur tubuh
yang cukup baik. Misalnya untuk jabatan satpam perlu tenaga kerja dengan
kondisi fisik yang prima, sekretaris perlu tenaga kerja wanita yang postur
tubuhnya baik.
7) Tampang, adalah keseluruhan penampilan dan kerapian seseorang yang tampak
dari luar. Tampang diperlukan khusus untuk jabatan tertentu, seperti
sekretaris, satpam, ajudan, humas, pramugari, pelayan toko. Pada umumnya
tampang merupakan kualifikasi tambahan, tetapi amat penting untuk
dipertimbangkan dalam proses seleksi.
8) Bakat, adalah pembawaan yang mudah dikembangkan, cepat menangkap, dan
mengerti. Bakat yang diperlukan dalam proses seleksi adalah bakat nyata, yang
betul-betul bisa dikembangkan dan menonjol.
9) Temperamen, adalah pembawaan seseorang yang tidak dapat dipengaruhi oleh
pendidikan, dan lingkungan dan berhubungan langsung dengan sifat emosi.
Temperamen merupakan sifat yang mempunyai dasar yang bersumber dari faktor
jasmani, seperti periang, tenang, bersemangat pemarah, pesimis, bersuara keras,
dan pendiam.
10) Karakter. Karakter seseorang dapat di ubah melalui pendidikan dan
lingkungan. Dengan demikian dalam proses seleksi karakter sangat penting
dipertimbangkan untuk memperoleh calon tenaga kerja yang berkualitas tinggi.
Meskipun terdapat sepuluh poin dasar kualifikasi dalam proses seleksi, namun
harus dicatat bahwa tidak semua kualifikasi tersebut dimiliki oleh pelamar.
Kualifikasi tersebut perlu dipertimbangkan untuk tiap-tiap jabatan tertentu.[6]
4.
Proses dan kendala seleksi
a.
Proses
seleksi
1)
Penerimaan
pendahuluan
Seleksi
dimulai dengan kunjungan calon pelamar ke bagian personalia atau dengan
permintaan tertulis untuk aplikasi. Bagaimana penerimaan pertama ditangani
telah mulai membentuk pendapat pelamar tentang perusahaan.
2)
Pemeriksaan
berkas lamaran
Tim
penyeleksi menyeleksi surat-surat lamaran yang telah diterima sesuai dengan
syarat yang telah ditetapkan. Lamaran yang tidak memenuhi syarat berarti gugur.
Bagi pelamar yang memenuhi syarat akan di panggil untuk menghadap manajer
personalia untuk mengikuti seleksi berikutnya. Dari informasi ini dapat
diperoleh data yang nyata sehingga memudahkan penyeleksi untuk mendapatkan
calon yang sesuai untuk menduduki suatu jabatan.
3)
Tes
pekerjaan
Tes
ini berguna untuk mendapatkan informasi data calon karyawan yang disesuaikan
dengan spesifikasi jabatan atau pekerjaan yang akan diterima.
4)
Wawancara
seleksi
Bertujuan
untuk mengetahui tingkat kemampuan si pelamar. Dan juga untuk memperoleh data
yang lebih mendalam tentang kemampuan si pelamar agar dapat memutuskan apakah
si pelamar diterima atau ditolak.
5)
Pemeriksaan
latar belakang dan referensi
Maksudnya
adalah untuk memperoleh informasi tentang perilaku pelamar pada masa lalu dan
untuk memeriksa kebenaran yang diberi pada formulir lamaran.
6)
Tes
kesehatan
Memeriksa
kesehatan fisik si pelamar yang biasanya dilakukan oleh dokter perusahaan
bertujuan untuk melindungi perusahaan dari masuknya penyakit menular,
mendapatkan pelamar yang sesuai persyaratan kesehatan untuk pekerjaan tertentu
dan juga menekankan biaya perawatan kesehatan karyawan dan asuransi jiwa.
7)
Wawancara
dengan atasan langsung
Atasan
langsung merupakan orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan pekerja baru.
