BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sumber daya terpenting suatu organisasi adalah
sumber daya manusia yang akan memberikan tenaga, bakat, kreativitas dan usaha
mereka kepada organisasi. Beberapa tugas-tugas kepemimpinan kritis manajer
mencakup penarikan, penyeleksian, pengembangan dan penggunaan sumber daya
manusia dalam mencapai tujuan organisasi. Tanpa sumber daya manusia yang cakap,
organisasi dan manajemen akan gagal. Bagaimana manajer melaksanakan fungsi
penyusunan personalia (staffing) secara efektif akan menentukan sukses
atau kegagalan mereka sebagai manajer. Penyusunan personalia adalah fungsi
manajemen yang berkenaan dengan penarikan, penempatan, pemberian, latihan, dan
pengembangan anggota-anggota organisasi. Penyusunan personalia sangat erat
dengan tugas-tugas kepemimpinan, sehingga pembahasannya, sering ditempatkan
sebagai bagian dan fungsi pengarahan.
Penarikan karyawan-karyawan baru bagi
organisasi akan terus merupakan tantangan bagi semua departemen personalia.
Kadang-kadang kebutuhan karyawan baru diketahui secara jelas sebelumnya karena
rencana-rencana sumber daya manusia disusun dengan baik. Pada saat lain,
departemen personalia sangat diharapkan dengan permintaan yang mendadak untuk
mengisi lowongan secepat mungkin. Dalam kedua kasus tersebut, penarikan pelamar
merupakan proses penting. Proses penarikan penting karena kualitas sumber daya
manusia dalam perusahaan sangat tergantung pada kualitas penarikannya. Jika penarikan
berhasil maka banyak para pelamar yang memasukkan lamarannya sehingga ada
peluang untuk memilih dengan jelas.
Setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin
dan setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya
kelak. Manusia sebagai pemimpin minimal mampu memimpin dirinya sendiri. Setiap
organisasi harus ada pemimpinannya, yang secara ideal dipatuhi dan disegani
bawahannya. Organisasi tanpa pemimpin akan kacau balau. Oleh karena itu, harus
ada seorang pemimpin yang memerintah dan mengarahkan bawahannya untuk mencapai
tujuan individu, kelompok, dan organisasi.
Bagaimanapun
juga, kemampuan dan keterampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor
penting efektivitas manajer. Bila organisasi dapat mengidentifikasi
kualitas-kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk
menyeleksi pemimpin-pemimpin yang efektif akan meningkat. Dan bila organisasi
dapat mengidentifikasikan perilaku dan teknik-teknik kepemimpinan edektif,
organisasi barangkali akan dapat mempelajari berbagai perilaku dan teknik
tersebut akan dicapai pengembangan efektivitas personalia dan organisasi.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
proses penataan staf?
2.
Apa
yang dimaksud dengan perencanaan SDM?
3.
Apa
saja langkah-langkah rekuitmen SDM?
4.
Bagaimana
proses seleksi?
5.
Bagaimana
pendidikan dan pelatihan SDM?
6.
Apa
saja manfaat penilaian SDM?
7.
Bagaimana
upaya peningkatan profesionalisme SDM?
8.
Apa
pengertian dari kepemimpinan?
9.
Apa
saja fungsi utama pemimpin?
10.
Apa
saja gaya kepemimpinan?
11.
Apa
saja faktor-faktor dan efektivitas yang mempengaruhi pemimpin?
12.
Bagaimana
pemimpin yang ideal bagi LPI?
C. Tujuan
1.
Mengetahui proses
penataan staf
2.
Mengetahui perencanaan
SDM
3.
Mengetahui langkah-langkah
rekuitmen SDM
4.
Mengetahui proses
seleksi
5.
Mengetahui pendidikan
dan pelatihan SDM
6.
Mengetahui manfaat penilaian SDM
7.
Mengetahui upaya
peningkatan profesionalisme SDM
8.
Mengetahui pengertian
dari kepemimpinan
9.
Mengetahui fungsi
utama pemimpin
10. Mengetahui gaya
kepemimpinan
11. Mengetahui faktor-faktor
dan efektivitas yang mempengaruhi pemimpin
12. Mengetahui pemimpin
yang ideal bagi LPI
BAB II
PEMBAHASAN
1. Proses Penataan Staf
Proses
penataan staf atau proses penyusunan personalia (staffing process) dapat
dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terus menerus untuk menjaga
pemenuhan kebutuhan personalia organisasi dengan orang-orang yang tepat dalam
posisi-posisi tepat dan pada waktu yang tepat. Fungsi ini dilaksanakan dalam
dua tipe lingkungan berbeda. Pertama, lingkungan eksternal yang meliputi
seluruh faktor di luar organisasi yang secara langsung atau tidak langsung
mempengaruhinya. Dan kedua, lingkungan internal, yang terdiri
unsur-unsur di dalam organisasi. Langkah-langkah proses ini mencakup:
a.