Atasan langsung mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan karena mereka
mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi kecakapan teknis pelamar dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari pelamar tentang yang dijalani secara lebih tepat.
8)
Ulasan
pekerjaan yang sebenarnya
Sebelum
karyawan diterima bekerja akan diberitahukan mengenai jenis pekerjaan,
peralatan yang digunakan dan keadaan dari perusahaan ini untuk menghindari
ketidakpuasan karyawan setelah karyawan itu diterima.
9)
Keputusan
penerimaan
Ini
merupakan tahap terakhir dari proses seleksi. Di mana atasan langsung yang akan
memutuskan diterima atau ditolaknya
pelamar setelah menjalani serangkaian proses penyeleksian untuk menjadi
karyawan tetap.
b.
Kendala-kendala
Seleksi
1)
Tolok
Ukur
Kendala tolok ukur adalah kesulitan untuk
menentukan standar tolok ukur yang akan dipergunakan mengukur
kualifikasi-kualifikasi seleksi secara objektif. Misalnya, mengukur kejujuran atau kesetiaan. Bobot nilai yang diberikan
sering disandarkan pada pertimbangan subjektif saja.
2) Penyeleksi
Kendala penyeleksi adalah kesulitan mendapatkan penyeleksi yang
benar-benar qualified, jujur, dan objektif penilaiannya.
3) Pelamar
Kendala pelamar adalah kesulitan untuk mendapatkan jawaban yang jujur
dari pelamar. Mereka selalu berusaha memberikan jawaban mengenai hal-hal yang
baik saja tentang dirinya sedangkan hal-hal yang kurang baik diselesaikan. Hal
ini terjadi karena pelamar adalah manusia yang mempunyai pikiran, kepintaran,
dan keahlian untuk mengelabui penyeleksi.
Untuk mengurangi kendala-kendala ini diperlukan kebijaksanaan seleksi
secara bertingkat karena semakin banyak tingkatan seleksi yang dilakukan maka
semakin cermat dan teliti penerimaan karyawan.[7]
5. Faktor yang mempengaruhi
penempatan SDM
Dalam rangka menempatkan SDM yang telah
diangkat dan lulus dari seleksi maka memungkinkan sangat berpengaruh terhadap
kelangsungan hidup perusahaan. Dalam
melakukan penempatan SDM, perusahaan ingin agar dapat meningkatkan efisiensi,
efektivitas, dan produktivitas yang tinggi bagi perusahaan dan bagi SDM yang
bersangkutan. Efisiensi dalam arti agar perusahaan yang sudah banyak
mengeluarkan biaya seleksi tidak terlalu banyak mengalami kerugian. Efektif maksudnya
agar SDM dapat bermanfaat dan mempunyai nilai tambah bagi perusahaan. Produktif
maksudnya agar SDM dapat segera memberikan kontribusinya bagi kepentingan
perusahaan. Oleh karena itu sebelum menempatkan tenaga kerja di tempat mereka
bekerja terlebih dahulu mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut.
a.
Latar
Belakang
Pendidikan
Latar belakang pendidikan mempunyai kaitan erat dengan hasil
seleksi yang telah dilaksanakan oleh manajer SDM, SDM yang memiliki latar
belakang pendidikan tertentu biasanya akan terlihat
prestasinya pada seleksi tentang bidang yang dikuasainya. Dengan kata lain
hasil seleksi dapat memperkuat dan meyakinkan manajer SDM untuk menempatkan
orang yang bersangkutan pada tempat kerja yang tepat. Di samping itu latar
belakang pendidikan dengan prestasi akademis yang diraihnya dapat menjadi acuan
pemberian beban kerja dan tanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan. Prestasi
akademik yang telah dicapai oleh tenaga kerja selama mengikuti jenjang
pendidikan harus mendapat pertimbangan dan penempatan, di mana tenaga kerja
seharusnya melaksanakan tugas dan pekerjaan serta mengembang wewenang dan
tanggung jawab. Prestasi akademik yang menjadi pertimbangan bukan saja prestasi
pada jenjang pendidikan terakhir, tetapi lebih dari itu dengan melihat
perkembangan prestasi akademis selanjutnya
Selain prestasi akademik yang pernah dicapai selama pendidikan
prestasi yang diperoleh dalam seleksi harus pula mendapatkan pertimbangan untuk
menempatkan tenaga kerja. Prestasi seleksi itulah sebenarnya dapat dibuktikan
secara langsung oleh manajer SDM khusus membidangi kegiatan seleksi dalam hal
memperoleh dan menghimpun data yang berhubungan dengan tenaga kerja. Tentu saja
ada akibat yang timbul bila penempatan SDM kurang mengacu pada latar belakang
pendidikan, antara lain:
1)
Timbul
rasa tidak puas pada diri SDM yang bersangkutan
2)
Tenaga
kerja/SDM tersebut lambat menyesuaikan diri dengan pekerjaannya
3)
Perusahaan
belum dapat mengharapkan apa-apa dalam waktu dekat dari SDM; dan
4)
Kemungkinan
terjadinya perputaran SDM yang tinggi, akibat banyak tenaga kerja yang
meninggalkan pekerjaan karena didampingi tidak cocok.
b.
Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja pada pekerjaan yang sama yang
telah dialami sebelumnya perlu mendapatkan perhatian dan pertimbangan dalam
penempatan tenaga kerja. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya kecenderungan makin
lama bekerja makin banyak pengalaman yang dimiliki oleh tenaga kerja yang
bersangkutan. Pengalaman bekerja banyak memberikan kecenderungan bahwa yang
bersangkutan memiliki keahlian dan keterampilan yang relatif tinggi. Sebaliknya
terbatasnya pengalaman yang dimiliki akan makin
rendah tingkat keahlian dan keterampilannya. Perusahaan akan memperoleh nilai
tambah apabila SDM atau tenaga kerja yang diterimanya sudah memiliki pengalaman
bekerja. Pengalaman bekerja yang sudah dimiliki seseorang lebih banyak
membantunya dalam mengerjakan sesuatu dibandingkan dengan pendidikan yang
diikutinya.
Pengalaman bekerja yang dimiliki oleh seseorang kadang-kadang lebih
dikagumi dari pada tingkat pendidikan yang menjulang tinggi. Ada pepatah yang
mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman kerja merupakan
modal utama bagi seseorang untuk memulai suatu bidang pekerjaan. Sedang tenaga
kerja yang sudah memiliki pengalaman bisa langsung memegang suatu tugas atau
jabatan, mereka hanya memerlukan sedikit waktu untuk penyesuaian dan
latihan. Oleh sebab itu, perusahaan-perusahaan dewasa ini memiliki kecenderungan
untuk menerima tenaga kerja yang sudah berpengalaman, bahkan semua iklan tenaga
kerja /lowongan kerja yang dipasang dapat dijadikan acuan ketika melakukan
proses penempatan tenaga kerja. Hal ini terlihat pada kenyataan bahwa tenaga
kerja yang sudah mempunyai pengalaman lebih besar peluang untuk diterima dalam
seleksi dan perlu sedikit waktu untuk penyesuaian dan pekerjaannya yang baru.
c.
Kesehatan Fisik dan Mental
Tes kesehatan berdasarnya laporan dari dokter yang dilampirkan pada
surat lamaran pekerjaan dan tes kesehatan khusus yang diselenggarakan dalam
seleksi tenaga kerja tidak menjamin benar-benar yang bersangkutan sehat jasmani
dan rohani. Kadang-kadang hasil pengujian kesehatan yang dilakukan oleh tim
dokter yang formalitas saja. Oleh karena itu, faktor kesehatan fisik dan mental
perlu mendapatkan pertimbangan dalam penempatan tenaga kerja. Karena tanpa
pertimbangan yang matang pasti akan muncul hal-hal yang dapat merugikan perusahaan.