Perencanaan
sumber daya manusia, yang
dirancang untuk menjamin keajegan dan pemenuhan kebutuhan personalia organisasi
b.
Penarikan,
yang berhubungan dengan pengadaan calon-calon
personalia segaris dengan rencana sumber daya manusia.
c.
Seleksi,
mencakup penilaian dan pemilihan di antara
calon-calon personalia.
d.
Pengenalan
dan orientasi, yang
dirancang untuk membantu individu-individu yang terpilih menyesuaikan diri
dengan lancar dalam organisasi.
e.
Latihan
dan pengembangan, program
ini bertujuan meningkatkan kemampuan perseorangan dan kelompok untuk mendorong
efektivitas organisasi.
f.
Penilaian
pelaksanaan kerja, dilakukan
dengan membandingkan antara pelaksanaan kerja perseorangan dan standar-standar
atau tujuan-tujuan yang dikembangkan bagi posisi tersebut.
g.
Pemberian
balas jasa dan penghargaan, yang
disediakan bagi karyawan sebagai kompensasi pelaksanaan kerja dan sebagai
motivasi bagi pelaksanaan di waktu yang akan datang.
h.
Perencanaan
dan pengembangan karier, yang
mencangkup transfer (promosi, demosi atau lateral), penugasan kembali,
pemecatan, pemberhentian atau pensiun (T. Hani Handoko, 2015: 232-233).
2.
Pengertian Perencanaan SDM
Perencanaan
sumber daya manusia merupakan proses di mana manajer bahwa organisasi memiliki
jumlah dan jenis tenaga yang tepat di tempat-tempat yang tepat, dan saat yang
tepat, yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang akan
menolong organisasi tersebut mencapai sasaran-sasaran secara keseluruhan secara
efektif dan efisien (Amirullah dan Haris Budiyono, 2004: 209).
Perencanaan
SDM adalah sebagai proses untuk menentukan jumlah dan jenis manusia yang
dibutuhkan oleh organisasi atau perusahaan dalam waktu dan tempat yang tepat
serta melakukan tugas sesuai dengan yang diharapkan (Ardana, Mijati dan Utama,
2012: 43).
Dari beberapa pendapat di atas, penulis dapat
memberikan kesimpulan bahwa perencanaan SDM adalah proses menentukan jumlah dan
tenaga kerja dalam waktu dan tempat yang tepat serta melakukan tugas sesuai
dengan tujuan yang diharapkan oleh organisasi atau perusahaan.
3.
Langkah-langkah Rekuitmen SDM
Penarikan
(rekruitmen) adalah proses pencarian dan pemikatan para calon karyawan
(pelamar) yang mampu untuk melamar sebagai karyawan (T. Hani Handoko, 2014:
69).
Penarikan
(rekruitmen) tenaga kerja merupakan tindak lanjut dari fungsi manajemen
yang pertama, yaitu pengadaan tenaga kerja. Penarikan atau perekrutan adalah
proses mencari tenaga kerja dan mendorong serta memberikan suatu harapan dari
mereka untuk melamar pekerjaan pada perusahaan. Penarikan adalah proses
pencarian dan pemikiran para calon karyawan yang mau dan mampu untuk melamar
sebagai karyawan (Ardana, Mijati dan Utama, 2012: 57).
Dari
definisi rekruitmen di atas, penulis memilih pendapat T. Hani Handoko
karena relatif mutakhir (2014) dan singkat sehingga mudah diingat.
Ada
sejumlah langkah yang perlu diterapkan dalam proses rekruitmen:
a.
Deskripsi
pekerjaan
Deskripsi pekerjaan merupakan perangkat penting
untuk merekrut pekerja baru dan juga
untuk para pekerja yang ada untuk menggambarkan tanggung jawab khusus mereka.
Sebuah deskripsi pekerjaan:
1)
harus
dibuat secara tertulis, dan menggunakan bahasa yang dimengerti pelamar;
2)
jika
pemohon tidak diharuskan untuk membaca, uraian jabatan dapat dijelaskan secara lisan, baik oleh
seorang manajer, supervisor atau pekerja atau oleh seorang pemimpin kelompok.
Deskripsi tertulis tetap disimpan;
3)
harus
disertai dengan spesifikasi jabatan yang menerangkan keterampilan dan pengalaman yang Anda
inginkan dari pekerja secara rinci. Sebagai contoh jika Anda ingin
memperkerjakan pemotong, mereka akan membutuhkan sedikitnya enam bulan pengalaman
mengoperasikan mesin pemotong sebagai spesifikasi untuk pekerjaan.
b.
Klasifikasi
pekerjaan
Sebelum mengiklankan pekerjaan perusahaan harus
menentukan apa dasar untuk memperkerjakan
pekerja. Sebagai contoh :
1)
full
time: pekerja tetap
2)
paruh-waktu:
bekerja kurang dari seminggu penuh tapi dengan jadwal rutin
3)
sementara/kontrak:
tidak ada jadwal tetap, bekerja sesuai kebutuhan, ini biasanya mencakup
tambahan pada tingkat
gaji jika orang
tersebut tidak mengumpulkan hak cuti dan lainnya.
Penting untuk pekerja mengetahui dasar pekerjaan
yang sedang disajikan kepada mereka
sebelum mereka ditawarkan dan menerima pekerjaan
apa pun. Ini berarti bahwa tidak akan ada kebingungan tentang bagaimana dan untuk berapa lama mereka sedang
bekerja dan mereka mampu membuat keputusan tentang apakah akan menerima
pekerjaan itu jika ditawarkan kepada mereka.
c.
Iklan
pekerjaan
Lowongan pekerjaan dapat diiklankan secara
internal di dalam lingkungan perusahaan atau eksternal secara lokal atau di
dalam industri.
1)
Rekrutmen
Internal
a)
Kelebihan
(1)
Pekerja
menemukan peluang baru dan tantangan, yang meningkatkan moral, mengarah pada
peningkatan produktivitas dan loyalitas.
(2)
Pekerja
sudah tahu bagaimana sistem beroperasi, sehingga pelatihan dan waktu induksi
sangat berkurang, menghemat biaya keseluruhan.
b)
Kekurangan
(1)
Dapat
membuat kekosongan lain di mana orang tersebut akan dipindahkan ke pekerjaan
lain.
(2)
Membatasi
perekrutan pekerja terampil.
(3)
Dapat
mengakibatkan kurangnya ide-ide dan pendekatan baru.
2)
Rekrutmen
Eksternal
a)
Kelebihan
(1)
Kolam
pekerja terampil yang lebih besar.
(2)
Pekerja
Pemahaman, keterampilan dan pengetahuan baru dapat diperkenalkan ke dalam
perusahaan.
b)
Kekurangan
(1)
Menarik
dan memilih karyawan baru lebih sulit.
(2)
Penyesuaian
karyawan baru dan proses induksi lebih lama.
(3)
Semangat
mungkin yang ada berkurang di antara karyawan yang dilimpahkan.
(4)
Biaya
lebih tinggi dari pada rekrutmen internal.
d.
Seleksi
Proses seleksi akan bervariasi tergantung pada
tingkat pekerjaan perusahaan yang sedang merekrut. Sebagai contoh, jika satu
perusahaan sedang merekrut posisi manajerial, perusahaan dapat membentuk panel
untuk meninjau dan wawancara pelamar. Jika perusahaan merekrut operator lini,
dapat dilakukan pengujian keterampilan ketimbang wawancara (Score, 2013: 33-37).
4.
Proses Seleksi
Adapun
proses seleksi, sebagai berikut:
1)
Penerimaan
pendahuluan
Seleksi
dimulai dengan atau dengan permintaan tertulis untuk aplikasi. Bagaimana
penerimaan pertama ditangani telah mulai membentuk pendapat pelamar tentang
perusahaan.
2)
Pemeriksaan
berkas lamaran
Tim
penyeleksi menyeleksi surat-surat lamaran yang telah dierima sesuai dengan
syarat yang telah ditetapkan. Lamaran yang tidak memenuhi syarat berarti gugur.
Bagi pelamar yang memenuhi syarat akan di panggil untuk menghadap manajer
personalia untuk mengikuti seleksi berikutnya. Dari informasi ini dapat
diperoleh data yang nyata sehingga memudahkan penyeleksi untuk mendapatkan
calon yang sesuai untuk menduduki suatu jabatan.
3)
Tes
pekerjaan
Tes
ini berguna untuk mendapatkan informasi data calon karyawan yang disesuaikan
dengan spesifikasi jabatan atau pekerjaan yang akan diterima.