Pekerjaan-pekerjaan yang berat dan berbahaya hanya mungkin
dikerjakan oleh orang-orang yang mempunyai fisik sehat dan kuat. Demikian juga
pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan tingkat kejujuran yang tinggi diperlukan
orang-orang yang memiliki mental yang sehat. SDM yang fisiknya lemah, tetapi
berotak cerdas dapat ditempatkan pada
bidang administrasi, pembuatan konsep-konsep atau perhitungan dan
analisis yang memerlukan tekanan dan kecerdasan yang luar biasa. Usahakan
pekerjaan yang akan dilakukan sesuai dengan kemampuan fisik dan mental agar
tidak menimbulkan permasalahan-permasalahan.
d.
Status Perkawinan
Untuk mengetahui status perkawinan tenaga kerja adalah hal yang
sangat penting. Selain untuk kepentingan tenaga kerja, juga sebagai bahan
pertimbangan manajer tenaga kerja dalam menempatkan tenaga kerja
bersangkutan. Missal tenaga kerja wanita
yang telah bersuami dan mempunyai anak perlu mendapat pertimbangan.
Sebaiknya tenaga kerja tersebut tidak ditempatkan jauh dari tempat tinggal
suaminya. Kadang-kadang status perkawinan SDM juga menjadi bahan pertimbangan
dalam penerimaan SDM dan penempatannya. Karena banyak pekerjaan memerlukan
tenaga kerja dengan status perkawinan yang mensyaratkan SDM yang belum menikah.
Apabila penempatan SDM yang tidak mempertimbangkan status perkawinan akan bisa
menimbulkan berbagi macam masalah antara lain:
1) Tenaga kerja tidak akan bisa bekerja dengan aman, tenang, dan
efektif;
2) Tenaga kerja tersebut selalu mencari dan memanfaatkan kesempatan
untuk keluar kantor, bahkan sering bolos;
3) Menurunkan semangat dan gairah kerja; dan
4) Kemungkinan besar dapat merangsang lembaga kerja bisa keluar dari
perusahaan dan mencari pekerjaan lain yang dekat dengan tempat tinggal/dekat
dengan suami.
e.
Faktor Umur
Dalam rangka penempatan tenaga kerja, faktor usia kerja yang lulus
dalam seleksi perlu mendapatkan pertimbangan. Hal ini untuk menghindarkan
rendahnya produktivitas tenaga kerja yang bersangkutan. Tenaga kerja yang usia
agak tua atau yang sudah pensiun sebaiknya ditempatkan pada pekerjaan yang
tidak begitu mempunyai risiko dan bahaya tinggi dan tanggung jawab berat.
Dengan demikian, tenaga kerja usia tua ditempatkan pada pekerjaan dengan
tuntutan fisik yang ringan. Sebaliknya tenaga kerja dengan usia yang masih muda
dan energik diberikan tugas dan pekerjaan yang lebih berat dan risiko yang
lebih besar. Dari segi fisik tenaga kerja muda masih prima dan mampu
melaksanakan tugas yang berat.
f.
Faktor Jenis Kelamin
Jenis kelamin tenaga kerja perlu menjadi bahan pertimbangan dalam kesempatannya.
Untuk pekerjaan yang membutuhkan gerak fisik tertentu yang lebih cocok adalah
tenaga kerja pria. Seperti satpam, waker, tukang kebun, pesuruh,
sedangkan untuk pekerjaan sekretaris, loket pelayanan kasir, penerima tamu,
lebih cocok adalah wanita. Demikian juga untuk pekerjaan malam hari, lebih
cocok tenaga kerja pria, karena tenaga kerja wanita yang di pekerjakan di malam
hari lebih banyak mendatangkan risiko tinggi dari pada manfaat yang
diperolehnya.
g.
Minat dan Hobi
Dalam penempatan tenaga kerja perlu mempertimbangkan minat dan hobi
yang bersangkutan. Bagi tenaga kerja yang melaksanakan tugas dan pekerjaan
sesuai dengan minat dan hobinya akan bekerja walaupun penuh dengan tantangan dan
rintangan dan bahkan berani mengorbankan apa yang ada pada dirinya untuk
pekerjaan. Oleh karena itu, diusahakan agar menempatkan tenaga kerja sesuai
dengan minat dan hobinya.