4)
Wawancara
seleksi
Bertujuan
untuk mengetahui tingkat kemampuan si pelamar. Dan juga untuk memperoleh data
yang lebih mendalam tentang kemampuan si pelamar agar dapat memutuskan apakah
si pelamar diterima atau ditolak.
5)
Pemeriksaan
latar belakang dan referensi
Maksudnya
adalah untuk memperoleh informasi tentang perilaku pelamar pada masa lalu dan
untuk memeriksa kebenaran yang diberi pada formulir lamaran.
6)
Tes
kesehatan
Memeriksa
kesehatan fisik si pelamar yang biasanya dilakukan oleh dokter perusahaan
bertujuan untuk melindungi perusahaan dari masuknya penyakit menular,
mendapatkan pelamar yang sesuai persyaratan kesehatan untuk pekerjaan tertentu
dan juga menekankan biaya perawatan kesehatan karyawan dan asuransi jiwa.
7)
Wawancara
dengan atasan langsung
Atasan
langsung merupakan orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan pekerja baru.
Atasan langsung mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan karena mereka
mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi kecakapan teknis pelamar dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari pelamar tentang yang dijalani secara lebih tepat.
8)
Ulasan
pekerjaan yang sebenarnya
Sebelum
karyawan diterima bekerja akan diberitahukan mengenai jenis pekerjaan,
peralatan yang digunakan dan keadaan dari perusahaan ini untuk menghindari
ketidakpuasaan karyawan setelah karyawan itu diterima.
9)
Keputusan
penerimaan
Ini
merupakan tahap terakhir dari proses seleksi. Di mana atasan langsung yang akan
memutuskan diterima atau ditolaknya
pelamar setelah menjalani serangkaian proses penyeleksian untuk menjadi
karyawan tetap (Mutiaea S. Panggabean,
2004: 32-33).
5.
Pendidikan dan Pelatihan SDM
Program
pelatihan merupakan program untuk melatih keterampilan yang dibutuhkan oleh
karyawan. Belajar
mempunyai arti suatu perubahan di dalam perilaku, suatu
perubahan jangka panjang yang berasal dari pengalaman atau latihan. Beberapa
prinsip untuk belajar adalah:
a.
Motivasi
b.
Penguatan
c.
Latihan
d.
Materi yang
relevan, yaitu berguna secara
langsung (Agus Sabardi, 1987: 129).
Tujuan latihan dan pendidikan personalia
adalah:
a.
Untuk
meningkatkan kualitas output.
b.
Untuk
meningkatkan kuantitas output.
c.
Merealisasikan
perencanaan personalia.
d.
Meningkatkan
moral kerja.
e.
Meningkatkan
penghasilan atau kesejahteraan.
f.
Meningkatkan
kesehatan dan keamanan.
g.
Mencegah/menunjang ketuaan.
h.
Untuk
mengembangkan personalia (Made Pidarta, 2004: 115).
6.
Penilaian SDM
Penilaian hendaknya
memberikan suatu gambaran akurat mengenai prestasi kerja karyawan. Untuk
mencapai tujuan ini, sistem-sistem penilaian harus mempunyai hubungan dengan
pekerjaan (job-related), praktis, mempunyai standar-standar dan
menggunakan berbagai ukuran yang dapat diandalkan. Job-related berarti
menilai perilaku-perilaku kritis yang mewujudkan keberhasilan perusahaan.
Sedangkan sistem disebut praktis bila dipahami atau dimengerti oleh para
penilai dan karyawan. Penilaian memerlukan standar-standar pelaksanaan
kerja, dengan nama prestasi yang diukur. Agar efektif, standar hendaknya
berhubungan dengan hasil-hasil yang diinginkan pada setiap pekerjaan. Penilaian
juga memerlukan ukuran-ukuran prestasi yang dapat diandalkan. Berbagai
ukuran ini, agar berguna, harus mudah digunakan, reliabel dan melaporkan
perilaku-perilaku kritis yang menentukan prestasi kerja (T. Hani Handoko, 2014:
139).
Penilaian kinerja karyawan
memiliki manfaat ditinjau dari berbagai perspektif pengembangan perusahaan,
khususnya manajemen SDM, yaitu:
a. Perbaikan kinerja
Umpan balik kinerja
bermanfaat bagi karyawan, manajer, dan spesialis personal dalam bentuk kegiatan
yang tepat untuk memperbaiki kinerja.
b. Penyesuaian kompensasi
Penilaian kinerja membantu
pengambilan keputusan menentukan siapa yang seharusnya menerima peningkatan
pembayaran dalam bentuk upah dan bonus yang didasarkan sistem merit.
c. Keputusan penempatan
Promosi, transfer, dan
penentuan jabatan, biasanya didasarkan pada kinerja masa lalu dan antisipatif,
misalnya dalam bentuk penghargaan.
d. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan
Kinerja buruk
mengindikasikan sebuah kebutuhan untuk melakukan pelatihan kembali. Setiap
karyawan hendaknya selalu mampu mengembangkan diri.
e. Perencanaan dan pengembangan karier
Umpan balik kinerja
membantu proses pengambilan keputusan tentang karier spesifikasi karyawan (
Sjafri Mangkuprawira, 2004: 232).
7.
Upaya Peningkatan Profesionalisme SDM
Untuk menjadi
tenaga yang professional sumber daya manusia diharapkan memiliki satu bidang keahlian yang diperoleh dari
belajar secara formal, menekankan layanan dalam bekerja bukan keuntungan
materi, kode etik, sebagai anggota organisasi profesi dan mendapatkan izin
untuk melakukan tugas. Dalam bidang pendidikan yang dapat dikatakan tenaga
professional ialah dosen, guru yang sudah memiliki kompetensi yang tepat,
dan petugas ahli di kantor-kantor pendidikan yang memiliki ijazah administrasi
pendidikan.
Oleh karena itu sumber daya manusia dalam suatu
organisasi termasuk organisasi pendidikan memerlukan pelatihan dan pengembangan
yang baik dalam upaya meningkatkan kinerja mereka agar dapat memberi sumbangan
bagi pencapaian tujuan.
Pelatihan bagi karyawan merupakan sebuah proses
mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu, serta sikap agar karyawan
semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin baik,
sesuai dengan standar. Biasanya pelatihan merujuk pada pengembangan
keterampilan bekerja (vocational) yang dapat digunakan dengan segera.
Sedangkan pendidikan memberikan pengetahuan tentang subjek tertentu, tetapi
sifatnya lebih umum dan lebih terstruktur untuk jangka waktu yang lebih
panjang. Disisi lain pengembangan memiliki lingkup yang lebih luas (Sjafri Mangkuprawira, 2004: 134).
Istilah pelatihan dan pengembangan merujuk pada
struktur total dari program di dalam dan luar pekerjaan karyawan yang
dimanfaatkan perusahaan dalam mengembangkan keterampilan dan pengetahuan,
utamanya untuk kinerja pekerjaan dan promosi karier. Pengembangan manajemen
merujuk pada program pelatihan dan pengembangan untuk manajer, dan sering tidak
termasuk untuk profesional (seperti ahli mesin, sales, dan akuntan), karyawan
operasional terlatih (seperti juru gambar, pembuat perkakas, dan ahli tata
buku), tenaga semi dan tak terlatih khusus (seperti pengepak barang, pengolahan
tanah, dan pemeliharaan kebun). Setiap sistem pelatihan dan pengembangan yang
bermakna harus terintegrasi dengan strategi SDM dalam perusahaan, jika ingin
hal itu terlaksana secara efektif. Contohnya, integrasi dengan hal penilaian
kerja, promosi, atau sistem pembayaran upah/gaji. Integrasi ini membantu pula
untuk meyakinkan bahwa bantuan strategi pengembangan akan mendukung strategi
personil lainnya (Sjafri Mangkuprawira,
2004:135).
8.
Pengertian Kepemimpinan
Kita
sering mendengar istilah kepemimpinan dan banyak pendapat tentang pengertian
kepemimpinan, antara lain:
1.
Kepemimpinan
merupakan orang yang memiliki kewenangan untuk memberi tugas, mempunyai
kemampuan untuk membujuk atau mempengaruhi orang lain (bawahan) melalui pola
hubungan yang baik guna mencapai tujuan yang telah ditentukan (Amirullah dan Haris
Budiyono, 2004: 245).
2.
Kepemimpinan
merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang-orang lain
agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran (T. Hani Handoko, 2015: 292).
3.
Kepemimpinan
adalah kemampuan untuk mempengaruhi perubahan perilaku orang lain, baik
langsung maupun tidak langsung (Susatyo Herlambang, 2014: 93).
4.
Kepemimpinan
adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama (Husaini
Usman, 2013: 311).
Dari beberapa pendapat di atas, penulis dapat
memberikan kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi
orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.
9.