6.
Manfaat Orientasi
Adapun
manfaat dari orientasi antara lain:
a.
Mengurangi
perasaan diasingkan, kecemasan, dan kebimbangan pegawai.
b.
Dalam
waktu yang singkat dapat merasa menjadi bagian dari organisasi.
c.
Hasil
lain untuk pegawai yang baru diorientasikan adalah
1)
Cukup
baik
2)
Tingkat
ketergantungannya kecil
3)
Kecenderungan
untuk keluar juga kecil
4)
Selanjutnya,
program orientasi juga akan mempercepat proses sosialisasi[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian sebelumnya, Penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1. Seleksi adalah proses memilih dari sekelompok pelamar orang yang
paling sesuai untuk posisi tertentu dan untuk organisasi.
2. Orientasi
merupakan proses memberi tahu kepada karyawan baru tentang apa yang diharapkan
dari mereka di perkerjakan dan membantu mengatasi stres di masa transisi.
3. Ada dua sumber penarikan SDM, yaitu penarikan SDM dari
dalam perusahaan dan penarikan SDM dari luar perusahaan. Untuk mendapatkan
tenaga kerja yang sesuai persyaratan maka sumber-sumber penarikan harus
dievaluasi dengan melihat berbagai kriteria, yakni 1) Banyaknya pelamar yang
memasukkan lamarannya ke perusahaan, 2) Banyaknya pelamar yang diterima, 3) Banyaknya
penempatan karyawan yang berhasil dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.
4. Proses seleksi sangat penting untuk mendapatkan calon
tenaga kerja yang tepat sesuai dengan persyaratan jabatan dengan memberikan
penilaian akan sifat, watak, dan kemampuan para pelamar yang dibutuhkan.
5. Dalam melakukan penempatan SDM, perusahaan ingin agar
dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas yang tinggi bagi
perusahaan dan bagi SDM yang bersangkutan. Oleh karena itu sebelum menempatkan tenaga kerja di tempat mereka
bekerja terlebih dahulu mempertimbangkan beberapa factor, seperti: latar belakang pendidikan,
pengalaman bekerja, kesehatan fisik dan mental, status perkawinan, umur, jenis
kelamin, minat dan hobi.
DAFTAR RUJUKAN
I Komang Ardana, dkk. 2012. Manajemen Sumber
Daya Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Kaswan. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia
untuk Keunggulan Bersaing Organisasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Mutiaea S. Panggabean. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia.
R. Wayne Mondy. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga.
Sayyid Al Hafizh Bahri. 2014. Karya Ilmiah, Penarikan,
Seleksi, Penempatan, Dan Orientasi SDM. Sumber: http://kajianilmuekonomiislam.blogspot.co.id/2014/12/penarikan-seleksi-penempatan-dan.html.
Diakses 7 December 2014.
[1] R. Wayne Mondy, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Erlangga, 2008, hlm. 168.
[2] Kaswan, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Keunggulan Bersaing
Organisasi, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012, hlm. 113.
[3] I Komang Ardana, Ni Wayan
Mujiati, dan I Wayan Mudiartha Utama, Manajemen Sumber Daya Manusia, Graha
Mulia, Yogyakarta, 2012, hlm. 58-63
[5] Ibid., hlm. 70-71.
[6] Ibid., hlm. 73-74.
[7] Mutia S. Panggabean, Manajemen
Sumber Daya Manusia, Bogor Selatan: Ghalia Indonesia, 2004, hlm. 33.
[8] Sayyid Al Hafizh Bahri, Karya Ilmiah, Penarikan, Seleksi, Penempatan, Dan
Orientasi SDM, diakses dari http://kajianilmuekonomiislam.blogspot.co.id/2014/12/penarikan-seleksi-penempatan-dan.html, pada tanggal 7 December 2014.

No comments :