Fungsi Utama Pemimpin
Pendekatan
perilaku membahas orientasi atau identifikasi pemimpin. Aspek pertama
pendekatan perilaku kepemimpinan menekankan pada fungsi-fungsi yang dilakukan
pemimpin dalam kelompoknya. Agar kelompok berjalan dengan efektif, seseorang
harus melaksanakan dua fungsi utama: (1) fungsi-fungsi yang berhubungan
dengan tugas (“task-related”) atau pemecahan masalah, dan (2)
fungsi-fungsi pemeliharaan kelompok (“group-maintenance”) atau sosial.
Fungsi pertama menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi dan pendapat.
Fungsi kedua mencakup segala sesuatu yang dapat membantu kelompok berjalan
lebih lancar - persetujuan dengan kelompok lain, pengarahan perbedaan pendapat,
dan sebagainya (T. Hani Handoko, 2015: 297).
10. Gaya Kepemimpinan
Gaya
kepemimpinan adalah pola perilaku yang ditunjukkan oleh pemimpin dalam
mempengaruhi orang lain (Ardana, Mijati dan Utama, 2012: 181).
Menurut
Kurt Lewin, Lippit dan White (1939), membedakan ketiga gaya kepemimpinan
sebagai berikut:
1.
Gaya
kepemimpinan yang autocratic.
Pemimpin
menentukan semua kebijakan, kemudian memberikan petunjuk untuk penerapannya.
Hanya pemimpinlah yang perlu dilaksanakan. Pemimpinlah yang menentukan
langkah-langkah dan interaksi yang perlu dilaksanakan. Pemimpin yang autocratic
sering disebut dengan birokrat. Ciri gaya pemimpin seperti ini adalah
memberikan kebebasan kepada staf sesuai dengan batas-batas kebijakannya yang
cukup ketat.
2.
Gaya
kepemimpinan yang democratic.
Pemimpin menyarankan kepada anggota kelompok
untuk mengembangkan keputusannya sendiri. Anggota kelompok diberikan kebebasan
melakukan kegiatan dan berinteraksi satu sama lain, pemimpin hanya memberikan
wawasan kepada anggota kelompok tentang tugas kelompok yang harus dikerjakan
dan langkah yang harus diambil.
3.
Gaya
kepemimpinan laissez faire.
Gaya kepemimpinan ini memberikan kebebasan penuh
kepada kelompok. Dukungan fasilitas dan sumber daya sudah tersedia dan anggota
diminta bekerja secara optimal. Pemimpin hanya bertugas memberikan tanggapan
jika ada pertanyaan yang diajukan kepadanya. Pemimpin dengan gaya laissez
faire disebut juga dengan liberator (Susatyo Herlambang, 2014: 98-99).
11. Faktor-faktor dan Efektivitas
yang Mempengaruhi Pemimpin
Menurut H. Josep
Reitz (1981) faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pemimpin meliputi:
a.
Kepribadian (personality) pengalaman masa lalu dan harapan
pemimpin.
Kepribadian, pengalaman masa lalu dan harapan pimpinan hal ini mencangkup
nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi
pilihan akan gaya. Sebagai contoh, jika ia pernah
sukses dengan
menghormati bawahan dalam pemenuhan kebutuhannya, cenderung akan menerapkan gaya
kepemimpinan yang berorientasi kepada bawahan/orang.
b.
Harapan dan perilaku atasan.
Pengharapan dan perilaku atasan, sebagai contoh atasan yang secara
jelas memakai gaya yang
berorientasi pada tugas, cenderung manajer menggunakan gaya itu.
c.
Karakteristik harapan dan perilaku bawahan.
Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan, mempengaruhi gaya kepemimpinan
manajer. Sebagai
contoh, karyawan mempunyai kemampuan
tinggi biasanya akan kurang memerlukan pendekatan yang direktif dari pemimpin.
d.
Harapan dan perilaku rekan.
Harapan dan perilaku rekan, sebagai contoh manajer membentuk persahabatan
dengan rekan-rekan dalam organisasi. Sikap mereka ada yang merusak reputasi, tidak
mau kooperatif, berlomba mempeterbitkan sumber daya, sehingga mempengaruhi
rekan-rekannya (Nanang
Fattah, 1996: 98).
12. Pemimpin yang Ideal Bagi LPI
Pemimpin
yang ideal adalah pemimpin yang dapat memenuhi tuntutan-tuntutan sebagai
berikut. Pertama, ia mempunyai pandangan ke muka. Cita-cita yang menjadi
penghubung antara dia dan bawahannya dijabarkannya sedemikian rupa sehingga
karyawan mengerti dengan jelas, menarik hari dan diyakini sebagai suatu yang
dapat dicapai. Kedua, ia merasakan dirinya sebagai milik para karyawan,
bukan hanya milik anak dan istri/suami, bahkan juga milik dirinya sendiri.
Pemimpin itu pelayan. Ketiga, pandangan hidup yang dianutnya sebanyak
mungkin tercermin pada pola sikap dan tingkah lakunya. Keempat, ia peka
dan tanggap terhadap perkembangan anggotanya melebihi kepekaannya terhadap hal
yang menyangkut diri pribadinya. Kelima, ia tangkas berpikir dan
bertindak, terutama menangkap momentum dan manfaatkannya, dengan perhitungan
cermat. Keenam, ia tahu membedakan hal-hal yang prinsipil dan yang dapat
dikompromikan, untuk hal-hal yang prinsipil dia tidak akan mau mengalah. Ketujuh,
ia sadar bahwa ia sangat diperlukan oleh anggotanya, tetapi pada saat yang
sama dia berupaya supaya dia tidak selalu diperlukan. Atas pertimbangan ini,
dia rajin membentuk kader sebagai calon penggantinya. Kedelapan, ia gemar
bermusyawarah dalam suasana yang bebas dan terbit, terutama dalam menentukan
siasat yang akan diambil atau di dalam memecahkan masalah menyangkut
kepentingan anggotanya. Keputusan musyawarah diterima dengan ikhlas walaupun
berlawanan dengan usulnya sendiri. Kesembilan, ia tanggung jawab di dalam
semua tindakan dan tidak akan mengelakkan diri dari tanggung jawab itu dengan
segala risiko. Menurut George R. Terry, ada delapan ciri yang harus dimiliki
seorang pemimpin yang ideal, yakni:
a.
Mempunyai
kekuatan mental dan fisik yang energik.
b.
Mempunyai
emosi yang stabil; tidak cepat marah dan percaya pada diri sendiri.
c. Mempunyai
pengetahuan human relation yang baik.
d. Mempunyai
personal motivasi yang cukup untuk diri sendiri demi kemajuan kepemimpinannya.
e. Mempunyai
kecakapan berkomunikasi (communication skill).
f. Mempunyai
kecakapan untuk mengajar, mendidik, dan mengembangkan anggota.
g. Mempunyai
sosial skill (keahlian dalam bidang sosial) supaya anggota setia dan mendukung
kepemimpinannya.
h. Mempunyai
kecakapan pengetahuan yang luas dalam teknikal dan manajerial (Amirullah dan
Haris Budiyono, 2004: 276-277).
BAB III
PENUTUP
B.
Kesimpulan
1.
Proses
penataan staf atau proses penyusunan personalia (staffing process) dapat
dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terus menerus untuk
menjaga pemenuhan kebutuhan personalia organisasi dengan orang-orang yang tepat
dalam posisi-posisi tepat dan pada waktu yang tepat. Langkah-langkah proses ini
mencakup: Perencanaan sumber daya manusia, Penarikan, Seleksi, Pengenalan
dan orientasi, Latihan dan pengembangan, Penilaian pelaksanaan kerja, Pemberian
balas jasa dan penghargaan, Perencanaan dan pengembangan karier.
2.
Perencanaan SDM adalah proses menentukan jumlah
dan tenaga kerja dalam waktu dan tempat yang tepat serta melakukan tugas sesuai
dengan tujuan yang diharapkan oleh organisasi atau perusahaan.
3.
Penarikan
(rekruitmen) adalah proses pencarian dan pemikatan para calon karyawan
(pelamar) yang mampu untuk melamar sebagai karyawan. Ada sejumlah langkah yang
perlu diterapkan dalam proses rekrutmen: deskripsi pekerjaan, klasifikasi
pekerjaan, iklan pekerjaan, dan seleksi.
4.
Adapun
proses seleksi, yaitu: penerimaan pendahuluan, pemeriksaan berkas lamaran, tes
pekerjaan, wawancara seleksi, pemeriksaan latar belakang dan referensi, tes
kesehatan, wawancara dengan atasan langsung, ulasan pekerjaan yang sebenarnya,
dan keputusan penerimaan.
5.
Tujuan latihan dan
pendidikan personalia adalah: untuk meningkatkan kualitas output, untuk
meningkatkan kuantitas output, merealisasikan perencanaan personalia,
meningkatkan moral kerja, meningkatkan penghasilan atau kesejahteraan,
meningkatkan kesehatan dan keamanan, mencegah/menunjang ketuaan, dan untuk
mengembangkan personalia.
6.
Penilaian hendaknya
memberikan suatu gambaran akurat mengenai prestasi kerja karyawan. Untuk
mencapai tujuan ini, sistem-sistem penilaian harus mempunyai hubungan dengan
pekerjaan (job related), praktis, mempunyai standar-standar dan
menggunakan berbagai ukuran yang dapat diandalkan.
7.
Untuk menjadi tenaga
yang professional sumber daya manusia diharapkan memiliki satu bidang
keahlian yang diperoleh dari belajar secara formal, menekankan layanan dalam
bekerja bukan keuntungan materi, kode etik, sebagai anggota organisasi profesi
dan mendapatkan izin untuk melakukan tugas. Oleh karena itu sumber daya manusia dalam suatu
organisasi termasuk organisasi pendidikan memerlukan pelatihan dan pengembangan
yang baik dalam upaya meningkatkan kinerja mereka agar dapat memberi sumbangan
bagi pencapaian tujuan.
8.
Kepemimpinan
adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.
9.
Fungsi
utama pemimpin, yaitu: fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas (“task-related”)
atau pemecahan masalah, dan fungsi-fungsi pemeliharaan kelompok (“group-maintenance”)
atau sosial.
10.
Gaya
kepemimpinan adalah pola perilaku yang ditunjukkan oleh pemimpin dalam
mempengaruhi orang lain. Menurut Kurt Lewin, Lippit dan White (1939),
membedakan ketiga gaya kepemimpinan yaitu: gaya kepemimpinan yang autocratic,
gaya kepemimpinan yang democratic,
dan gaya kepemimpinan laissez faire.
11.
Menurut H. Josep Reitz (1981) faktor-faktor yang
mempengaruhi efektivitas pemimpin meliputi: kepribadian (personality)
pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, harapan dan perilaku atasan,
karakteristik harapan dan perilaku bawahan, dan harapan dan perilaku rekan.
12.
Menurut
George R. Terry, ada delapan ciri yang harus dimiliki seorang pemimpin yang
ideal, yakni: mempunyai kekuatan mental dan fisik yang energik, mempunyai emosi
yang stabil; tidak cepat marah dan percaya pada diri sendiri, mempunyai
pengetahuan human relation yang baik, mempunyai personal motivasi yang cukup
untuk diri sendiri demi kemajuan kepemimpinannya, mempunyai kecakapan
berkomunikasi (commucation skill), mempunyai kecakapan untuk mengajar,
mendidik, dan mengembangkan anggota, mempunyai sosial skill (keahlian dalam
bidang sosial) supaya anggota setia dan mendukung kepemimpinannya, dan mempunyai
kecakapan pengetahuan yang luas dalam teknikal dan manajerial.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Sabardi, Pengantar
Manajemen (Unit Penerbit dan Percetakan, Yogyakarta, 1987)
Amirullah, Haris Budiyono, Pengantar Manajemen (Graha Ilmu,
Yogyakarta, 2004)
Husaini Usman, Manajemen (Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan) Edisi
4 (Bumi Aksara, Yogyakarta, 2013)
I Komang Ardana, dkk, Manajemen Sumber Daya Manusia (Graha Ilmu,
Yogyakarta, 2012)
Made Pidarta, Manajeman Pendidikan Indonesia (PT Rineke Cipta, Jakarta, 2004)
Mutiaea S. Panggabean, Manajemen Sumber Daya Manusia (Ghalia
Indonesia, Bogor Selatan, 2004)
Nanang Fattah, Landasan
Manajemen Pedidikan (PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1996)
Score, Manajemen Sumber
Daya Manusia (Untuk Kerjasama dan Usaha yang Sukses) (International Labour
Office, Jakarta, 2013)
Sjafri Mangkuprawira, Manajemen Sumber Daya Manusia
Strategik Edisi kedua (Ghalia Indonesia, Bogor, 2004)
Susatyo Herlamabng, Perilaku Organisasi (Cara Mudah Mempelajari
Perilaku Manusia dalam Sebuah Organisasi) (Gosyen Publishing, Yogyakarta,
2014)
T. Hani Handoko, Manajemen Personalia & Sumberdaya Manusia Edisi 2
(BPFE, Yogyakarta, 2014)
T. Hani Handoko, Manajemen Edisi 2 (BPFE, Yogyakarta, 2015)

No comments :